LDII Jember Gelar Sosialisasi Deteksi Dini Hewan Kurban dari PMK

ldii jember


Jember, LDII.  Wabah Penyakit Mulut dan Kuku  (PMK) masih menghantui para peternak. Terlebih menjelang pelaksanaan idul kurban 1443 H. Kondisi ini menginsipirasi LDII Kabupaten Jember menyelenggarakan sosialisasi deteksi dini hewan qurban dari PMK pada Senin (20/6).

Hadir sebagai pemateri, Ketua Wanhat DPD LDII Kabupaten Jember Boedijono dan 2 (dua) orang dokter hewan dari Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Kabupaten Jember.

Dalam pemaparannya, Boedijono menjelaskan secara umum pemerintah memiliki fungsi pembangunan, fungsi pengaturan, fungsi kebijakan dan fungsi pelayanan umum. 

" Dalam kondisi pandemi PMK ini, pelayanan oleh pemerintah harus berbasis pada ecolabelling, yaitu memberikan informasi terkait ekologi. Fungsi ecolabelling diharapkan agar pelayanan pemerintah lebih bisa dipahami masyarakat atas informasi yang akurat," jelasnya.

Lebih lanjut ia menurutkan, istilah ecolabelling biasa dipakai di dunia perikanan berbasis ekologi. Dalam pelayanan publik, juga bisa dipakai karena pemberian label bagi produk makanan agar informasi yg diberikan oleh pemberi label lebih akurat.

Selain itu, Boedijono yang juga staf pengajar Jurusan Adiministrasi Negara FISIP UNEJ itu menambahkan bahwa pemerintah harus memberikan informasi kepada masyarakat tentang hewan kurban yang lebih akurat.

"Sehingga masyarakat bisa melaksanakan ibadah kurban dengan lebih syar’i dan dagingnya bisa bermanfaat serta higienis. Pelayanan pemerintah dengan pemberian sertifikasi atau pemberian label menjadi kebutuhan," pungkasnya.

Sementara itu dokter hewan Devi dari dinas ketahanan pangan dan peternakan Kabupaten Jember menjelaskan bahwa sosialisasi tersebut bertujuan untuk melakukan deteksi dini hewan qurban dari serangan PMK.

"Akhir-akhir sedang banyak dilanda oleh peternak sapi dan kambing. Semua kecamatan di Jember sudah ada kasus PMK dan terbanyak ada di kecamaan puger. Per hari ini sudah ada lebih dari empat ribu kasus yang sudah masuk data kami," ujarnya.

Ia menghimbau kepada semua masyarakat untuk lebih berhati hati dalam memilih hewan qurban yang tidak lama lagi akan disembelih saat idul adha. PMK ini tidak perlu ditakutkan tetapi juga tidak boleh diremehkan karena penularannya sangat cepat sekali terutama bagi peternak sapi yang dalam satu kandang ada beberapa ekor sapi. 

Devi berharap kepada semua masyarakat untuk preventif atau deteksi dini dengan cara melaporkan hewan ternak yang terindikasi PMK kepada petugas dari dinas peternakan. 

"Indikasi itu antara lain mulut berbusa, kaki tidak kuat menahan badan utk berdiri dan tidak punya nafsu makan sehingga kondisinya lemah dan antibodi turun. Ada acara alami yang bisa ditempuh yaitu dengan membuat minuman dari kunyit dan gule aren," terangnya.

"Walaupun sapi terkena PMK dagingnya tetap aman dikonsumsi oleh manusia asalkan  dimasak dengan cara yang benar,"pesannya. 

Sementara itu Ketua DPD LDII Jember Akhmad Malik Afandi menuturkan bahwa setiap tahun qurban warga LDII tidak kurang dari 150 ekor sapi dan 200 ekor kambing yang tersebar di beberapa kecamatan. 

"Secara fiqh syarat hewan qurban kami sudah memahami..tapi secara kesehatan dari PMK tentu yang lebih faham adalah dokter hewan, maka dari itu kami merasa bersyukur ada penjelasan dari dokter hewan utusan dari dinas peternakan ini," katanya.

Ia berharap kerjasama ini ini akan ditindaklanjuti oleh pengurus LDII kecamatan dengan masing masing rumah potong hewan (RPH) dan pos kesehatan hewan sehinggga semua hewan qurban yang disembelih tahun ini bisa terbebas dari PMK.

"Sehingga sah qurbannya dan sehat dagingnya karena kami biasanya membagi ribuan porsi daging qurban kepada masyarakat," ujar Malik.

Acara yang dihelat di Aula Serbaguna Al-Manshurin Patrang itu dihadiri oleh ratusan pengurus LDII se-Jember.

0 Komentar