Jakarta (15/5). Salah satu fokus utama program kerja DPP LDII, dari hasil Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 2018 adalah ketahanan pangan. Demi kepentingan tersebut, DPP LDII menggelar seminar mengenai ketahanan pangan yang dimulai dari level terkecil, yakni keluarga.
Webinar ini menghadirkan para pembicara yang fokus terhadap produksi pertanian, manajemen urban, dan ketahanan pangan, antara lain Profesor Riset Pemuliaan Tanaman Prof. H. Rubiyo, Ketua DPP LDII Ir. H. Prasetyo Sunaryo, M.T, dan Pendiri dan Badan Pembina Barunastra Foundation, Ir. H. Kemal Taruc, M.Sc. Bertindak sebagai moderator, H. Dody Taufiq Wijaya, Ak., M.Com.
Melalui webinar ini diharapkan dapat dirumuskan program dan langkah strategis, yang dapat diimplementasikan oleh LDII dalam mengantisipasi potensi kelangkaan pangan negeri di era pandemi Covid-19 ini.
“Konflik besar dunia ditandai dengan perebutan energi, air, dan pangan serta logam. Soal pangan, Indonesia mengalami swasembada pangan pada era 1980-an, hingga kini belum sekalipun merasakan kembali swasembada pangan,” ujar Kemal Taruk.
Sebagai negara agraria, ketahanan pangan bisa merambah ke dimensi politik dan ekonomi. Apalagi, dengan kebijakan energi hijau, menurut Kemal Taruk, biji-bijian oleh negara maju diubah menjadi bio-energi. Hal tersebut, menyulitkan Indonesia untuk mengimpor kedelai dan jagung. Di lain sisi, alih fungsi lahan pertanian menjadi perumahan dan industri, menjadi ancaman ketahanan pangan nasional.
Wabah Covid-19 menjadi pengingat yang baik untuk meningkatkan ketahanan pangan, “Seharusnya, dalam kondisi wabah, bila ketahanan pangan warga baik. Tak ada aksi borong bahan makanan di supermarket atau pasar oleh warga, yang justru mengakibatkan kelangkaan pangan,” imbuh Prasetyo Sunaryo.
Menurut Prasetyo, ketahanan pangan menjadi salah satu esensi kekuatan bangsa. Kelaparan, bukan hanya masalah perut, namun bisa melemahkan sebuah bangsa. Bahaya kelaparan mendorong terjadinya amuk dan kerusuhan sosial. Bahkan, kemenangan-kemenangan dalam perang besar, ditentukan dengan memutus logistik yang menciptakan kelaparan dalam pasukan musuh.
“Ini terjadi saat Perang Batavia antara VOC dan Mataram. Rantai pasokan logistik yang dihancurkan VOC, membuat prajurit Mataram rentan desersi karena kelaparan,” imbuh Prasetyo. Kelaparan-kelaparan yang terjadi sebagian negara-negara Afrika menciptakan destabilisasi politik dan memicu kegagalan negara. Inilah yang menjadi fokus perhatian LDII, mengenai strategisnya masalah pangan.
Di lain sisi, Indonesia telah kehilangan kemandirian energi, karena menjadi negara pengimpor minyak sekaligus belum mampu mengoptimalkan energi terbarukan yang potensinya sangat besar di Indonesia, “Ini berpotensi menjadi ancaman ketahanan nasional secara umum,” papar Prasetyo.
Sementara itu, Rubiyo menegaskan, ketahanan pangan yang dimulai dari keluarga bukan sebatas mencukupi kebutuhan pangan secara mandiri. Terutama untuk masyarakat perkotaan, dengan metode urban farming, “Lebih dari itu, pertanian kota dapat menghasilkan pangan berkualitas. Pangan yang berkualitas, akan memberi nutrisi yang baik bagi keluarga,” imbuh Rubiyo.
Ia menyontohkan, beragam sayur yang beredar di pasar, tak diketahui perawatannya: bebas dari pestisida atau tidak. Pestisida mampu menggerus kandungan vitamin dalam buah dan sayuran, sementara aquaponik atau hidroponik bebas pestisida.
“Asupan gizi yang baik bagi keluarga dapat menghasilkan generasi yang unggul, sehat, dan cerdas,” paparnya.(jhr)
sumber: Pers Rilis DPP LDII