Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Bapak/Ibu yang saya hormati, para guru hebat Indonesia, seluruh tenaga kependidikan, para tamu undangan, serta para siswa yang saya banggakan. Pada pagi yang penuh berkah ini, tepat tanggal 25 November 2025, kita berkumpul untuk memperingati momen istimewa: Hari Guru Nasional 2025.
Upacara Hari Guru adalah saat bagi kita untuk menundukkan kepala, merenungkan jasa-jasa para pahlawan tanpa tanda jasa, serta meneguhkan kembali komitmen kita dalam membangun pendidikan bangsa. Tahun ini, Hari Guru Nasional mengusung tema “Guru Hebat, Indonesia Kuat.” Sebuah tema yang bukan hanya slogan, tetapi cermin dari harapan bangsa terhadap pendidikan.
Bapak/Ibu guru yang saya muliakan, izinkan pada kesempatan ini saya menyampaikan rasa hormat, penghargaan, dan terima kasih yang sedalam-dalamnya. Guru bukan sekadar profesi; guru adalah panggilan jiwa. Guru adalah madrasah pertama, inspirasi pertama, teladan pertama, sekaligus penentu arah masa depan bangsa.
Sejak ratusan tahun lalu, di tengah keterbatasan perjuangan bangsa, guru telah hadir sebagai penyala obor pengetahuan. Guru membangunkan kesadaran kritis rakyat, menyemai jiwa nasionalisme, dan mencetak generasi yang kelak menjadi pemimpin bangsa.
Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menegaskan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas mendidik, mengajar, membimbing, dan menilai perkembangan peserta didik. Namun, faktanya peran guru jauh lebih besar daripada sekadar apa yang tertulis di undang-undang. Guru adalah penjaga peradaban.
Kita hidup dalam era yang berubah sangat cepat. Teknologi bergerak jauh lebih cepat daripada pemahaman kita terhadapnya. Informasi mengalir tanpa filter. Dunia kerja berubah drastis. Sementara itu, moralitas dan karakter anak bangsa diuji oleh derasnya arus globalisasi.
Di tengah situasi ini, peran guru justru semakin vital. Guru bukan hanya penyampai materi, tetapi navigator moral. Guru bukan hanya menjelaskan rumus, tetapi membentuk watak. Guru bukan hanya memberi angka, tetapi memberi makna. Karena itu, tema “Guru Hebat, Indonesia Kuat” sangat tepat: bila guru kuat, bangsa akan tegak. Bila guru lemah, bangsa akan goyah.
Bapak/Ibu yang saya banggakan, banyak di antara kita mengenal sosok guru yang begitu berkesan dalam hidup kita. Ada guru yang berjalan berkilometer menembus hujan hanya demi hadir di kelas tepat waktu. Ada guru yang mengajar dengan papan tulis reyot, namun tetap membangkitkan semangat murid-muridnya. Ada guru yang mengajar tanpa lelah, meskipun kesehatannya tidak selalu sempurna.
Semangat guru adalah semangat pengabdian. Dan dari ketulusan itu lahir kekuatan bangsa. Bahkan Rasulullah ﷺ bersabda:
Hadis ini menunjukkan bahwa profesi guru adalah profesi mulia yang dicintai Allah. Mengajarkan ilmu adalah ibadah. Membimbing anak-anak adalah ladang pahala yang terus mengalir. Setiap huruf yang diajarkan, setiap kesabaran yang ditebarkan, setiap senyum yang diberikan—semua tercatat sebagai amal kebaikan.
Kita semua menyadari bahwa tahun 2045 adalah momentum penting dalam sejarah Indonesia. Pada saat itu, bangsa kita memasuki usia emas: 100 tahun kemerdekaan. Untuk mencapai Indonesia Emas, kualitas pendidikan menjadi kunci. Dan pada gilirannya, kualitas pendidikan bermuara pada kualitas guru.
Guru hebat bukan semata-mata guru yang menguasai teknologi, tetapi guru yang mampu memadukan kompetensi, kreativitas, keteladanan, dan integritas. Guru yang adaptif. Guru yang sabar. Guru yang mampu membaca zaman namun tetap menjaga nilai-nilai moral.
Di era digital, guru harus mampu menjadi fasilitator, mentor, sekaligus penjaga karakter. Anak-anak membutuhkan bimbingan untuk menavigasi dunia yang kompleks, dan guru adalah kompasnya.
Para guru tidak hanya membentuk kecerdasan kognitif, tetapi juga kecerdasan emosional dan spiritual. Dalam diri guru terdapat peran sebagai teladan akhlak. Sebab itu dalam Islam, guru disebut sebagai murabbi, yakni orang yang membina, membesarkan, dan mengarahkan.
Al-Qur’an mengingatkan kita:
Ayat ini menjadi dasar bagi para guru untuk mendidik dengan kelembutan, kebijaksanaan, dan keteladanan. Pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang menyentuh hati, bukan sekadar memuaskan angka di raport.
Di tengah berbagai tantangan, guru Indonesia telah menunjukkan ketangguhan luar biasa. Mulai dari masa pandemi, masa pemulihan, hingga kini memasuki era digitalisasi pendidikan, guru tetap berdiri tegak, mengajar dengan sepenuh hati.
Karena itu, Hari Guru Nasional bukan hanya hari peringatan, tetapi hari renungan: sudahkah kita memberikan penghargaan yang layak bagi guru? Sudahkah kita membantu guru untuk terus berkembang? Sudahkah kita menempatkan guru sebagai pilar peradaban bangsa?
Anak-anakku, para pelajar yang saya cintai. Hari ini adalah kesempatan untuk merenung. Di hadapanmu ada guru-guru yang telah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk mendidik kalian. Jadikanlah Hari Guru sebagai momen untuk mengucapkan terima kasih, tetapi lebih dari itu—jadikanlah sebagai tekad untuk belajar lebih baik, berdisiplin, dan menghormati guru sepanjang masa.
Kalian adalah generasi penerus bangsa. Kalianlah yang kelak akan memimpin Indonesia. Dan fondasi kepemimpinan itu dibangun dari hormat kepada guru.
Bapak/Ibu guru yang saya hormati, izinkan saya menutup amanat ini dengan doa dan harapan. Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada para guru untuk terus mengabdi, menjaga keikhlasan dalam mendidik, serta memberi keberkahan atas ilmu yang diajarkan.
Terima kasih atas segala pengorbanan, perjuangan, dan ketulusan Bapak/Ibu guru. Semoga Hari Guru Nasional 2025 menjadi momentum untuk memperkuat komitmen kita dalam mewujudkan Indonesia yang cerdas, berkarakter, dan berdaya saing.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
%