Ketua MUI Jatim


Di Aula DPD LDII Kabupaten Jember 24/11/2021, KH. Abdullah Syamsul Arifin, M.Hi (Gus Aab) mengaji Bab Haji dengan Peluang Pembiayaan Arrum dari Pegadaian Syariah. Ketua DPD LDII Kabupaten Jember, KH. Akhmad Malik,S.P mengaku sangat takdim terhadap sosok guru Gus Aab. Dimana kata Malik, tahun 2013 kantor DPD LDII Kabupaten Jember diresmikan oleh Gus Aab. 

Seminar ini, kata Malik dihadiri juga perwakilan dari Kabupten Banyuwangi, Luamajang dan Bondowoso serta pengurus pleno LDII Jember dan ketua PC dan PAC se kabupaten Jember. Malik menyampaikan rasa syukur dan apresiasi yang tinggi kepada Gus Aab dan Gus Nur yang siap membantu pembiayaan haji. Semoga Alloh memberikan beliau keamanan, kesehatan dan kebarokahan, seraya Malik mendoakan keduanya.


Gus Aab juga mengapresiasi Malik selaku Ketua DPD LDII Kabupaten Jember yang terpilih sebagai ketua. Gus Aab menyampaikan pada MUSDA LDII 2020 saat Malik terpilih sebgai ketua DPD LDII mengikutinya secara virtual. Gus Aab mengetahui Malik dua kali sebagai sekretaris umum LDII Jember. Gus Aab juga mendoakan semoga Malik diberikan kesehatan, kekuatan oleh Alloh dalam mengemban amanah untuk berkhidmat mengayomi, membimbing warga LDII untuk mendapat mardlotilah Alloh SWT.


Gus Aab menyampaikan rasa syukur bahwasanya berada dalam suasana yang baik, dalam rangka silaturahim, berada dalam kekeluargaan yang baik. Bahwa dalam silaturahim atau disebut silatur arham. Yang benar itu ada dua unsur yaitu, silatul aksad dan silatul arwah. Jadi konsolidasi atau ketemu secara fisik dan ketemu secara ruh. Tampaknya karena masa pandemi, aksadnya hilang, ketemunya ruh tok. Untung sekali-kali bertemu secara hybrid.


LDII Jember


Alhamdulillah hari ini kita bisa bertemu secara fisik secara ruh. Dari kita ketemu fisik dan ruh maka akan ada silatul afkar dimana konsolidasi ide, gagasan dan pemikiran bisa sharing membahas satu tema, suatu persoalan yang terkait dengan penguatan hikmah kita lilummah. Dari silatur afkar maka akan lahir silatul af’al yaitu konsolidasi gerakan. Dimana orang bergerak berangkat awal dari berfikir, kemudian muncul pemahaman dari situ lahir kesadaran. Dimana perilaku keagamaan bukan sesuatu yang tampil secara instan.


Berangkat dari silatul arham, silatul afkar dan ada silatul af’al. Tidak ada orang secara tiba-tiba melakukan kegiatan keagamaan yang didorong dari hati yang bersih didorong dengan niat yang luhur. Berawal dari pengetahuan keagamaan, pengalaman dan kesadaran keberagamaan akan lahir aktifitas atau perilaku-perilaku keagamaan.


Gus Aab berharap semuanya dengan dibingkai dalam rangka penguatan keumatan untuk kesempurnaan Islam kita, memperbaiki pola keagamaan kita, utamanya pengabdian kita kepada Alloh dan baiknya hubungan kita dengan sesama umat manusia.


Bahwa problem-problem keumatan, problem-problem masyarakat tidak akan pernah bisa diselesaikan orang perorang atau kelompok perkelompok. Tetapi harus ada gerakan bersama-sama yang dilandasi dengan semangat pengabdian kepada Alloh, hikmah kita kepada umat untuk memperbaiki tataran kehidupan keberagamaan masyarakat yang masing-masing terus meningkat dari aspek kwalitas ibadah maupuan muamalahnya. Kalau bicara bikin pesantren NU jagonya, pesantren NU besar dan santrinya banyak. Kalau urusan bikin rumah sakit, NU harus mau belajar dari Muhammadiyah, karena sekolah dan rumah sakit kita angkat topi terhadap Muhammadiyah. Tapi urusan membangun konsolidasi kemudian kekuatan dalam organisasi, serta send of belonging yang tinggi terhadap organisasi, dan menunjukkan eksistensi, Gus Aab memberikan jempol kepada LDII. Urusan berdakwah, tanpa pamrih dalam berdakwah, kita hormat pada Jamaah Tabligh, mereka sampai membawa kompor sendiri. Tapi kalau ada diskotik nakal, kita serahkan pada FPI walaupun izinnya tidak diperpanjang. Itulah perlunya konsolidasi, kata Gus Aab.


Gus Aab datang ke LDII sebagai ketua MUI Jawa Timur dalam rangka mensolsialisasikan Pegadaian yang salah satunya ada program Pegadaian Syariah. Salah satunya ada program Arrum Haji. Arrum adalah pembiayaan bagi yang ingin berangkat haji. Dimana kesempatan ibadah haji waiting lishnya semakin panjang dan panjang. Saya yakin setiap umat Islam yang ingin menyempurnakan keimanannya dan ketakwaan untuk melaksanakan ibadah haji. Semua pasti ada keinginan, tekad (azzam) untuk melaksanakan ibadah haji. Tidak semua berkesempatan untuk melaksanakan ibadah haji. Bisa karena faktor kesehatan secara fisik, bisa karena faktor regulasi, bisa karena pembiayaan. Ajaran-ajaran Islam seperti dalam surat Al-Maidah ayat 6, bahwa Allah tidak menginginkan sedikitpun kesulitas dalam beragama ini akan tetapi Alloh ingin mensucikan dan menyempurnakan kenikmatannya atas kalian. Tidak ada mutlak-mutlakan Alloh memerintahkan kepada manusia, seperti perintah sholat bila tidak bisa dengan berdiri maka bisa dengan duduk, kalau tidak bisa dengan berbaring, bila tidak bisa dengan isarah, bila tidak bisa maka siap-siap disholati, kata Gus Aab.


Dalam rangka penyempurnaan ibadah kita melalui ibadah haji harus dilakukan usaha dan ihtiar-ihtiar upaya yang kuat. Katagori mampu dan tidak mampu itu tergantung dari keinginan kuat. Kalau kemudian ada solusi-solusi, peluang-peluang atau saah maka peluang atau saah itu perlu kita ambil. Gus Aab menyampaikan mengingat antrian sekarang sangat panjang, yang kita sasar adalah bagaimana anak-anak untuk didaftarkan untuk antri bisa memperoleh porsi haji. Hari ini kalau kita daftar kira-kira berangkatnya kira-kira 30 tahun. Orang itu kalau menunggu kemampuan diri sendiri kemudian, rata-rata mapan itu pada usia di atas 25 tahun. Terus mau daftar hajinya umur berapa? Gus Aab mengajak kepada jamaah untuk menata ulang, berfikir bagaimana sekarang mendaftarkan anaknya dan anaknya mendaftarkan anak-anaknya lagi. Kalau berangkat haji menunggu mapan dan mendaftar haji sekarang umur 40 tahun, lalu kira-kira berangkat hajinya umur 70 tahun. Padahal ibadah haji ini diperlukan kondisi kesehatan fisik yang prima. Bagi Bapak/Ibu yang sudah haji sekarang kita berfikir bagaimana orang tua memikirkan mendafrtarkan haji anak-anaknya.


Gus Aab sering menjadi petugas haji, sering melihat kenyataan bahwa jumlah jamaah haji yang berangkat itu dalam kondisi resiko tinggi, usiaya di atas 60. Ini sangat merepotkan pada petugas, belum bagaimana kesempurnaan ibadahnya sendiri. Bagaimana mau Sai, bagaimana mau bagaimana Dimana kemahnya orang Indonesia 6 sampai 7 km harus jalan kaki ke Jamaro sementara usianya sudah udzur. Kita membantu memudahkan mereka, dan biarkan mereka memikirkan anak-anaknya lagi. Kalau anak-anak kita sekarang berumur 15 tahun, kalau kita daftarkan dan nanti bisa berangkat umur 45 tahun, itu akan sangat membantu memudahkan mereka. Kalau kebetulan kita belum maka sekalian mendatar untuk mendapat porsi bersama anak-anak kita. Kalaupun kita belum mendapatkan panggilan ibadahnya, tetapi tanggung jawab kita sudah selesai. Sementar bagi kita yang sudah mampu tapi belum ikhtiar untuk melakukan ibadah haji, Alloh mengancam dengan menyuruh memilih ketika meninggal dalam keadaan Yahudi atau Nasroni.


Untuk itu Gus Aab mengajak kepada semua jamaah untuk berikhtiar dengan sungguh-sungguh, ukuran kapan Alloh memudahkan keberangkatan itu kita serahkan kepada Alloh. Karena orang haji, menurut Gus Aab ada tiga, haji karena nasab, haji karena usaha sendiri, dan haji karena nasib karena undian atau menjadi petugas haji. Gus Aab menceritakan 3 kali berangkat haji. Umur 17 diajak orang tua pulang ke mekah dan bisa haji, bahkan ditinggal dan menginap di sana. Kemudian setelah menikah, ketika pertama kali mendapat gaji sebagai PNS ditawari orang BRI dengan menitipkan SK. Saat itu berangkat haji masih 20 juta, dengan 50 juta berangkat haji bersama istri, saat itu saya berumur kira-kira 25 atau 27 tahun. Dan ketika umur 30 tahun di berikan kesempatan sebagai petugas haji. Terlepas dari bagaimana cara, tetapi berangkat dari sambutan keinginan yang kuat dan Alhamdulillah setiap tahun bisa berangkat, kata Gus Aab.


Kalau Gus Nur menyampaikan yakinlah bahwa dalam urusan haji, Alloh bukan memanggil itu bukan karena mampu tetapi Alloh akan memampukan orang-orang yang dikehendaki Alloh SWT. Bagaimana kita mendapatkan panggilan, maka ikhtiar kita harus maksimal dengan tidak mengesampingkan sekecil apapun kesempatan. Maka kita harus Melalui ikhtiar dengan peluang apapun seperti pembiaayaan Arrum untuk ibadah haji. Perbanyaklah bersyukur maka Anda akan bahagia, rencanakan ibadah haji maka Alloh akan memudahkan. Apa-apa yang dikeluarkan dalam ibadah haji, maka Alloh akan mengganti apalagi kita memenuhi panggilan Alloh.


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama