Self Awareness Mencoba Memahami Diri Sendiri

Self Awareness Mencoba Memahami Diri Sendiri


Self Awareness (kesadaran diri) adalah perhatian yang berlangsung ketika seseorang mencoba memahami keadaan internal dirinya. Prosesnya berupa semacam refleksi dimana seseorang secara sadar memikirkan hal-hal yang ia alami berikutnya emosi-emosi mengenai pengalaman tersebut. Dengan kata lain, self awareness adalah keadaan keadaan ketika kita membuat diri sendiri sadar tentang emosi yang sedang kita alami dan juga pikiran-pikiran kita mengenai emosi tersebut.

Kesadaran diri merupakan proses mengenali motivasi, pilihan dan kepribadian kita lalu menyadari pengaruh faktor faktor tersebut atas penilain, keputusan dan interaksi kita dengan orang lain. Kesadaran diri adalah perhatian yang berlangsung ketika seseorang mencoba memahami keadaan internal dirinya.

Kesadaran diri juga merupakan keadaan ketika kita membuat diri sendiri sadar tentang emosi yang sedang kita alami dan juga pikiran-pikiran kita mengenai emosi tersebut. Kesadaran akan diri sendiri yang diawali dengan mengenal diri sendiri dan kemudian memilih menjadi diri sendiri merupakan suatu hal yang sangat penting untuk mengoptimalkan pengembangan diri. Pengembangan diri selalu diawali dengan kesadaran akan apa yang terjadi pada diri sendiri.

Apa pentingnya self Awareness ini bagi dirimu sendiri? Self awareness sangat penting bagi saya pribadi dikarenakan self awareness untuk meningkatkan rasa percaya diri. Meningkatkan rasa percaya diri dimulai dengan bahasan untuk mengenal potensi diri dan hal-hal yang mendukung rasa percaya diri kita mengenal diri, mengolah potensi dan faktor pendukung, lebih bisa menerima diri, menjadi lebih percaya diri, tahu cara mengembangkan diri sendiri.

Bagaimana caranya Anda mengembangkan/meningkatkan Self Awareness? Pertama-tama kita harus mengenal dasar-dasar ketrampilan dalam berhubungan dengan orang lain. Indikasinya dapat dilihat dari meningkatnya hubungan baik dengan orang lain, seperti kesadaran diri, motivasi pribadi, pengaturan diri sendiri, empati, dan kemampuan bersosialisasi..

Selain itu, melatih integritas, berarti sinkronisasi perbuatan dengan nilai, keyakinan dan hati nurani. Seseorang disebut berintegritas jika sikapnya mencerminkan nilai, keyakinan dan hati nuraninya. Apa yang membuat diri sendiri lebih bermakna setiap keberadaannya. Begitulah jiwa 'Sang Aku' dapat dirasakan. Melalui suara hati, jiwa dapat berekspresi sesuai dengan apa yang dirasakan oleh diri sendiri.

Kesadaran diri dapat dibangun dengan mengaktifkan bagian otak yang disebut neokorteks. Ini adalah bagian otak yang terkait dengan penggunaan bahasa. Artinya, untuk meningkatkan kesadaran diri, Anda perlu "membahasakan", mengidentifikasi, dan menamai emosi yang Anda rasakan. Beberapa cara yang bisa dilakukan adalah:

1. I Messages (Pesan "Saya......") Menuliskan atau menyatakan perasaan dengan menggunakan pesan yang diawali dengan "Saya....". Contohnya: "Saya merasa  perilaku Anda sama sekali tidak menghargai kerja keras saya" atau "Saya kecewa dengan keputusan yang kamu buat". I message menyadarkan Anda bahwa kendali dari permasalahan yang terjadi ada di tangan Anda. Anda yang merasakan sebuah emosi, Anda yang menyatakan, dan Anda yang memiliki kendali untuk mengubah keadaan.

2. Berbagai Cara Berbagai Warna Menggunakan berbagai metode untuk melukiskan dan mendeskripsikan perasaan:


Warna, contoh: warna kuning untuk emosi senang, biru untuk sedih, merah untuk marah, dan lain lain. Anda bisa menggunakannya dalam berpakaian, tinta alat tulis, warna font di komputer, dan sebagainya.


Skala, contoh: "Saya cukup merasa bahagia, kira-kira 80 dari 100 lah". Ini memberi gambaran yang cukup terukur kira-kira seberapa kuat intensitas emosi yang Anda alami. Jika Anda bisa mengatakan bahwa kesedihan Anda berskala 50:50, maka tidak ada alasan bagi Anda untuk berlarut-larut dalam kesedihan itu.

Analogi, contoh: "Kalau saya ini gunung, saya sudah mau meletus!". Analogi ini juga bisa digunakan sebagai pengukur intensitas emosi Anda. Bagi orang Indonesia, analogi seperti ini biasanya lebih mudah dipahami karena budaya kita memang banyak mengajarkan simbolisasi dalam bahasa (contoh: bagai kacang lupa kulitnya).


3. Menuliskan kebutuhan yang tidak terpenuhi

Hal ini ditujukan untuk menjelaskan kepada diri sendiri alasan dari emosi yang sedang Anda rasakan. Contoh: ketika Anda marah pada saat staf Anda tidak ikut memikul beban kerja yang sama, Anda bisa menuliskan "Saya ingin dia ikut lembur ketika saya lembur" beserta ebutuhan/keinginan lain yang Anda sadari. Semakin banyak kebutuhan/keinginan yang Anda tuliskan, maka Anda akan semakin menyadari keadaan emosi diri.


4. Menuliskan yang ingin dilakukan

Sebenarnya ini sudah memasuki tahap lanjutan dari Self Awareness. Setelah Anda menyadari emosi-emosi yang sedang dialami, langkah selanjutnya adalah menentukan hal apa yang ingin Anda lakukan selanjutnya terkait dengan emosi tersebut. Pada contoh Anda marah pada staf yang malas-malasan tadi, Anda bisa menuliskan "Saya ingin memotong gajinya kalau pulang lebih cepat lagi" atau "Saya akan langsung menegurnya jika ia menolak penugasan". Dengan menuliskan hal yang ingin dilakukan, Anda memberikan kesempatan bagi otak untuk kembali berpikir: apakah hal-hal tersebut sudah sesuai dan tidak menyalahi norma yang berlaku.

Dengan membiasakan hal-hal di atas, Anda akan bisa merasa lebih nyaman menghayati emosi-emosi Anda tanpa harus larut dan lepas kendali. Nah, setelah Anda belajar banyak tentang emosi dan Self Awareness, tidak ada alasan lagi bagi Anda untuk merasa tidak berdaya ketika dilanda suatu emosi yang kuat. Baik itu emosi negatif, maupun emosi positif. Sekarang Anda sudah belajar untuk membuat diri Anda sendiri menyadari emosi-emosi tersebut. Tinggal separuh langkah selanjutnya dimana Anda merencanakan perilaku yang sesuai untuk mengekspresikan emosi tersebut kepada orang lain. /*


Oleh: 

Dra. Hj. Nana Maznah, M.Psi. Anggota Departemen Pendidikan Umum dan Pelatihan DPP LDII Psikolog - Nuansa Persada Edisi Cetak Januari 2022



0 Komentar