Nahronin


"Kembang turi lak melok melok sego wadang sisane sore. Ora perduli wong alok alok sandang pangan lak golek dewe", salah satu parikan yang sempat terdengar di sela-sela persidangan Muswil VII LDII Kalimantan Tengah, Sabtu (20/11/2021).

Suasana yang semula tegang berubah menjadi cair, lengangnya Ballroom Seruyan 3 Hotel Bahalap Palangkaraya terlihat hidup lagi.

Nampak di sisi lain aula berdiri peserta lain yang tak kalah seru membalas parikan pertama, berlanjut hingga sidang-sidang muswil berakhir. "Iwak sepat iwak betik, lebih cepat lebih baik ," sahut lainnya.     

Parikan atau pantun adalah rangkaian kalimat yang terdiri dari dua baris, baris yang pertama adalah kalimat penarik sedangkan kalimat kedua merupakan isi. Selain berfungsi sebagai penyampai pesan, parikan biasanya dijadikan hiburan tersendiri, yaitu lewat kata-katanya yang enak didengar. Terlebih jika parikan Jawa tersebut mengandung unsur kelucuan. Menyampaikan parikan lucu bisa menjadi hiburan saat sedang santai bersama orang terdekat untuk mencairkan suasana.   

Nahronin


Adalah Nahronin, sosok humble yang malam itu berhasil menggugah semangat peserta muswil. Tak dipungkiri mengikuti kegiatan muswil, marathon sejak pagi hingga malam tidak hanya melelahkan secara fisik, namun fikiranpun terkadang bisa lemot, termasuk saya salah satunya. 

Pria asli Tulungagung - Jawa Timur itu juga dikenal enerjik, seakan tak ingin waktunya terbuang percuma, ia habiskan hari - harinya dengan berbagai aktifitas. 

"Orang iman, sebagaimana disebutkan dalam Alquran, harus suka beramal sholih, berbuat baik, baik untuk diri sendiri, untuk keluarga, maupun untuk orang lain," katanya.

Baginya ibadah tidak hanya sekedar menjalankan penyembahan kepada Tuhan, tetapi juga harus bisa memperbaiki hubungan dengan makhluk ciptaanNya. 

"Ada ibadah maghdah, dan ada juga ghairu maghdhah. Ini harus dipahami tiap mukmin, khoirunnasi anfa'uhum linnas, sebaik-baiknya manusia adalah yang bisa bermanfaat bagi orang lain. Ini prinsip, sehingga dalam hubungan sosial, kita harus dapat berempati, mampu memahami apa yang dirasakan orang lain, melihat dari sudut pandang orang tersebut, dan juga membayangkan diri sendiri berada pada posisi orang tersebut," ujar pria yang bulan Juli lalu berusia 62 tahun.

Nahronin, Sang Penghibur di Muswil LDII Kalteng


Dari sisi manajerial, pria penyandang gelar akademik sarjana pendidikan ini tak perlu diragukan. Pengalamannya sebagai abdi negara telah tuntas, bagaimana tidak, ia telah 8 tahun menjadi kepala sekolah SMP, dan 5 tahun menjadi kepala sekolah SMA sebelum akhirnya pensiun pada tahun 2019.

Dapukan di organisasi sebagai Ketua DPD LDII Kabupaten Pulang Pisau ia maknai sebagai baktinya kepada negara dan agama, "LDII kan sebuah ormas Islam, bagian dari organisasi kemasyarakatan yang ada di negeri ini. Di LDII tidak hanya sekedar belajar mengaji Alquran dan Alhadist saja, tapi juga diwajibkan untuk tunduk dan patuh pada pemerintah republik Indonesia," ujarnya.

Nahronin, Sang Penghibur di Muswil LDII Kalteng


Ayah dari 4 orang ini juga berbagi petuah tentang pentingnya kemandirian. "Usahakan hidup jangan menyusahkan orang lain. Selagi masih diberikan umur oleh Allah subhanahu wata'ala, pergunakanan sebaik-baiknya untuk mendulang pahala. Perbaiki dan tingkatkan ibadah kepada Allah. Jangan malas, karena malas itu temannya syaithan."          

Rajin itu ia buktikan dengan usaha keras mengolah lahan seluas 2 hektar dengan bercocok tanam bermacam-macam jenis tanaman.

"Silakan mampir melihat kebun saya, ada jambu kristal, alpukat, dan aneka tanaman buah lainnya," pungkasnya. 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama