Pono hingga Pono, Hidup Adalah Tanggung Jawab

hakiki hidup
life is jouney, not a destination
 

Hakikinya manusia melalui empat tahapan perjalanan di kehidupannya, meliputi alam kandungan, alam dunia, alam kubur dan alam akhirat.  Pono hingga pono, dari opo-opo ora ono menjadi opo-opo ono, dari yang tidak ada menjadi ada dan pada akhirnya kembali menjadi tidak ada.

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. Kemudian, Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim), kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging, kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka, Maha Suci Allah, Pencipta yang Paling Baik.” (Q.S Al-Mu’minun : 12-14)

Kelahiran adalah fase dari kandungan menuju dunia, sedangkan untuk menuju fase akhir, manusia harus melalui fase kematian dan kebangkitan. Akhir dari kehidupan manusia ditentukan pada saat dirinya berada di dunia. Dunia menjadi jembatan menuju ke akhirat. Baik buruknya di fase kehidupan dunia, menentukan tempat di akhirat kelak. Hidup adalah tanggung jawab.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ 

“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.” [Al-Mulk/67:2]


“Tangeh lamun siro bisa ngerti sampurnaning pati, yen siro ora ngerti sampurnaning urip.”

Mustahil kamu bisa mengerti kematian yang sempurna, jika kamu tidak mengerti hidup yang sempurna.


Para leluhur banyak mengajarkan ilmu kebijakan hidup kepada generasi akhir melalui peninggalan karya sastra, seperti tembang dhandhangula berikut,

Kawruhana sejatining urip, urip ana jroning alam donya
Bebasane mampir ngombe, umpama manuk mabur
Lunga saka kurungan neki, pundi pencokan benjang
Awja kongsi kaleru, umpama lunga sesanja
Najan-sinanjan ora wurung bakal mulih, mulih mula mulanya

Ketahuilah sejatinya hidup, hidup di dalam alam dunia,
Ibarat perumpamaan mampir minum, seumpama burung terbang,
Pergi dari kurungannya, dimana hinggapnya besok,
Jangan sampai keliru, umpama orang pergi bertandang,
Saling bertandang, yang pasti bakal pulang, pulang ke asal mulanya. 

“Bahwasanya seseorang dari kamu itu dikumpulkan kejadiannya dalam kandungan ibunya selama 40 hari, masih berwujud air mani. Lalu, jadilah segumpal darah selama 40 hari juga. Kemudian, Allah Ta’ala mengutus malaikat, lalu meniupkan ruh di dalam tubuhnya dan diperintahkan dalam empat perkara ialah : menuliskan sesuatu tentang ketetapan mengenai rezekinya, ajalnya, amalnya,  dan kelak akan menjadi orang celaka atau bahagia.” (HR. Imam Muslim)


Hidup Manusia Dibatasi  Umur


Sehebat dan sekuat apapun, manusia yang hidup tetaplah akan mati. Betapa banyak kisah orang - orang yang berkuasa di dunia ini. Tahta dan harta berlimpah kenyataannya tak mampu untuk menghindar dari kematian. Seberapa lama hidup di dunia ? Hanya Alloh yang tahu.

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌۭ ۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةًۭ ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. [Surat Al-A'raf (7) ayat 34]


Manakala telah habis batas umur, tak kan pernah sedikitpun Malaikat lalai dari tugasnya. Cabut, dan tercabutlah nyawa.

MATI Menjemput Dimanapun Manusia Berada
Usaha manusia untuk keluar dari kesulitan, kesusahan dan kesakitan hanya sebatas di masa sebelum datangnya 'ajal'. Bagaimana mungkin bisa menghindar dari jangkauan malaikat pencabut nyawa ? Meskipun mereka lari sejauh jauhnya lari.

 قُلْ إِنَّ ٱلْمَوْتَ ٱلَّذِى تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُۥ مُلَـٰقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَـٰلِمِ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَـٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". [Surat Al-Jumu'ah (62) ayat 8]


"Kembang turi lak melok melok sego wadang sisane sore. Ora perduli wong alok alok sandang pangan lak golek dewe."  Berpengaruhlah, dan jangan terpengaruh.   

0 Komentar