Membentuk Tabiat Baik dengan Perilaku Jujur

Membentuk Tabiat Baik dengan Perilaku


Islam mengajarkan budi pekerti sebagai hal fundamental yang seharusnya dimiliki oleh pengikutnya. Budi pekerti diartikan sebagai kesusilaan yang mencakup segi-segi kejiwaan dan perbuatan manusia. Sedangkan manusia susila adalah manusia yang sikap lahiriyah dan batiniyahnya sesuai dengan norma etik dan moral. Dalam bahasa Arab, budi pekerti disebut dengan akhlak. Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam, 

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَقِ

Innama buistu liutammima makarimal akhlak

Artinya: "Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Al-Baihaqi).

Sudah barang tentu makarimal akhlak mutlak menjadi bagian pribadi muslim. Perilaku baik yang dilakukan secara terus-menerus, konsisten, dan berkesinambungan akan membentuk tabiat, sikap dan jati diri. 

Pembentukan sikap yang paling efektif adalah melalui pengalaman sendiri. Para pakar berusaha mengetahui sampai seberapa jauh perilaku dapat mempengaruhi terbentuknya sikap. Sebagaimana sikap dapat berpengaruh pada perilaku, sebaliknya perilaku pun juga dapat membentuk sikap karena perilaku adalah pengalaman yang paling langsung pada diri seseorang.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الْعَبْدُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

Dari Abdullah bin Mas'ud ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Hendaklah kalian bersikap jujur, karena kejujuran itu akan membawa pada kebaikan, sedangkan kebaikan akan membawa kepada surga. Tidaklah seorang bersikap jujur dan selalu berbuat jujur hingga ia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan hendaklah kalian menjauhi sikap dusta, karena kedustaan itu akan membawa pada kekejian, sedangkan kekejian akan membawa kepada neraka. Dan tidaklah seorang berbuat dusta dan selalu berdusta hingga ia ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta."  HR Timidzi

Bagaimana tentang perilaku dapat mempengaruhi sikap dapat dilihat pada studi eksperimen terkenal dari Zimbardo (1971). Ia membangun sebuah model bangunan penjara. Peserta eksperimen ini adalah sejumlah sukarelawan mahasiswa. Mereka dibagi atas dua kelompok secara acak, yaitu satu kelompok menjadi narapidana dan satu kelompok lagi berperan sebagai petugas penjaga penjara. Dalam waktu singkat masing-masing kelompok menjalankan perannya. Apa yang terjadi? Ternyata, yang menjadi penjaga bersikap keras dan kejam terhadap narapidana, sementara narapidana mencoba memberontak atau bersikap acuh tak acuh. Tercatat bahwa mahasiswa yang paling lembut pun berubah sikap menjadi keras ketika ia berperan menjadi penjaga penjara.

Memainkan peran (role playing) memang suatu perilaku yang berkaitan dengan sikap. Penelitian-penelitian yang dilakukan telah menghasilkan beberapa contoh bagaimana memainkan satu peran dapat menciptakan sikap yang berhubungan dengan peran. Bertindak seperti Anda percaya sesuatu bisa membuat Anda percaya terhadap hal itu.

Misalnya, penelitian menunjukkan bahwa orang yang berpura-pura menjadi korban kanker paru-paru lebih cenderung untuk berhasil dalam usahanya untuk berhenti merokok. Permainan peran itu membuat seseorang lebih mudah untuk menginternalisasikan sikap yang terkait, yang akhimya membuat perilaku yang dibentuk menjadi lebih mudah.

Selain role playing, hal lain yang terkait dengan bagaimana perilaku dapat mempengaruhi sikap adalah atribusi diri (self-attribution). Bertindak dengan cara tertentu dapat membawa kita membentuk korespondensi yang sesuai tentang diri kita sendiri. Misalnya, tersenyum, tanpa alasan yang jelas, tertawa pada sesuatu yang lucu. Tampaknya, bahkan saat kita tahu bahwa kita sedang memainkan peran tertentu, kita akan menginternalisasi sikap atau suasana hati yang mempertahankan peran itu.

Berperilaku baik - akhlakulkarimah - bagi muslim bukan hanya sekedar peran. Lebih dari itu, akhlakulkarimah wajib dimiliki tiap diri muslim yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat. 

عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ وَالْمُتَفَيْهِقُونَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ عَلِمْنَا الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ فَمَا الْمُتَفَيْهِقُونَ قَالَ الْمُتَكَبِّرُونَ

Dari Jabir bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya di antara orang yang paling aku cintai dan yang tempat duduknya lebih dekat kepadaku pada hari kiamat ialah orang yang akhlaknya paling bagus. Dan sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh tempat duduknya dariku pada hari kiamat ialah orang yang paling banyak bicara (kata-kata tidak bermanfaat dan memperolok manusia)." Para shahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling banyak bicara itu?" Nabi menjawab: "Yaitu orang-orang yang sombong." HR Tirmidzi

(PS) 

0 Komentar