Sinergi Strategis LDII Sekupang dan DLH Batam: Olah 1,3 Ton Sampah Jadi Nilai Ekonomis

Sinergi Strategis LDII Sekupang dan DLH Batam: Olah 1,3 Ton Sampah Jadi Nilai Ekonomis

Implementasi Ekonomi Sirkular di Tingkat Akar Rumput

Warga Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Kecamatan Sekupang, Kota Batam, menunjukkan langkah konkret dalam mengatasi persoalan limbah domestik yang kian krusial. Melalui program inovatif bertajuk “Bank Sampah”, mereka berhasil mengonversi setidaknya 1,3 ton sampah menjadi nilai ekonomi setiap pekannya. Inisiatif ini merupakan hasil kolaborasi intensif antara Pimpinan Cabang (PC) LDII Sekupang dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam sebagai upaya menjaga kelestarian lingkungan sekaligus memberikan dampak finansial bagi masyarakat.

Ketua DPW LDII Kepulauan Riau, Rulifa Syahroel, menjelaskan bahwa keberhasilan program ini berakar pada kedisiplinan warga dalam melakukan pemilahan limbah sejak dari dapur rumah masing-masing. Alih-alih membuang seluruh sisa konsumsi ke tempat pembuangan akhir, warga mulai menerapkan sistem segregasi yang ketat.

“Dipisahkan antara sampah organik dan anorganik. Kemudian dikumpulkan di lokasi tertentu, yang kemudian diberi nama 'Bank Sampah',” ujar Rulifa Syahroel saat memberikan keterangan di Sekupang, Batam, Kepulauan Riau pada Jumat (24/4/2026).

Edukasi Lingkungan di Lingkup Pesantren

Inisiatif pelestarian alam ini ternyata tidak hanya berhenti di lingkup rumah tangga. Pola serupa juga telah diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan di Pondok Pesantren (Ponpes) Abdul Dhohir, Sekupang. Para santri tidak hanya dididik mengenai ilmu agama, tetapi juga dibekali dengan kecakapan hidup (life skill) dalam mengelola limbah secara mandiri dan berkelanjutan.

Rulifa memaparkan bahwa para santri diajarkan untuk melihat sampah bukan sebagai beban, melainkan sebagai sumber daya yang bisa diolah kembali. Limbah organik dialihkan menjadi bahan baku pembuatan kompos berkualitas tinggi serta pakan ternak, sementara limbah anorganik melalui proses daur ulang menjadi produk kreatif yang memiliki nilai guna.

“Para santri kami bekali keterampilan mengelola sampah secara mandiri. Mulai dari mengolah sampah organik menjadi kompos dan pakan ternak, hingga mendaur ulang sampah anorganik menjadi produk bernilai guna,” tutur Rulifa Syahroel menekankan pentingnya kemandirian ekologis di lingkungan pendidikan.

Mendukung Target Zero Waste dan Reduksi Karbon

Gerakan yang dilakukan warga LDII Sekupang ini sejalan dengan visi global zero waste serta komitmen nasional dalam pengurangan emisi karbon. Dengan meminimalisir sampah yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), komunitas ini berperan aktif dalam memperpanjang usia pakai TPA lokal dan mengurangi polusi metana yang dihasilkan dari tumpukan sampah yang membusuk.

Visi ini lahir dari kesadaran bahwa ketaatan spiritual harus berjalan selaras dengan kepedulian terhadap ekosistem. Rulifa menegaskan bahwa menjaga bumi merupakan manifestasi dari nilai-nilai ibadah yang diajarkan dalam organisasi.

“Kami berkomitmen membentuk generasi yang tidak hanya saleh secara spiritual, tetapi juga peduli secara sosial dan ekologis,” jelas Rulifa Syahroel.

Kolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup

Salah satu kunci keberlanjutan program Bank Sampah di Sekupang adalah dukungan penuh dari pemerintah setempat. Melalui DLH Kota Batam, setiap hasil pilahan sampah warga mendapatkan jaminan penyerapan pasar. Pihak dinas memberikan pendampingan teknis sekaligus memastikan bahwa sampah yang telah dikategorikan tersebut dibeli dengan harga yang kompetitif, sehingga memotivasi warga untuk terus konsisten melakukan pemilahan.

“Pihak dinas mendampingi sekaligus menjamin penyerapan hasil pilahan sampah warga dengan harga yang kompetitif,” pungkas Rulifa Syahroel.

Langkah kecil yang dimulai dari pemilahan di rumah tangga ini kini telah menjelma menjadi gerakan kolektif yang memberikan dampak nyata. Rulifa mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda LDII di Kepulauan Riau, untuk terus konsisten menjadi motor penggerak perubahan lingkungan. Ia meyakini bahwa kesalehan seorang Muslim juga diuji dari sejauh mana mereka menjaga lingkungan tempat tinggalnya.

“Tidak cukup hanya mengaji, tetapi juga harus peduli lingkungan. Menjaga bumi adalah bagian dari ibadah,” tutup Rulifa Syahroel dengan tegas.

Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.

Lebih baru Lebih lama