Pala, Tanaman Rempah Nusantara dan Sumber Ekonomi

lapang. Salah satu upaya untuk memecahkan masalah tersebut di atas adalah melalui perbanyakan vegetatif secara sambung pucuk (Ruhnayat, 2013; Ruhnayat dan Djauharia, 2013; Ruhnayat dan Wahyudi, 2013; Sirappa dan Susanto, 2015; Ruhnayat et al., 2019). Melalui perbanyakan vegetatif dapat diperoleh benih pala yang telah diketahui jenis kelaminnya sejak di pembenihan, unggul seperti induknya, dan komposisi (sex ratio) dan posisi tanaman jantan dan betina dapat ditentukan pada saat penanaman.  Namun sampai saat ini belum ada informasi mengenai komposisi dan posisi tanaman pala jantan dengan betina yang tepat untuk mendapatkan produksi buah yang optimal. Untuk mendukung produksi dan pengembangan benih pala sambungan diperlukan kebun induk entres dari varietas yang sudah di lepas atau PIT yang telah ditetapkan. Namun sampai saat ini belum tersedia kebun induk pala untuk sumber entres yang diperbanyak secara vegetatif (sambungan). Kebun induk entres yang dikembangkan dari perbanyakan vegetatif merupakan upaya untuk menduplikasi pohon induk varietas yang telah dilepas atau PIT yang telah ditetapkan yang terbatas jumlahnya dan jauh lokasinya dari tempat penyambungan.


Oleh : Prof Dr Ir H  Rubiyo Msi - Ketua DPP LDII Koordinator Bidang Pengabdian Masyarakat (Nuasa Persada Edisi Cetak Mei 2022)

Produktivitas dan permasalahannya 

Rendahnya produktivitas tersebut selain karena cara budidayanya tidak sesuai anjuran juga karena banyaknya tanaman yang tidak berbuah atau tidak produktif karena diperbanyak dari biji. Pala termasuk tanaman berumah dua (dioecious), sehingga dikenal ada tanaman jantan, betina dan berumah satu/hermaprodit. Umumnya perbandingan antara jantan dan betina (sex ratio) di lapang adalah 1: 1 (Rema et al., 2009). Hal tersebut sesuai dengan laporan Dienum (1931) dalam Phadnis dan Choudhari (1971) bahwa dari 100 biji pala yang ditanam yang menjadi pohon betina hanya 55%, sedangkan yang lainnya adalah pohon jantan (40%) dan berumah satu/monoecious (5 %). Satu tanaman pala jantan mampu menyerbuki 20-30 tanaman betina (Chaniago et al., 1976; Thangaselvabai, 2011). Oleh karena itu dalam satu kebun pala sering terjadi kelebihan tanaman jantan/ hermaprodit sangat besar dan posisinya berjauhan dengan tanaman betina sehingga tidak berproduksi secara optimal. Hal tersebut akan merugikan petani karena banyak tanaman pala yang tidak berbuah, dan merupakan salah satu faktor penyebab rendahnya produktivitas pala Indonesia. Diperlukan upaya untuk meningkatkan produktivitas pala Indonesia guna mendukung program Membangkitkan Kembali Kejayaan

Rempah Indonesia. Salah satu upaya untuk mendukung meningkatkan produktivitas pala nasional, maka kelebihan tanaman jantan/ hermaprodit perlu direjuvinasi dengan cara penyambungan dengan batang atas (entres) dari tanaman betina varietas yang telah dilepas atau pohon induk terpilih (PIT) yang telah ditetapkan. Saat ini terdapat 8 varietas pala yang sudah dilepas oleh Kementan yaitu Tobelo 1, Tidore 1, Ternate 1, Banda, Makian, Nurpakuan Agribun, Tiangau Agribun dan Tomandin yang dapat digunakan sebagai sumber entres. Melalui teknologi penyambungan (top working) tanaman pala jantan/hermaprodit sebagai batang bawah dengan batang atas dari varietas yang telah dilepas atau PIT diharapkan jumlah tanaman yang berbuah akan lebih banyak dengan produksi tinggi.

Peningkatan produktivitas diduga juga dapat dilakukan melalui induksi pembungaan pada tanaman pala betina yang kurang produktif dan hermaprodit melalui pemberian senyawa kimia dan perlakuan secara fisik. Hasil penelitian pada tanaman berumah dua (dioecious) lainnya seperti lengkeng (Dimocarpus longan, Lour.), menunjukkan bahwa pemberian senyawa oksidator yang kuat seperti potasium klorat (KCIO3) dan sodium klorat (NaCIO3) serta perlakuan fisik seperti perundukan dan pemangkasan cabang dapat meningkatkan jumlah bunga dan buah.

Salah satu kendala utama pada pengembangan pala saat ini adalah ketersediaan benih yang telah diketahui jenis kelaminnya, sehingga tidak ada kepastian benih tersebut akan berbuah apabila sudah masuk periode generatif di lapang. Salah satu upaya untuk memecahkan masalah tersebut di atas adalah melalui perbanyakan vegetatif secara sambung pucuk (Ruhnayat, 2013; Ruhnayat dan Djauharia, 2013; Ruhnayat dan Wahyudi, 2013; Sirappa dan Susanto, 2015; Ruhnayat et al., 2019). Melalui perbanyakan vegetatif dapat diperoleh benih pala yang telah diketahui jenis kelaminnya sejak di pembenihan, unggul seperti induknya, dan komposisi (sex ratio) dan posisi tanaman jantan dan betina dapat ditentukan pada saat penanaman.

Namun sampai saat ini belum ada informasi mengenai komposisi dan posisi tanaman pala jantan dengan betina yang tepat untuk mendapatkan produksi buah yang optimal. Untuk mendukung produksi dan pengembangan benih pala sambungan diperlukan kebun induk entres dari varietas yang sudah di lepas atau PIT yang telah ditetapkan. Namun sampai saat ini belum tersedia kebun induk pala untuk sumber entres yang diperbanyak secara vegetatif (sambungan). Kebun induk entres yang dikembangkan dari perbanyakan vegetatif merupakan upaya untuk menduplikasi pohon induk varietas yang telah dilepas atau PIT yang telah ditetapkan yang terbatas jumlahnya dan jauh lokasinya dari tempat penyambungan.


0 Komentar