Ilustrasi Warga Pesisir sedang menanam mangrove dan pengolahan sampah. (ing)
Oleh Sudarsono dan Atus Syahbudin*
Bayangkan sebuah kampung kecil di pesisir Sulawesi. Dahulu ia langganan banjir rob, tetapi hari ini berdiri sebagai benteng hijau yang teguh menghadapi perubahan iklim. Warganya menanam mangrove, memilah dan mengolah sampah, hingga saling berbagi pengetahuan tentang cuaca ekstrem. Ini bukan dongeng—ini potret kampung iklim yang berhasil.
Namun, kisah inspiratif itu hanya sebagian kecil dari mosaik besar bernama ProKlim. Di balik keberhasilan, masih ada kenyataan kompleks yang tak terucap. Program yang diinisiasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan lebih dari satu dekade lalu ini memikul harapan besar: masyarakat menjadi garda terdepan adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Pertanyaannya: apakah kenyataan di lapangan seindah rancangan di atas kertas?
Banyak kampung yang menerima label “kampung iklim” tanpa perubahan yang benar-benar terasa. Seremoni digelar, papan nama dipasang, tapi kegiatan berhenti begitu para tamu undangan pulang. Sementara kampung-kampung paling rentan justru kadang tak tersentuh.
Dari Konsep Besar ke Aksi Nyata
Perubahan iklim bukan ancaman masa depan—ia sudah menjadi tamu tetap di halaman rumah kita. Musim tak menentu, banjir bandang, gelombang panas, semua menyentuh kampung demi kampung di pelosok Nusantara.
ProKlim lahir sebagai respons: sebuah ikhtiar agar masyarakat tak hanya menjadi korban, tetapi pelaku perubahan. Secara konseptual, program ini berdiri di atas beberapa pilar: edukasi iklim, adaptasi lingkungan, mitigasi emisi, serta penguatan jejaring lokal.
Di atas kertas, itu visi yang mulia. Tetapi ketika turun ke wilayah, implementasinya sering kali jauh dari ideal.
Ketika Label “Kampung Iklim” Tak Selalu Berarti Perubahan
Di forum nasional, ProKlim tampak gemilang. Ribuan lokasi terdaftar, penghargaan dibagikan tiap tahun, presentasi keberhasilan menghiasi konferensi. Namun ketika menengok ke kampung-kampung peserta, kenyataannya tak selalu sejalan.
Tak sedikit kampung yang hanya memiliki papan nama ProKlim, tanpa kegiatan yang berjalan. Penanaman pohon dilakukan sekali setahun hanya untuk dokumentasi. Sosialisasi lingkungan berhenti ketika proyek selesai. Banyak warga bahkan tidak tahu bahwa tempat tinggal mereka tercatat sebagai kampung iklim.
Lebih menyedihkan, kampung yang justru paling rentan—daerah pesisir, pedalaman, dan kawasan gambut—tidak selalu mendapat pendampingan memadai.
Ketika Kampung Menjadi Inspirasi Iklim
Mamboro Barat, Palu — Mangrove sebagai Tameng Hidup
Dulu rawan banjir rob, kini menjadi kawasan tangguh berkat gerakan menanam mangrove yang digagas warga sendiri. Sampah dikelola, edukasi iklim hidup di sekolah, dan kesadaran ekologis tumbuh alami.
Seratus Desa di Sumatera Selatan — Ekonomi Hijau yang Membumi
Lewat sinergi KLHK, UNOPS, dan PT Sucofindo, masyarakat diberdayakan untuk bertani berkelanjutan, memanfaatkan energi terbarukan, hingga membangun usaha hijau.
Desa-desa di Jawa Tengah dan Bali — Konsistensi yang Membuahkan Penghargaan
Dari biopori, bank sampah, hingga konservasi air, inovasi lokal tumbuh menjadi budaya yang berkelanjutan.
ProKlim Binaan LDII — Ketika Iklim Bertemu Pendidikan Karakter
ProKlim Utama Sangurejo, RW 05 Agrowisata Pekanbaru, hingga Dusun Ngampel membuktikan bahwa aksi lingkungan dapat berdampingan dengan pendidikan karakter, teknologi hijau, dan kemandirian ekonomi.
Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa ProKlim bisa berhasil ketika tiga unsur berpadu: pendampingan intensif, partisipasi aktif masyarakat, dan kemitraan lintas sektor.
Ketika Ide Besar Tersandung di Jalan Kampung
Meski banyak kisah inspiratif, kesenjangan implementasi tetap lebar.
- Kesenjangan Partisipasi: warga sering hanya menjadi penonton proyek, bukan pelaku.
- Kesenjangan Kapasitas: perangkat desa dan masyarakat masih minim pemahaman tentang adaptasi iklim.
- Kesenjangan Geografis: wilayah luar Jawa kurang terjangkau pendampingan.
- Kesenjangan Evaluasi: keberhasilan sering dihitung dari administrasi, bukan dampak nyata.
Agar ProKlim Menjadi Gerakan, Bukan Seremoni
Jika ProKlim ingin menjadi penggerak perubahan, beberapa langkah mendesak perlu dilakukan.
1. Penguatan Kapasitas Lokal
Edukasi iklim harus membumi: berbahasa lokal, visual, dan relevan dengan kehidupan warga. Pelatihan untuk perangkat desa, pemuda, dan kader lingkungan menjadi kunci lahirnya agen perubahan.
2. Partisipasi dan Kolaborasi
Warga harus dilibatkan sejak awal: memetakan risiko, merancang solusi, hingga mengevaluasi dampak. Kemitraan dengan akademisi, LSM, sektor swasta, dan media memperkuat ekosistem kampung iklim.
3. Pemantauan Berbasis Komunitas
Kampung membutuhkan alat evaluasi sederhana yang transparan. Data yang jujur akan melahirkan perbaikan yang tepat sasaran.
Pada akhirnya, kampung bukan hanya tempat tinggal—ia adalah laboratorium masa depan. Jika ProKlim ingin menjadi gerakan yang hidup, ia harus menumbuhkan kesadaran, keterlibatan, dan keberlanjutan dari warga itu sendiri.
