Hadapi Dampak Krisis Timur Tengah, LDII Dorong Penguatan Empat Pilar Ketahanan Keluarga

Hadapi Dampak Krisis Timur Tengah, LDII Dorong Penguatan Empat Pilar Ketahanan Keluarga

Strategi LDII Hadapi Gejolak Ekonomi Global Melalui Ketahanan Keluarga

Eskalasi konflik di Timur Tengah kini tidak hanya menjadi kekhawatiran geopolitik di medan tempur, namun juga mulai memberikan tekanan nyata terhadap ekonomi rumah tangga. Menanggapi fenomena tersebut, Ketua DPP LDII Ardito Bhinadi mengimbau masyarakat untuk segera memperkuat empat pilar ketahanan guna memitigasi dampak buruk krisis global.

“Lonjakan harga energi dan gangguan perdagangan global dapat memicu inflasi dan kenaikan biaya hidup di banyak negara, termasuk Indonesia. Untuk itu, keluarga perlu membangun ketahanan pangan, keuangan, energi dan sosial sejak kini. Agar lebih siap menghadapi ketidakpastian ekonomi,” ujar Ardito.

Ardito, yang juga merupakan Dosen Ilmu Ekonomi di UPN Veteran Yogyakarta, memaparkan bahwa kawasan Teluk merupakan sentra penghasil minyak dan LNG dunia. Gangguan distribusi di titik vital seperti Selat Hormuz berpotensi besar memicu lonjakan harga BBM dan transportasi, yang pada akhirnya akan merambat pada kenaikan harga kebutuhan pokok dan biaya logistik.

Langkah Taktis Membangun Ketahanan Domestik

Sebagai langkah antisipasi, LDII mengusulkan penguatan ketahanan dalam empat bidang utama bagi setiap keluarga:

  • Ketahanan Pangan: Menyiapkan stok pangan rumah tangga yang realistis, bergizi, dan tahan lama dengan sistem First In, First Out (FIFO). Disarankan juga untuk mulai melirik bahan pangan alternatif seperti umbi-umbian dan sorgum.
  • Ketahanan Keuangan: Menyiapkan dana darurat idealnya berkisar 3-6 bulan pengeluaran. Hal ini penting untuk menjaga kestabilan ekonomi saat terjadi guncangan pendapatan atau PHK.
  • Ketahanan Energi: Membangun budaya hemat energi dengan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan mengefisiensikan pemakaian listrik rumah tangga.
  • Ketahanan Sosial: Memperkuat jejaring sosial di lingkungan sekitar, komunitas masjid, hingga koperasi untuk menciptakan ekosistem gotong royong dan pertukaran informasi peluang usaha.
Ketahanan keuangan, berarti rumah tangga mampu menjaga arus kas tetap sehat. “Melalui dana darurat, mengurangi utang konsumtif, prioritas belanja sesuai kebutuhan dan miliki sumber penghasilan tambahan,” pungkasnya.

Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian, diversifikasi penghasilan juga menjadi kunci. Ardito menyarankan keluarga untuk memulai usaha kecil berbasis keterampilan harian atau pemanfaatan lahan sempit untuk tanaman pangan. Dengan kesiapan yang matang dari tingkat keluarga, diharapkan masyarakat mampu bertahan dan tetap tenang meski berada di tengah tekanan ekonomi global yang fluktuatif.

Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.

Lebih baru Lebih lama