Kisah Heroik Muhammad Al Fatih Sang Pembebas

 

Muhammad Al Fatih Sang Pembebas


“Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah pemimpin terbaik dan pasukan di bawah komandonya adalah pasukan terbaik.” (HR. Ahmad bin Hanbal)

Ramalan Nabi Muhammad yang diucapkan ketika Perang Parit benar-benar menjadi kenyataan pada hari Selasa, 20 Jumada al-Ula, 857 H atau 29 Mei 1453. Konstantinopel yang sebelumnya dikuasai oleh Kekaisaran Romawi Timur (Byzantium) dianggap sebagai yang paling aman dan paling aman. paling aman karena memiliki benteng terkuat di dunia. Namun ternyata, kota terkuat di dunia ditaklukkan oleh pasukan di bawah komando seorang pria bernama Sultan Muhammad Khan. Sejak itu, Muhammad Khan diberi gelar Al Fatih (Pembebas) dan dikenal di Barat sebagai Mehmed Sang Penakluk.

Muhammad Al Fatih (1431 – 1481 M), putra Sultan Murad II, sultan yang memerintah Kesultanan Utsmaniyah sejak tahun 1451 M. Sebagai seorang anak, Muhammad Al Fatih sangat manja dan malas belajar. Namun Muhammad Al Fatih mulai serius belajar setelah ayahnya mendatangkan beberapa guru seperti Syekh Ahmad bin Ismail al-Kurani, Syekh Aag Syamsudin, dan lain-lain. Dari mereka, Muhammad Al Fatih belajar agama, bahasa, keterampilan, geografi fisik, astronomi, dan sejarah. Muhammad Al Fatih tumbuh menjadi seseorang yang ahli perang dan pintar berkuda, ahli dalam bidang sains dan matematika, dan menguasai 6 bahasa sejak usia 21 tahun. Muhammad Al-Fatih adalah pemuda cerdas yang memiliki kemauan keras untuk mencapai cita-citanya, khususnya menaklukkan Konstantinopel seperti sabda Nabi Muhammad SAW sejak berusia 12 tahun.

Keberhasilan Muhammad Al Fatih menaklukkan Konstantinopel bukanlah suatu kebetulan. Muhammad Al Fatih memperkuat kekuatan militer Ottoman dengan memilih dan memilih pasukan sejak mereka masih kecil. Sebuah tim khusus diperintahkan untuk menyebar ke seluruh Turki dan sekitarnya untuk mencari anak-anak yang paling cerdas, paling rajin beribadah, dan paling kuat fisiknya. Kemudian orang tua diberikan tawaran agar anaknya bisa dibimbing sejak dini. Setelah disepakati, anak-anak terpilih diberikan pembinaan agama, ilmu pengetahuan, dan militer, sebagai kebutuhan sehari-hari mereka ditanggung oleh negara. Jadi, masuk akal mengapa tidak ada seorang prajurit pun yang meninggalkan shalat sejak baligh, bahkan separuh dari mereka tidak pernah meninggalkan shalat tahajud sejak baligh.

Muhammad Al Fatih sendiri disebutkan tidak pernah meninggalkan shalat tahajud dan rawatib sejak baligh hingga wafatnya. Dikisahkan dalam doa pertama yang akan dilaksanakan setelah penaklukan, Muhammad Al Fatih berkata: “Yang merasa tidak pernah masbuq dalam shalat, mohon jadilah imam kami.” Lama ditunggu, tidak ada yang maju. Kemudian dengan mantap Muhammad Al Fatih memiliki mantan imam di gereja di Konstantinopel.

Mungkin itulah rahasia sukses Muhammad Al Fatih dalam mewujudkan cita-cita dan cita-cita Islamnya, bukan kekuatan fisik, melainkan kedekatan dengan Allah SWT. Rahasia itu ia bagikan kepada pasukannya dengan menjaga shalat wajib, shalat tahajud dan shalat rawatib. Dalam usia 22 tahun, Muhammad Al Fatih menaklukkan kota yang dijanjikan Nabi delapan abad sebelumnya. Setelah direbut, kota Konstantinopel diganti dengan nama Islambul (kota Islam), dan sekarang disebut Istanbul (digantikan oleh Mustafa Kemal Ataturk).

Banyak kawan bahkan lawan mengagumi kepemimpinan Muhammad Al Fatih dan strategi perang yang mendahului era itu. Ia berperan besar dalam perluasan wilayah Islam, pengaturan tanah, melakukan perbaikan di bidang ekonomi, pendidikan, dan sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Dalam kepemimpinannya, pusat pemerintahan Islambul menjadi sangat indah, maju, dan sukses secara ekonomi. Muhammad Al Fatih, orang yang memiliki energi luar biasa dan menjadi seorang bangsawan. Jadi bagaimana dengan kita? Prestasi apa yang sudah kita peroleh di usia kita yang semakin bertambah?. (kanshaforlife)

0 Komentar