LDII Sampit Kalimantan Tengah

Gubernur Jatim Letakkan Batu Pertama di SMA Budi Luhur Jombang


Foto : istimewa

Jatim Newsroom - Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, melakukan peletakan batu pertama pembangunan gedung SMA Budi Luhur, di Pondok Pesantren Gading Mangu, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Sabtu (2/3).
Usai acara peletakan batu, Gubernur Khofifah berterimakasih kepada Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) yang telah mengembangkan pendidikannya dengan menambah ruang belajar untuk siswa. Ia berharap pembangunan gedung sekolah tersebut berjalan lancar dan sukses. 
Menurut Gubernur, anak-anak di Jawa Timur harus mempunyai motivasi untuk bersekolah tinggi. Karena perlu diingat bahwa pendidikan merupakan faktor utama yang menentukan pembangunan dan kemajuan suatu negara. Oleh karenanya semua pihak harus berperan, utamanya orang tua. 
“Ketika kita masuk negara-negara yang maju maka akan kita lihat bahwa pendidikan menjadi faktor utama yang menentukan, begitupun ketika kita berbicara terkait reformasi industri maka pendidikan juga sangat menentukan,” ujarnya. 
Oleh karena itu, kata Gubernur Khofifah, transisi dari SMA ke perguruan tinggi menjadi sangat penting terutama bagaimana memasukkan nilai-nilai, karakter-karakter akhlakul mulia menjadi satu kesatuan dengan seluruh bahan ajar dari lembaga-lembaga pendidikan.
Ketua DPW Lembaga Dakwah Indonesia (LDII) Jatim, Amien Adhy, berharap Pemerintah Provinsi Jawa Timur mendukung pengembangan lembaga pendidikan di Jawa Timur.
“ Meskipun sudah mempunyai gedung sendiri, namun kuota gedung tersebut masih terbatas. Kami berharap dapat dibantu oleh pemerintah  provinsi Jawa Timur karena memang ini merupakan bagian dari upaya mencerdaskan  sumber daya manusia di provinsi Jawa Timur,” ucap Amien.
Pada kegiatan ini juga dihadiri oleh Kapolda Jawa Timur, Bupati Jombang Munjidah Wahab, Unsur Forkopimda, Pejabat , Pengurus yayasan Budi Luhur, dan tamu undangan lainnya.(edi/s)
http://kominfo.jatimprov.go.id/read/umum/gubernur-jatim-letakkan-batu-pertama-di-sma-budi-luhur-jombang

Anak-anak di Jatim Banyak Drop Out di Jenjang SMP, Khofifah : Harus Disisir dan Dievaluasi Sebabnya


TRIBUNJATIM.COM, JOMBANG - Angka partisipasi kasar di Jawa Timur masih ada di angka 7,4 persen.

Hal ini memuat arti bahwa anak-anak di Jawa Timur banyak yang drop out di kelas 1 dan 2 SMP.

Untuk itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa berharap ke depan semua pihak bersinergi agar anak-anak Jawa Timur bisa berpendidikan minimal sudah lulus jenjang menengah atas.

Target itu bisa ditunjang dengan semakin aktifnya peran swasta ikut memajukan pendidikan di Indonesia khususnya Jatim dalam hal pengembangan SMA/SMK.

Karenanya dengan banyaknya pengembangan SMA/SMK, maka penanda bahwa tidak ada lagi anak SMP yang DO," ungkap Khofifah di sela acara Peletakan Batu Pertama Pembangunan Gedung SMA Budi Utomo dan Seminar Pendidikan di Pondok Pesantren Gading Mangu Perak, Jombang, Sabtu (2/3/2019).

Menurutnya, titik-titik dimana anak-anak masih sering DO harus disisir bersama dan dievaluasi penyebabnya.

Selain itu, peran pemerintah, swasta dan orang tua sangat diperlukan sebagai penyemangat untuk bisa memastikan bahwa anak-anak di Jatim bisa sekolah setinggi-tingginya.

"Ketika kita bicara tentang negara maju atau revolusi industri 4.0, maka pendidikan merupakan faktor yang paling utama," terang Gubernur Khofifah.

Khofifah menambahkan, pendidikan SMA/SMK merupakan masa krusial sebelum transisi ke perguruan tinggi.

Terlebih dalam hal pendidikan karakter kebangsaan dan spiritual yang kuat sebagai dasar atau pondasinya.

"Pendidikan karakter ini harus kita introduksi sebagai unsur mulia ke dalam bahan ajar, sehingga generasi kita semakin berkualitas dan berdaya saing," urai Khofifah yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Menteri Sosial pada Kabinet Kerja ini.

Menurutnya, pendidikan karakter saat SMA menjadi penting bagi generasi millenial karena besarnya pengaruh dari luar khususnya lewat gadget.

Karenanya, lewat nilai karakter kebangsaan anak-anak akan bisa saling menghargai, menghormati, dan mengasihi antar sesama.

"Salah satu ciri kuat millenial yakni no gadget no life, yang di dalamnya ada nilai positif juga negatif. Oleh sebab itu, kita harus mampu memilah dan memilihnya dengan baik," pintanya.

Pada kesempatan tersebut, Khofifah juga mengajak 7000 siswa-siswi yang hadir untuk terus berinovasi dan kreatif.

Selain itu, pihaknya juga memberi tantangan agar mereka bisa masuk di sektor maritim dan kelautan karena hampir 85 persen wilayah Indonesia adalah maritim.

"Kami akan mengajak 25 siswa SMK Budi Luhur untuk mengikuti program pendidikan karakter bekerjasama dengan Mako Armada II," tandasnya.

Lebih lanjut disampaikan, Gubernur Khofifah memberikan apresiasi kepada pihak LDII karena telah melakukan pengembangan lembaga pendidikannya. Utamanya dalam hal penambahan ruang belajar bagi siswa-siswi SMA.

"Mudah-mudahan semua sukses, dan anak didiknya memiliki nilai karakter yang mulia sehingga nantinya bisa menjadi bagian pemimpin bangsa," pungkasnya.


Artikel ini telah tayang di Tribunjatim.com dengan judul Anak-anak di Jatim Banyak Drop Out di Jenjang SMP, Khofifah : Harus Disisir dan Dievaluasi Sebabnya, http://jatim.tribunnews.com/2019/03/02/anak-anak-di-jatim-banyak-drop-out-di-jenjang-smp-khofifah-harus-disisir-dan-dievaluasi-sebabnya?page=all.
Penulis: Fatimatuz Zahroh

Editor: Sudarma Adi


Pembangunan SMA Ponpes LDII Jombang, Ingatkan Naiknya Tingkat Intoleransi Generasi Milenial

SURYA.co.id | JOMBANG - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meletakkan batu batu pertama pembangunan untuk pengembangan SMA Budi Utomo di Ponpes Gadingmangu, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (2/3/2019).

Selain meletakkan batu pertama, di ponpes milik Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Jombang itu, Khofifah juga menjadi pembicara kunci pada seminar bertajuk Pendidikan Karakter Bangsa untuk Generasi Milenial di pondok setempat.

Sedangkan pembicara lainnya adalah pakar pendidikan Prof Imam Suprayoga dan Ketua DPP LDII Dr Basseng.

"Kehadiran Ibu Gubernur merupakan motivasi dalam membangun pendidikan karakter di Jombang," ujar Bupati Jombang, Mundjidah Wahab.

Di hadapan lebih dari 7.000 santri Pesantren Gadingmangu dan siswa-siswi SMP, SMA dan SMK Budi Utomo, Khofifah mengatakan gadget merupakan masalah sekaligus berkah.

Menurutnya, dengan fokus pendidikan karakter bangsa, ia memprediksi dalam pendidikan karakter di dalam keluarga besar LDII, fokus adalah membangun generasi yang berkarakter kuat, memiliki nuansa kebangsaan kuat dan spiritualitas kuat pula.

Ia bangga dengan kekerabatan muslimat NU dan muslimat LDII, yang merupakan penyemai karakter generasi masa depan. Dengan pendidikan karakter bangsa tersebut, menurut Khofifah tak ada lagi misintepretasi dalam Pancasila dan UUD 45.

Khofifah juga mengingatkan kurangnya pendidikan karakter bangsa, menunjukkan peningkatan intoleransi pada generasi milenial.
Ia menyebutkan riset UIN Syarif Hidayatullah, menyebut 37,7 persen generasi milenial setuju jihad adalah perang dengan umat yang berbeda kepercayaan.

Mereka juga meyakini tindak kekerasan terhadap minoritas adalah hal yang wajar. Bukan hanya milenial, bahkan guru dan dosen tidak setuju bila pemerintah melindungi minoritas.

"Membangun karakter bangsa dengan demikian sama halnya dengan membangun rasa saling menghargai, menghormati, moderasi dan toleransi sehingga memberi resonansi strategis dalam membangun bangsa," ujar Khofifah.

Khofifah menambahkan, generasi milenial yang dibimbing media sosial sangat mengkhawatirkan. Ia menyebut, salah satu dari delapan ciri generasi milenial adalah no gadget no life!

Tapi generasi X sebagian juga tak bisa pisah dari ponsel.

"Ibu-ibu bangun subuh menyentuh air wudlu atau ponsel duluan? Jadi sebagian generasi X juga berpedoman no gadget no life!," imbuh Khofifah.

Untuk itu baik milenial maupun generasi X harus mampu melihat sisi positif dari ponsel dan media sosial, agar dapat mengonstruksi kehidupannya secara positif pula.

Pemikiran dan kehidupan yang positif bisa jadi bekal Indonesia jadi kekuatan ekonomi nomor enam dunia pada 2030 dan keempat pada 2040.

"Modalnya sudah kelihatan, saya pernah ke Komando Armada Timur, terdapat Kapal Perang I Gusti Ngurah Rai, adalah hasil karya anak bangsa di PT PAL," ujar Khofifah.

Kapal perang canggih itu mampu mendeteksi kapal musuh dari jarak lebih 100 kilometer dan mampu mendeteksi kapal selam ratusan meter di bawah laut.

"Inilah modal besar pembangunan poros maritim yang dicanangkan pemerintah," ujar Khofifah.

Dengan wilayah 85 persen laut dan garis pantai terpanjang nomor dua dunia, Indonesia harus memiliki nilai lebih dalam kemaritiman.

"Dengan potensi laut yang luas, kita tak boleh lagi impor garam. Dan, Jawa Timur akan fokus mendorong swasembada garam nasional," tutur Khofifah.

Khofifah dalam kesempatan itu, melakukan peletakan batu pertama pembangunan gedung SMA Budi Luhur. Gedung itu direncanakan setinggi tiga lantai dan dapat menampung 3.000 siswa.

Ketua DPW LDII Jawa Timur Amien Adhy menyatakan pertumbuhan penduduk 5-6 juta per tahun menjadi beban bagi bangsa. Hal itu terjadi, menurut Amien, bila pertambahan penduduk hanya menghasilkan generasi tak berketerampilan.

"Agar jadi aset bangsa, maka solusinya adalah pendidikan," ujar Amien.

Ia memaparkan pendidikan di abad 21 haruslah pendidikan yang dapat menangkap gerak zaman atau tidak kedaluarsa ketika memasuki dunia kerja.

Namun dunia pendidikan juga tak lepas dari masalah. Amien mencontohkan secara kuantitas, dunia pendidikan menghadapi masalah jumlah gedung, guru dan siswa. Sementara secara kualitatif, masalahnya bagaimana ilmu bisa relevan dengan zaman.

"Peletakan batu pertama ini merupakan jawaban dari sisi kuantitas, dan berikutnya perlu pelatihan bagi guru," ujar Amien.

Menurut Amien, peletakan batu pertama SMA Budi Luhur oleh Gubernur Khofifah Indar Parawansa, secara simbolis menunjukkan LDII berkontribusi menjadikan pertumbuhan penduduk sebagai aset bangsa, bukan beban bangsa.

Ketua Ketua Yayasan Budi Utomo, Wildy Istimror, dana yang dibutuhkan mencapai Rp 18-20 miliar.

Artikel ini telah tayang di surya.co.id dengan judul Pembangunan SMA Ponpes LDII Jombang, Ingatkan Naiknya Tingkat Intoleransi Generasi Milenial, http://surabaya.tribunnews.com/2019/03/02/pembangunan-sma-ponpes-ldii-jombang-ingatkan-naiknya-tingkat-intoleransi-generasi-milenial?page=all.
Penulis: Sutono
Editor: Cak Sur


Gubernur Khofifah Sebut Politik Identitas Menggerus Karakter Bangsa

jatimnow.com - DPW LDII Jawa Timur menggelar seminar bertajuk Pendidikan Karakter Bangsa untuk Generasi Milenial. Acara ini menghadirkan pembicara utama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Sementara pembicara lainnya adalah pakar pendidikan Profesor Imam Suprayoga dan Ketua DPP LDII DR. Basseng, M.Ed.

Seminar pendidikan ini juga digabungkan dengan peletakan batu pertama pembangunan gedung SMA Budi Luhur, di Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang. Sekolah formal ini merupakan bagian dari Pesantren Gadingmangu.  

"Kehadiran Ibu Gubernur merupakan motivasi dalam membangun pendidikan karakter di Jombang," ujar Bupati Jombang Mundjidah Wahab, Sabtu (2/3/2019). 

Menurutnya, pendidikan karakter ini menjamin kerukunan antar umat beragama. Kerukunan dan kebersamaan ini menjadikan Jombang tetap kondusif meskipun dalam suasana Pemilu.

"Saya berharap, masyarakat bisa memilah dan memilih pemimpin yang dapat mengayomi rakyat," papar Mundjidah.

Sementara itu, dalam sambutannya, Ketua DPW LDII Jawa Timur Amien Adhy menyatakan pertumbuhan penduduk 5-6 juta per tahun menjadi beban bagi bangsa. Hal itu terjadi, menurut Amien, bila pertambahan penduduk hanya menghasilkan generasi tak berketerampilan.

"Agar jadi aset bangsa, maka solusinya adalah pendidikan," ujar Amien. 

Ia memaparkan pendidikan di abad 21 haruslah pendidikan yang dapat menangkap gerak zaman atau tidak kedaluwarsa ketika memasuki dunia kerja.

Di hadapan lebih dari 7.000 santri Pesantren Gadingmangu dan siswa-siswi SMP, SMA, dan SMK Budi Utomo, Khofifah mengatakan gadget merupakan masalah sekaligus berkah.

Menurutnya, dengan fokus pendidikan karakter bangsa, ia memprediksi dalam pendidikan karakter di dalam keluarga besar LDII, fokus adalah membangun generasi yang berkarakter kuat, memiliki nuansa kebangsaan yang kuat dan spiritualitas yang kuat pula.

Ia bangga dengan kekerabatan muslimat NU dan muslimat LDII, yang merupakan penyemai karakter generasi masa depan.

Dengan pendidikan karakter bangsa tersebut, menurut Khofifah tak ada lagi misintepretasi dalam Pancasila dan UUD 45. Khofifah juga mengingatkan kurangnya pendidikan karakter bangsa, menunjukkan peningkatan intoleransi pada generasi milenial.

Ia menyebutkan, riset yang dilakukan UIN Syarif Hidayatullah, yang menyebut 37,7 persen generasi milenial setuju jihad adalah perang dengan umat yang berbeda kepercayaan. Mereka juga meyakini tindak kekerasan terhadap minoritas adalah hal yang wajar.

Bukan hanya milenial, bahkan guru dan dosen tidak setuju bila pemerintah melindungi minoritas.

"Membangun karakter bangsa dengan demikian sama halnya dengan membangun rasa saling menghargai, menghormati, moderasi, dan toleransi sehingga memberi resonansi strategis dalam membangun bangsa," ujar Khofifah.

Khofifah menambahkan, generasi milenial yang dibimbing oleh media sosial sangat mengkhawatirkan. Ia menyebut, salah satu dari delapan ciri generasi milenial adalah no gadget no life! Tapi generasi X sebagian juga tak bisa pisah dari ponsel, 

"Ibu-ibu bangun Subuh menyentuh air wudlu atau ponsel duluan? Jadi sebagian generasi X juga berpedoman no gadget no life!," imbuh Khofifah.

Untuk itu baik milenial maupun generasi X harus mampu melihat sisi positif dari ponsel dan media sosial, agar dapat mengonstruksi kehidupannya secara positif pula. Pemikiran dan kehidupan yang positif bisa jadi bekal Indonesia jadi kekuatan ekonomi nomor enam dunia pada 2030 dan keempat pada 2040.

"Modalnya sudah kelihatan, saya pernah ke Komando Armada Timur, terdapat Kapal Perang I Gusti Ngurah Rai, adalah hasil karya anak bangsa di PT PAL," ujar Khofifah. Kapal perang canggih itu mampu mendeteksi kapal musuh dari jarak lebih 100 km dan mampu mendeteksi kapal selam ratusan meter di bawah laut.

"Inilah modal besar pembangunan poros maritim yang dicanangkan oleh Presiden Jokowi," ujar Khofifah. 

Dengan wilayah 85 persen laut dan garis pantai terpanjang nomor dua dunia, Indonesia harus memiliki nilai lebih dalam kemaritiman.

"Dengan potensi laut yang luas, kita tak boleh lagi impor garam. Dan Jawa Timur akan fokus mendorong swasembada garam nasional," ujar Khofifah.

Khofifah dalam kesempatan itu, melakukan peletakan batu pertama pembangunan gedung SMA Budi Luhur. Gedung itu direncanakan setinggi tiga lantai dan dapat menampung 3.000 siswa. Menurut Wildy Istimror Ketua Yayasan Budi Utomo, dana yang dibutuhkan mencapai Rp18-20 miliar.

https://jatimnow.com/baca-12924-gubernur-khofifah-sebut-politik-identitas-menggerus-karakter-bangsa



Khofifah Minta Gadget Digunakan untuk Hal Positif


GUBERNUR Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meminta generasi milenial memanfaat gadget dan media sosial dengan positif sebab gadget bisa menjadi masalah sekaligus berkah.

Hal itu disampaikan Khofifah di hadapan lebih dari 7.000 santri Pesantren Gadingmangu dan siswa-siswi SMP, SMA, dan SMK Budi Utomo, seusai peletakan batu pertama pembangunan gedung SMA Budi Luhur di Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, kemarin.

Khofifah menambahkan generasi milenial yang dibimbing oleh media sosial sangat mengkhawatirkan. Ia menyebut salah satu dari delapan ciri generasi milenial ialah no gadget no life!. Namun, generasi X sebagian juga tak bisa pisah dari ponsel. “Ibu-ibu bangun subuh menyentuh air wudu atau ponsel duluan? Jadi sebagian generasi X juga berpedoman no gadget no life!,” imbuhnya.


Karena itu, baik milenial maupun generasi X, pinta Khofifah, harus mampu melihat sisi positif dari ponsel dan media sosial. Tujuannya agar dapat mengonstruksi kehidupannya secara positif. Pemikiran dan kehidupan yang positif bisa jadi bekal Indonesia menjadi kekuatan ekonomi nomor 6 dunia pada 2030 dan 4 pada 2040.

“Modalnya sudah kelihatan, saya pernah ke Komando Armada Timur, terdapat Kapal Perang I Gusti Ngurah Rai, adalah hasil karya anak bangsa di PT PAL,” ujar Khofifah. Kapal perang canggih itu mampu mendeteksi kapal musuh dari jarak lebih 100 km dan mampu mendeteksi kapal selam ratusan meter di bawah laut.

“Inilah modal besar pembangunan poros maritim yang dicanangkan oleh Presiden Jokowi,” ujar Khofifah. (FL/N-3)

http://mediaindonesia.com/read/detail/220586-khofifah-minta-gadget-digunakan-untuk-hal-positif