TEKNIK DAN ETIKA BERCERAMAH

(Berdasarkan Pengalaman dan Pengamatan)
Oleh: KH. Ubaidillah Al Hasaniy, SE.,M.HI

PREADVIS :

“an educated man must be very diligent and willing to study from his subordinates” (ciri-ciri orang yang beradab ialah, ia sangat rajin dan suka belajar dari orang-orang yang kedudukannya lebih rendah darinya)


PENGANTAR / INTRODUKSI :

Menanggapi keluhan dan laporan para warga LDII di PC / PAC, yang menyatakan bahwa akhir-akhir ini peserta pengajian banyak yang tidak memperhatikan nasehat, bahkan cenderung ngobrol dengan teman di dekatnya.

Maka kiranya kita perlu  introspeksi dan mawas diri serta berusaha untuk meningkatkan teknik nasehat dan cara penyajian materi yang lebih menarik, tanpa mengurangi isi dan bobot nasehat pokok dalam agama yakni tetap Qur’an-Hadits. Sehingga apa yang kita sampaikan itu bisa menjadi “indraft”, yaitu suatu kekuatan menarik keadaan/simpati orang banyak dan bisa menjadi “influence” yang baik sehingga menjadi pengaruh atau daya pada pendengar untuk melakukan sesuatu yang kita sampaikan.

Bahkan perlu dikembangkan dan ditingkatkan  lagi, profesionalisme para muballigh-muballighot dan para da’i LDII agar bisa diterima masyarakat umum, sehingga bisa amar ma’ruf nahi munkar dalam rangka pengembangan Qur’an-Hadits

Sepenggal kalimat dalam Al hadits : “Fainna minal bayani lasihran”, dapat kita pahami bahwa, lafadh “min” artinya sebagian, berarti tidak semua kata-kata ungkapan dalam nasehat mempunyai kapasitas “lasihron”, maka  yang menjadi pemikiran kita sekarang adalah, nasehat/keterangan yang bagaimana yang mempunyai kekuatan “lasihran”…?.

Namun harus kita pahami bahwa kalimat  “sihran” disini bukan berarti “sihir” yang termasuk perbuatan syirik, tetapi yang dimaksud “lasihron” dalam hadits ini adalah bahwa sebagian nasehat itu, mempunyai kekuatan yang luar biasa, sehingga bisa mengetuk lubuk hati yang terdalam, dan selanjutnya bisa merubah pola pikir, pola hidup dan prilaku seseorang kearah yang lebih baik.

Sebagai contoh konkrit, bahwa setiap hari kita membaca dan mengaji Al qur’an, itu sesungguhnya kita sudah tersihir oleh kandungan isi ayat-ayat Al qur’an. Padahal substansi yang sesungguhnya  yang kita baca hanyalah “tinta yang melekat pada kertas” dan kita tidak pernah berpikir tentang tinta dan kertas itu.

Perlu diketahui pula bahwa sesungguhnya otak kita punya dua fungsi. Fungsi Pikiran Sadar (PS) sekitar 20% dan fungsi Pikiran Bawah Sadar (PBS) sekitar 80% yang menghasilkan reflek seperti menarik tangan apabila dekat api. Seperti ketika PS membaca/menderes Al qur’an, tiba-tiba PBS mengedipkan mata untuk membasahi bola mata.

Teknik dan Etika Berceramah yang dimaksud oleh penulis disini adalah spesifik salah satu jenis ceramah, yaitu "Ceramah Agama Islam", dengan gaya penulisan dan pemaparan simpel-praktis.
“Teknik dan Etika Berceramah ini adalah sebagai pelajaran dari orang yang masih belajar, dan sekedar berbagi pengalaman dari orang yang belum berpengalaman”.

I. UMUM

A. PENGERTIAN

Ceramah/Pidato adalah menyampaikan sebuah pesan kepada orang lain dalam forum (pertemuan), baik untuk kepentingan pribadi, sebuah kelompok (organisasi), atau kepentingan sebuah misi khusus.


Ceramah/Pidato adalah merupakan salah satu bentuk cara berdakwah/bertabligh, namun tidak semua berdakwah/bertabligh dengan ceramah/pidato.

Ceramah/Pidato adalah salah satu “Media Dakwah ‘Ammah”, yaitu dakwah yang ditujukan kepada orang banyak dengan maksud menanamkan pengaruh kepada mereka.

Perbedaan antara ceramah dan pidato adalah; Bahwa dalam pidato, komunikasi cenderung terjadi satu arah dari pembicara ke pendengar, sedangkan dalam ceramah sering terjadi komunikasi dua arah atau komunikasi timbal balik.

Bila yang disampaikan adalah pesan agama (Islam), maka lazim disebut dengan “Ceramah Agama” atau “Nasehat Agama” atau “Taushiyah” atau “Mauidhoh Hasanah”.


B. TUJUAN

Ceramah/Pidato bertujuan memberi pengetahuan, pengertian, pencerahan dan atau pemahaman untuk mempengaruhi atau merubah polapikir dan atau pola hidup seseorang kearah yang lebih baik, atau memberikan bekas pada jiwa seseorang, dan atau melegakan hati seseorang terhadap satu urusan dari berbagai urusan.

Ceramah/Pidato juga diharapkan sebagai “Character Building” (pembinaan watak), yaitu untuk menjadikan manusia yang berkepribadian kuat (berkemauan keras), dan baik (bercita-cita tinggi dan mulia) serta berani (membela yang benar dan memberantas yang salah).

Ceramah/Pidato terkadang juga sebagai “Indoctrination” (Indoktrinasi), yaitu pemberian ajaran atau doktrin/santiaji mengenai suatu faham yang sudah diyakini kebenarannya dengan memberikan wawasan secara meluas dan mendalam.


C. SIFAT (Jenis Pidato dari Segi Tujuan)-

( 6 – IF )

1.      Informatif: 

Menyampaikan informasi yang benar-benar baru, yang sebelumnya pendengar belum mengetahuinya.

2.      Motifatif: 

Memberi dorongan dan semangat kepada pendengar agar melakukan sesuatu yang sebenarnya sudah dimengerti, tapi dilalaikan atau enggan melaksanakan.

3.      Persuasif: 

Mempengaruhi pendengar bahwa keyakinan dan pola pikir mereka selama ini kurang benar bahkan mungkin salah, untuk diarahkan pada kebenaran yang sejati.

4.      Konsolatif: 

Memberi hiburan, kesenangan, kegembiraan, kesegaran.

5.      Instruktif: 

Memberi perintah, anjuran, himbauan, harapan.

6.      Edukatif; 

memberi pengetahuan kepada pendengar yang menekankan pada aspek-aspek pendidikan, misalnya tentang pentingnya hidup sehat, hidup rukun antar umat bergama dan lain-lain.


II. SKILL

A. 5 KATEGORI PENCERAMAH 

( 3 AL-2 TIK )

1.      Tradisional: Lugu, apa adanya, yang penting pendengar bisa mengerti dan memahami.

2.      Profesional (ahli; berbakat): Penyampaian materi tepat guna dan berkualitas.

3.      Intelektual (cendekiawan; intelegensia; orang terpelajar): Bahasa penyampaian dan pemaparan materi secara ilmiyah.

4.      Karismatik (berwibawa, punya credibility/kredibilitas/kepercayaan): Sebab jabatan, keturunan atau popularitas.

5.      Artistik (seni; indah) : Penyampaian menarik, menghibur, mengesankan.


B. MODAL PRIBADI PENCERAMAH

1.      Bakat (sebagai modal dasar)

2.      Ilmu Pengetahuan (sebagai modal utama) 

3.      Pengalaman (sebagai modal pengembangan)

4.      Mental (sebagai modal percaya diri/Self Confidence) 

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                               

C. BAHAN MATERI CERAMAH (Sebagai Referensi dan Argumentasi)

1.      Dalil-dalil Al qur’an dan Al hadits (sebagai landasan utama)

2.      Fatwa Ulama’, Ilmuwan, Orang bijak (sebagai perangkai dan penguat)

3.      Artikel-artikel menarik, benar, bisa dipertanggungjawabkan (sebagai pelengkap dan pembanding)


D. TRI SUKSES PENCERAMAH ( 3 - M )

1.      Menguasai materi: Yang disampaikan tidak menyimpang dari tema dan pokok bahasan serta target yang diharapkan.

2.      Menguasai panggung/majlis/pahargyan: Membuat pendengar fokus satu pandangan dimana penceramah menyampaikan orasinya.

3.      Menguasai hati audience: Membuat pendengar konsentrasi bahkan terpaku dan hanyut dalam setiap untaian kalimat penceramah.


E. TANGGA SUKSES PENCERAMAH ( 3 - D )

1.      Diterima: Tidak ada reaksi atau gejolak negatip dari pendengar.

2.      Dikenang : Selalu berkesan dan melekat di hati pendengar.

3.      Dipraktekkan: Dikerjakan, dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.


F. EFEK CERAMAH ( 3 – TIF )

1.      Efek Kognitif (mengubah pikiran): Menjadikan pendengar bertambah ilmu pengetahuan dan kepahamannya, seperti tidak tahu menjadi tahu, tidak paham menjadi paham, bodoh menjadi pintar.

2.      Efek Efektif (mengubah perasaan): Menjadikan pendengar bisa berubah dari keadaan atau kondisi sebelumnya ke arah yang lebih baik, seperti sedih menjadi gembira, marah menjadi tenang, takut menjadi berani.

3.      Efek Konatif (mengubah prilaku): Menjadikan pendengar ada keinginan atau kemauan untuk melakukan sesuatu yang lebik baik dari sebelumnya, seperti malas menjadi rajin, pasif menjadi aktif, berbuat jelek menjadi berbuat baik.


III. TEKNIS :

A. SISTEMATIKA BERCERAMAH

1.      Salam pembukaan: Berisi salam pembuka dan mukadimah (bahasa Arab)

2.      Pendahuluan: Berisi ungkapan syukur, kata-kata sapaan atau perkenalan.

3.      Materi Inti Ceramah: Pokok pikiran atau gagasan primer yang akan diuraikan atau dipaparkan.

4.      Kesimpulan: Merangkum atau intisari dari materi yang telah disampaikan.

5.      Saran dan harapan: Pesan-pesan khusus atau penekanan isi materi yang telah disampaikan.

6.      Salam penutup: Berisi kata-kata mengakhiri pembicaraan, permohonan maaf, dan salam.


B. KISI-KISI ATAU POKOK-POKOK ISI CERAMAH .......(Materi Ceramah)....?

1.      PROLOG: Ceramah pendahuluan/pembukaan.

2.      PREADVIS: Prasaran; saran pendahuluan; advis pendahuluan; mengemukakan saran lebih dahulu sebelum membahas masalah pokok; pendapat yang dikemukakan.

3.      DEDUCTIONS (DEDUKSI): Proses penalaran yang menyimpulkan sesuatu secara terperinci dari sebuah dalil yang umum; jadi dari yang umum menuju kepada yang  khusus.

4.      CONCLUSION (KONKLUSI): Kesimpulan; wasana kata; pernyataan secara ringkas yang disampaikan seseorang pada akhir suatu uraian sebagai pengunci atau suatu penegasan yang mengandung justifikasi atau pembenaran menurut penalaran penceramah.

5.      MAIN POINT: Butir utama; bagian tertentu dari keseluruhan uraian yang merupakan inti pokok.

6.      EPILOG: Kalimat akhir yang singkat di penghujung ceramah yang biasanya disampaikan melalui pembacaan doa-doa eksklusif sinkron dengan tujuan ceramah serta doa akhir majelis.

7.      (Tambahan) Pembahasan. Bagian ini merupakan kesatuan, yang berisi alasan-alasan yang mendukung hal-hal yang dikemukakan pada bagian isi. Pada bagian isi ini biasanya berisi berbagai hal tentang penjelasan, alasan-alasan, bukti-bukti yang mendukung, ilustrasi, angka-angka dan perbandingan, kontras-kontras, bagan-bagan, model, dan humor yang relevan;(d)Kesimpulan. Ini adalah bagian akhir dari sebuah pidato, yang merupakan kesimpulan dari keseluruhan uraian sebelumnya...........?



C. METODE BERCERAMAH (Cara Berceramah dari Segi Persiapan dan Pelaksanaan)

1.      Metode Manuskrip (Naskah): Dengan membaca teks seperti piadato resmi/pidato kenegaraan)

2.      Metode Memoriter (Menghafal): Dengan menghafalkan naskah yang sebelumnya sudah dipersiapkan)

3.      Metode Ekstemporan: Dengan membawa catatan kecil tentang materi ceramah secara garis besar)

4.      Metode Impromptu: Memberikan ceramah tanpa teks/naskah atau secara tiba-tiba/spontanitas tanpa menggunakan persiapan)


D. 7 AKSI DAN GAYA PENCERAMAH SUKSES DI MIMBAR CERAMAH (7-IF)

1.      Komunikatif: Mengadakan kontak mata dan tatap muka dengan pendengar sehingga selalu terjalin keadaan saling berhubungan (berhubungan timbal-balik) dan pendengar merasa diperhatikan. Kontak mata ini alat terpenting untuk menjaga kesetabilan perhatian audiens dan untuk dapat tampil sewajar mungkin.

2.      Reflektif: Bergerak sepontan, merespon dengan cepat terhadap aksi dan reaksi pendengar dengan cara yang santun dan bijak.

3.      Interaktif: Karena ceramah itu “one way communication” atau komunikasi satu arah, maka sesekali penceramah harus menyapa, mengajukan pertanyaan atau mengajak bicara/dialog dengan pendengar agar terjadi pengaruh timbal-balik.

4.      Atraktif: Beraksi, berekspresi, bergaya sebagai peragaan bahasa lesan dengan gerak isyarat yang bermaksud menunjuk, menawarkan, menolak, membagi atau membedakan. Atau dengan gerakan tubuh yang tidak statis di satu tempat; bisa berbelok ke arah kiri, ke arah kanan bahkan agak ke arah belakang. Ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi pendengar.

5.      Variatif: Tidak monoton, hanya sebatas menuntaskan penyampaian materi tetapi sesekali memberi intermeso dengan joke-joke segar, cerita menarik, lelucon yang tidak dipaksakan dan berlebihan, bersyair indah, dan lain-lain.

6.      Ekspresif: Mengungkapkan perasaan yang dimanifestasikan dengan pantomimik (gerak tubuh dan air muka) yang menggambarkan suatu kegembiraan, kebangaan dan kegamuman atau kesedihan, kekesalan dan keprihatian dengan bahasa yang lembut, gaya bahasa yang menyentuh perasaan serta intonasi yang seimbang. Intonasi atau pola titi nada suara; rendah-tinggi, lambat-cepat, jeda yang sesuai, menimbulkan makna tertentu pada sebuah perkataan atau kalimat sehingga setiap untaian kata penuh makna. Penceramah yang bicara dari hati dan ekspresif akan berdampak merekatkan hubungan emosional dengan pendengarnya.

7.      Agitatif: Menggerakkan atau membangkitkan emosi pendengar dengan ungkapan bahasa provokasi positip, gaya penampilan agak agresif, disertai gerakan-gerakan tangan dan ekspresi yang seimbang dan tidak berlebihan.

 

E. FAKTOR PENUNJANG EFEKTIFITAS DAN KESUKSESAN BERCERAMAH

Dari Individu Penceramah (22 - M) :

1.      Mempunyai prilaku, akhlaq-budipekerti yang baik, luhur dan mulya.  

2.      Mempunyai karisma, kredibilitas dan performance yang bagus.

3.      Mempunyai kepercayaan diri (tidak minder, grogi dan demam panggung)

4.      Mempunyai communication skill (ketrampilan dan kemampuan mengkomunikasikan suatu pesan kepada orang lain, sehingga terpikat perhatian dan minatnya untuk mengikuti terus sampai selesai)

5.      Memiliki fludium/daya tarik (mampu menarik simpati orang lain; dengan 7-IF)

6.      Memiliki badan sehat, hati senang dan pikiran tenang (no problem)

7.      Menunjukkan ekspresi wajah yang sesuai dan alami/ekspresif (isyarat komunikasi nirverbal dengan menggerakkan salah satu bagian wajah / facial expression)

8.      Memilih tema/judul atau topik yang tepat (aktual, sesuai dengan situasi, kondisi, konteks acara dan kebutuhan)

9.      Memilih materi yang menarik (sesuai dengan kebutuhan pendengar, sehingga para pendengar dalam forum ceramah merasa terhipnotis dan penceramah bisa mengontrol pendengar serta mengendalikan masa untuk mengikuti apa yang penceramah inginkan)

10.  Menggunakan retorika/metode dan gaya ceramah yang tepat (langgam)

11.  Memperhatikan intelektualitas audiens (menyajikan materi yang sesuai dengan kemampuan daya pikir / kemampuan intelektualitas pendengar)

12.  Menyelaraskan penampilan dengan konteks/bentuk acara atau suasana acara (gembira, duka atau khidmat/reverens, serta tidak berlebihan)

13.  Menyusun babak-babak pembicaraan (penghidangan) secara runtun dan sistematis.

14.  Menyampaikan materi secara praktis (lebih menekankan masalah-masalah yang pokok saja yang kemudian diinprovisasikan melalui bahasa yang sederhana. Ceramah yang bertele-tele dan alur ceritanya yang berputar-putar mengakibatkan kejenuhan bagi pendengar)

15.  Memberikan tamsil/gambaran/perumpamaan/contoh-contoh yang logis dan realistis yang biasa dilihat, bisa dimengerti dan dipahami pendengar.

16.  Mengemukakan kisah-kisah/sejarah masa lalu yang bertalian dengan isi materi.

17.  Menggunakan bahasa  yang lugas dan mudah dimengerti (komprehensibel) - (baik, benar dan arkaik/kuno tapi jelas, luwes/bersahaja/tidak muluk-muluk dan mudah dimengerti)

18.  Mengucapkan kata dengan artikulasi (pengucapan kata) dan speech yang jelas dan benar.

19.  Menghindari penggunaan kata-kata atau bahasa yang elusif yang sulit dimengerti dan dipahami maknanya (seperti kata-kata ilmiah)

20.  Mengimbangi dengan gerak dan bahasa isyarat.

21.  Menjadi diri sendiri (original; tidak meniru corak, warna dan atau gaya penceramah lain yang tidak sesuai dengan karakter pribadi yang dimiliki)

22.  Mengenal tipologi pendengar (Auditory: cenderung lebih pada pendengaran – Visual: cenderung lebih pada penglihatan – Kinestatik: cenderung lebih pada perasaan)


Dari orang lain dan lingkungan ( 2 - PS ):

1.      Pendengar tidak apriori/antipati (merasa happy dan well come)

2.      Sarana dan prasarana atau properti yang memadai:

·         Sound system yang bagus dan menjangkau ke seluruh ruangan atau audiens.

·         Waktu yang cukup (sesuai dengan tema dan target yang diharapkan)

·         Penataan tempat (lokasi) atau ruangan yang nyaman dan representatif.

·         Podium atau panggung yang sesuai dan seimbang.

3.      Pembawa acara (MC) yang profesional.

4.      Suasana aman dan kondusif.


F. ETIKA BERCERAMAH (13-MT-10) :

1.      Memiliki penampilan yang baik (berpakaian bersih, rapi, serasi, sopan, dan ideal/ sesuai dengan situasi-kondisi, konteks/bentuk acara dan lingkungan pendengar)

2.      Menunjukkan semangat yang energik, lincah dan ceria (tidak malas, loyo, klentrak-klentruk)

3.      Menunjukkan sikap yang santun (merendahkan diri tapi tetap berwibawa)

4.      Menampakkan wajah yang ramah dan menyenangkan (tidak sinis dan cemberut)

5.      Menggunakan kata-kata sapaan yang santun (bapak-ibu, anda, bukan kalian atau kamu)

6.      Memberikan pujian kepada pendengar (pernyataan rasa syukur, senang dan bangga terhadap pendengar sehingga membuat pendengar merasa tersanjung)  

7.      Menunjukkan gaya yang original (suara, gerak-gerik tubuh dan anggota tubuh fleksibel, spontan, tidak kaku, tidak dipaksakan dan tidak dibuat-buat)

8.      Menghindari bombastic (sifat, kata-kata atau ungkapan yang muluk-muluk)

9.      Memiliki jiwa yang sabar, arif dan bijaksana (tidak mudah emosi walaupun direspon kurang baik oleh pendengar)

10.  Memulyakan orang yang dimulyakan pendengar (sesekali disebut namanya dan dibanggakan dengan tidak berlebihan)

11.  Memperhatikan dan merespon pembicara sebelumnya (sehingga terkesan tawadlu’, tidak terkesan congkak dan sombong)

12.  Mengingatkan audience secara elegance (anggun, tidak sinis, tidak emosi, tidak memaki-maki)

13.  Memohon maaf sebelum mengakhiri pembicaraan.

10 - T :

1.      Tidak mendahului undangan.

2.      Tidak mengesankan pribadi yang sombong (cerita kelebihan pribadi dan atau keluarganya secara berlebihan)

3.      Tidak terkesan menggurui (menggunakan kalimat ajakan, bukan perintah atau instruksi – menyayangkan, bukan maidu/mencela atau memarahi.

4.      Tidak arogan/over acting (ucapan, gaya, dan atau penampilan tidak wajar dan tidak pantas)

5.      Tidak membuat gerakan-gerakan yang yang bisa membuat pendengar menjadi tertawa.

6.      Tidak menyakitkan hati pendengar (tidak menggunakan bahasa sarkasme; mencela,  menyinggung pribadi perorangan atau golongan, baik secara langsung, sindiran/insinuatif atau dengan melucu)

7.      Tidak mengucapkan bahasa tabu, jorok, vulgar atau tidak senonoh.

8.      Tidak terlalu dekat michrophon (melekat di bibir)

9.      Tidak memegang atau mempermainkan michrophon yang bertiang (memberi kesan grogi atau demam panggung)

10.  Tidak terlalu lama waktunya.


G. PERSIAPAN PENCERAMAH SEBELUM ACARA ( 7 - M )

1.      Memanjatkan do’a (memohon ilham, kata-kata, ungkapan, gambaran, sikap, niat yang baik dan benar)

2.      Mempersiapkan pemikiran dan perencanaan yang matang (premeditasi)

3.      Menyiapkan materi sesuai tema yang direncanakan.

4.      Menyelesaikan atau menghilangkan masalah yang mengganggu pikiran.

5.      Mengetahui bentuk/konteks acara yang akan dihadapi.

6.      Mengetahui lama waktu yang disediakan.

7.      Mengenali audience  (dengan mengadakan “audience research”/penelitian khalayak tentang sifat, karakter, tradisi, budaya, tingkat kecerdasan, daya pikir, dan sensitifitasnya)


H. AKSESORIS DAN SENI BERCERAMAH ( 9 - M )

1.      Menyebarkan energi ke seluruh ruangan (menyapa-menyapu audience/mengarahkan pandangan kepada seluruh penonton secara merata di saat mengucapkan salam pembuka dan sapaan penghormatan; tidak merunduk seperti orang yang malu atau hanya melihat teks)

2.      Memberikan kalimat sentuhan di awal ceramah (ungkapan yang dapat menggugah hati pendengar)

3.      Melantunkan (ayat-ayat Al qur’an) dengan fasih, ekspresif dan irama yang indah.

4.      Membaca dalil-dalil dengan ekspresi wajah dan gerkan-gerakan yang mengisyaratkan arti dari dalil tersebut.

5.      Memilih kata-kata yang tepat (agak puitis) sehingga menimbulkan hubungan emosianal bagi pendengar.

6.      Menggunakan retorik (bentuk kalimat tanya yang tak membutuhkan jawaban)

7.      Memberi intermeso (dengan joke-joke segar, humor yang tidak berlebihan dan mengada-ada)

8.      Melantunkan lagu-lagu dan syair yang relevan dengan sub materi/bahasan.

9.      Menutup pembicaraan dengan kalimat indah dan menarik (kata-kata puitis, kata-kata mutiara, kata-kata bijak, proverb/pepatah, pantun dll.)


I. FAKTOR PENGHAMBAT EFEKTIFITAS DAN KESUKSESAN BERCERAMAH

1.      Faktor suara (suara-suara ramai atau keras lainnya yang masuk pada saat ceramah sedang berlangsung)

2.      Faktor bahasa (penggunaan bahasa yang tidak dapat dimengerti atau karena kesalahpahaman)

3.      Faktor prasangka (penilaian yang subyektif dan mengalahkan rasio serta akal sehat sebab adanya perbedaan ras, golongan, aliran, agama dan lain-lain)

4.      Faktor motivasi dan keinginan (materi ceramah tidak sesuai dengan motivasi dan kepentingan khalayak yang mendengarnya)   


J. TIPS MENGATASI KEGADUHAN (4-M) - (beberapa pendengar tidak serius)

1.      Mengeraskan suara dengan tiba-tiba (mendekatkan bibir ke microphone)

2.      Memfokuskan pandangan (kepada pendengar yang ramai atau kurang memperhatikan dengan pandangan yang ramah dan bersahabat)

3.      Memberikan sapaan (kepada pendengar yang ramai atau kurang memperhatikan dengan sopan, lemah lembut dan bersahabat)

4.      Membuat sebuah gebrakan (cerita serius dengan memukul meja, tapi bernada gurau)


K. MENCEGAH DEMAM PANGGUNG (3-M) - (Menambah Percaya Diri)

1.      Memilih topik yang baik (sesuai keinginan dan harapan pendengar)

2.      Menguasai topik (sesuai ilmu, pengetahuan, pengalaman dan wawasan yang dimiliki)

3.      Membuat persiapan pidato yang matang (tidak lagi memikirkan apa yang harus disampaikan)


L. MENGUSIR DEMAM PANGGUNG/RASA GROGI (5-M)

1.      Menggerakkan tubuh seperlunya, rileks, tidak terlalu kaku.

2.      Memusatkan pikiran pada materi yang akan disampaikan atau masalah-masalah yang akan dibicarakan, tidak pada diri sendiri atau pendengar. 

3.      Memegang sekedarnya pada mimbar atau mix agar rasa gemetar sedikit berkurang.

4.      Menarik nafas panjang-panjang (sesekali) lalu membuangnya secara pelan-pelan.

5.      Menganggap semua pendengar itu kawan (think of the audience as friends); menamkan pada diri sendiri, menjadi pusat perhatian orang banyak.

 

6.  (Tambahan) Menghilangkan Perasaan “Demam” Panggung yaitu dengan cara: memfokuskan pikiran pada diri sendiri, percaya diri(PD), menganggap audience tidak tahu tentang apa yang kita bicarakan, memperdalam materi dengan baik, mempersiapkan konsep pidato beberapa hari sebelumnya, membaca berulang-ulang materi pidato, mempersiapkan diri beberapa jam sebelum tampil dan jangan tergesa-gesa, serta istirahat yang cukup. Terakhir sudah tentu adalah dengan berdoa.

.

IV. PROFESIONALISASI DAN TANGGA PRESTASI HARAPAN

A. PROFESIONALISASI (5-P) - (Upaya Peningkatan Mutu Profesi dengan Skill dan Teknik)

1.      Punya kemauan yang tinggi (ceramah adalah bagian dari dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar  yang wajib dikerjakan)

2.      Punya motivasi belajar yang keras (kecakapan berceramah adalah bakat atau pembawaan dari kecil, tapi tanpa belajar bakat tidak akan berkembang. Selama mau belajar tidak ada yang tidak mungkin/mustahil)

3.      Punya semangat berlatih, terutama mengolah vokal agar artikulasi suaranya terdengar jelas (dengan cara “trial and error”, seseorang akan makin matang pengalaman dan kemampuannya; “no sweet without sweat”: “tidak ada yang manis tanpa berkeringat”)

4.      Punya keberanian dan keyakinan yang tinggi (punya tekad “saya pasti bisa”, dengan selalu mencoba, mencoba dan mencoba; “faith will remove mountains”: “keyakinan akan dapat memindahkan gunung-gunung”)

5.      Punya semangat untuk memperkaya materi, (menambah wawasan dan update pengetahuan dari berbagai sumber yang benar, logis dan bisa dipertanggungjawabkan)



B. TANGGA PRESTASI HARAPAN
BAKAT ALAM           KEMAUAN           PENGAJARAN            PENERAPAN            PENGEMBANGAN
LEGETIMASI ALAM

V. CATATAN KHUSUS
Bukan dianggap penceramah yang sukses “di panggung” apabila bisa menguasai atau memberi kesegaran kepada pendengar hanya dengan kata-kata kotor dan tidak senonoh, tetapi penceramah dianggap sukses “di panggung” bila dapat menguasahi pendengar dengan kalimat indah, bijak, benar, logis dan realistis.
Penceramah harus mengenal jatidirinya (kualitas, popularitas) agar tidak berlebihan dalam penyampaian sehingga bisa unggah-ungguh kepada pendengar.
Hindari “Coercive Communication” yaitu komunikasi koersif, yang mengandung ancaman, sanksi, dan lain-lain yang bersifat paksaan, sehingga orang-orang yang dijadikan sasaran melakukan sesuatu secara terpaksa karena merasa takut akibatnya.
Hindari ucapan atau ungkapan yang “controversial”/kontroversial yaitu sifat suatu pesan komunikasi yang menimbulkan perdebatan diantara khalayak, disebabkan perbedaan pendapat.
Melakukan “Consideration” (konsiderasi) yaitu mempertimbangkan suatu pernyataan yang akan disampaikan setelah melakukan pemikiran secara matang dengan memperhitungkan untung-ruginya, baik-buruknya, benar-salahnya dan sebagainya.
Memperhatikan “Human Nature”, yaitu sifat manusia; tabiat dan perangai sebagai paduan pengaruh keturunan dan lingkungan.

VI. PENUTUP
Keberhasilan dan kesuksesan seorang penceramah adalah predestinasi/kehendak Allah semata, tapi… upaya berceramah supaya menarik perhatian; agar menarik minat (for effect), ini adalah merupakan bagian dari kesungguhan dalam rangka menegakkan dan meluhurkan agama Allah.
Bukankan Allah juga perintahkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk menyeru kebaikan dengan “hikmah” dan “mauidhah hasanah”…?, juga kepada Musa dan Harun ‘Alaihimassalam untuk mengajak Fir’aun dengan ucapan yang lemah lembut…?
Semoga upaya pribadi mendapat satu pahala dan keberhasilan memperoleh dua pahala dan menjadi amal jariyah.
HANYA DENGAN DO’A, YANG SULIT JADI MUDAH, YANG BERAT JADI RINGAN DAN YANG MAYA JADI NYATA SERTA IMPIAN JADI KENYATAAN
Semoga Allah Paring Aman Selamat Lancar Berhasil Barokah...Aamiiin...!