Paradigma Baru: Menjaga Kesehatan Mental sebagai Disiplin Harian
Selama ini, masyarakat cenderung memandang kesehatan fisik dan mental dalam dua kotak yang berbeda. Jika kebugaran fisik dianggap sebagai hasil dari keringat dan disiplin di pusat kebugaran, kesehatan mental sering kali dianggap sebagai sesuatu yang 'seharusnya' ada secara alami. Namun, Wells Medicine, sebuah praktik kesehatan mental intervensional yang berbasis di Houston, mencoba mendobrak stigma tersebut dengan menekankan bahwa ketenangan pikiran adalah hasil dari kerja keras harian yang konsisten.
"Sama seperti latihan rutin untuk menjaga kesehatan fisik, diperlukan sedikit usaha setiap hari untuk menjaga kesehatan mental Anda," ujar Vanessa Buice, praktisi di Wells Medicine.
Realitasnya, kesehatan mental memerlukan pemeliharaan yang setara dengan kesehatan fisik. Kita secara budaya telah menerima bahwa jantung yang sehat dan tulang yang kuat adalah produk dari olahraga dan nutrisi. Namun, ironisnya, masih banyak individu yang merasa bahwa mereka tidak perlu melakukan 'latihan' apa pun untuk mempertahankan suasana hati yang positif atau pikiran yang jernih. Padahal, tanpa pemeliharaan aktif, kesehatan mental dapat mengalami penurunan fungsi sebagaimana tubuh yang jarang digerakkan.
Menghilangkan Stigma: Mengapa Harus Merasa Bersalah Saat 'Melatih' Pikiran?
Banyak pasien yang secara terbuka meluangkan waktu berjam-jam setiap minggu untuk latihan beban demi kekuatan tulang atau latihan aerobik untuk kesehatan kardiovaskular. Mereka mencatat beban yang diangkat, durasi lari, hingga memantau detak jantung tanpa rasa malu atau bersalah. Namun, situasi berubah secara drastis ketika topik beralih ke kesehatan mental.
Muncul sebuah fenomena di mana orang merasa bersalah jika harus menyisihkan waktu 30 menit—atau bahkan hanya 5 hingga 10 menit—setiap hari untuk fokus pada kesejahteraan psikologis mereka. Ada stigma terselubung yang membisikkan bahwa orang lain bisa memiliki suasana hati yang baik tanpa harus bersusah payah, sehingga seseorang merasa 'rusak' jika harus berlatih untuk merasa bahagia.
"Dibutuhkan sejumlah kerja keras dan upaya setiap hari untuk memiliki suasana hati dan pikiran yang baik," tegas Vanessa Buice.
Menurutnya, anggapan bahwa kesehatan mental adalah sesuatu yang otomatis dapat merusak kepercayaan diri individu. Kebenarannya adalah setiap orang yang terlihat memiliki kesehatan mental yang stabil kemungkinan besar sedang melakukan upaya tertentu yang tidak terlihat oleh mata publik.
Mitos 'Sehat Secara Alami' dan Rahasia di Balik Kesejahteraan Psikologis
Sering kali kita melihat seseorang yang tampak selalu ceria dan menganggap mereka memang terlahir seperti itu. Namun, jika kita menggali lebih dalam, biasanya ditemukan kebiasaan tersembunyi yang menjadi fondasi stabilitas mereka. Mereka mungkin mempraktikkan rasa syukur (gratitude) saat sarapan, melakukan doa rutin sesuai tradisi agama mereka, atau sekadar berjalan kaki bersama hewan peliharaan setiap pagi tanpa menyadarinya sebagai bentuk olahraga mental.
Aktivitas-aktivitas ini sering kali tertanam dalam budaya atau pola asuh mereka, sehingga tidak terlihat seperti 'latihan' formal. Hal yang sama berlaku bagi mereka yang tampak memiliki ketangguhan mental luar biasa; mereka mungkin secara konsisten melakukan afirmasi positif atau mengonsumsi konten psikologi positif secara rutin.
Menemukan Metode yang Tepat untuk Setiap Individu
Karena merawat pikiran adalah sebuah perjalanan panjang, kuncinya terletak pada menemukan jenis 'latihan' yang paling cocok bagi Anda. Layaknya seseorang yang mungkin membenci olahraga renang tetapi mencintai angkat beban, setiap orang memiliki preferensi berbeda dalam terapi dan latihan pikiran. Tidak ada satu metode tunggal yang bisa menyembuhkan semua orang.
Vanessa Buice menyarankan agar setiap individu tidak ragu untuk mengeksplorasi berbagai pendekatan. Jika Anda merasa tidak cocok dengan Terapi Penerimaan dan Komitmen (ACT), Anda bisa mencoba Terapi Perilaku Kognitif (CBT), Internal Family Systems (IFS), atau sekadar terapi bicara konvensional. Keberagaman podcast, buku psikologi, dan latihan pernapasan tersedia luas untuk dieksplorasi hingga ditemukan metode yang terasa nyaman dan membahagiakan untuk dilakukan setiap hari.
Wells Medicine sendiri berfokus pada perawatan intervensional yang ditujukan untuk depresi, kecemasan, OCD, hingga PTSD melalui berbagai teknologi medis seperti perawatan ketamin, stimulasi magnetik transkranial (TMS), hingga blok ganglion stelata. Namun, teknologi ini tetap membutuhkan integrasi dengan dukungan psikiatri dan psikologi agar hasilnya maksimal dan berkelanjutan.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.