Menjemput Malam Seribu Bulan di Fase Terakhir Ramadan
Memasuki fase penutup Ramadan, umat Islam dianjurkan untuk semakin meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah demi meraih keutamaan Lailatul Qadar. Malam yang lebih mulia dari seribu bulan ini merupakan kesempatan tak ternilai bagi setiap mukmin untuk memanjatkan doa dan memohon ampunan secara sungguh-sungguh.
Pesan tersebut ditekankan oleh Ustaz M. Jarir dalam program Talkshow Kajian Ilmu (Takjil) yang disiarkan melalui kanal LDII TV. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan meraih kemuliaan malam tersebut sangat bergantung pada konsistensi hamba dalam beribadah sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadan.
“Lailatul Qadar merupakan anugerah besar dari Allah SWT bagi umat Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW menyontohkan kepada kita agar bersungguh-sungguh dalam beribadah pada sepuluh malam terakhir. Bahkan beliau sampai mengencangkan kain sarungnya sebagai kiasan untuk lebih fokus beribadah dan menjauhi kesibukan duniawi,”
ujar Ustaz Jarir.
Pahala Melimpah dan Inklusivitas Ibadah
Lebih lanjut, Ustaz Jarir memaparkan betapa besarnya nilai ibadah di malam Lailatul Qadar yang setara dengan beribadah selama lebih dari 83 tahun. Amalan seperti salat malam, tadarus Al Quran, zikir, dan doa ampunan harus menjadi prioritas utama.
“Jika seseorang mendapatkan Lailatul Qadar setiap tahun, tentu pahala yang diperoleh sangat luar biasa. Bayangkan berapa kali lipat umur ibadah yang dimiliki seorang hamba di hadapan Allah SWT,”
tambahnya.
Menariknya, Ustaz Jarir juga memberikan pencerahan bagi umat yang memiliki keterbatasan waktu, seperti pekerja shift atau musafir. Menurutnya, pintu keberkahan Lailatul Qadar terbuka lebar bagi siapa saja yang memiliki niat tulus.
“Mendapatkan Lailatul Qadar tidak harus selalu dilakukan dengan iktikaf di masjid. Bagi para pekerja shift malam atau mereka yang sedang dalam perjalanan (musafir), tetap dapat meraih keutamaannya dengan memperbanyak zikir, doa, dan istigfar di sela-sela aktivitasnya. Bahkan bagi wanita yang sedang berhalangan (haid), pintu ibadah tetap terbuka melalui zikir dan doa,”
jelasnya secara detail.
Fokus pada Seluruh Malam Terakhir
Terkait fenomena masyarakat yang sering mencari tanda-tanda fisik alam, Ustaz Jarir mengingatkan agar hal tersebut tidak menjadi fokus utama. Yang jauh lebih penting adalah menjaga stabilitas semangat ibadah di seluruh sisa malam Ramadan tanpa terkecuali.
“Allah SWT menyamarkan kapan tepatnya Lailatul Qadar agar umat Islam terus bersemangat meningkatkan ibadah pada seluruh sepuluh malam terakhir. Jangan hanya memilih malam-malam ganjil saja, tetapi maksimalkan seluruh malam tersebut agar tidak kehilangan kesempatan yang sangat berharga ini,”
tegasnya.
Sebagai penutup, Ustaz Jarir mengajak warga LDII dan seluruh umat Islam untuk memperbanyak doa pengampunan sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW, serta menuntaskan target "5 Sukses Ramadan".
“Ramadan adalah bulan pengampunan dosa. Sangat merugi jika seseorang melewati Ramadan tanpa memperoleh ampunan dari Allah SWT. Lailatul Qadar menjadi puncak dari berbagai keutamaan dan pengampunan tersebut,”
pungkasnya. Dengan kesungguhan di hari-hari terakhir ini, diharapkan setiap individu dapat meraih predikat takwa yang sesungguhnya dan mendapatkan keberkahan malam yang penuh kemuliaan tersebut.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.