Road to Muswil IX LDII Sulawesi Utara, DPW Gelar Forum Group Discussion


Manado (20/10). DPW LDII Sulawesi Utara (Sulut) menggelar diskusi terpumpun (FGD) di aula Masjid Baitul Ulya, Desa Buha, Manado, sebagai rangkaian Pra Muswil IX 2022. Acara itu digelar secara hybrid yang diikuti para peserta dari DPD LDII tingkat kabupaten/Kota dari delapan titik studio.

Membuka FGD, Ketua DPW LDII Sulut, Djafar Wonggo mengatakan dalam sambutannya, Muswil LDII Sulut akan digelar di Graha Gubernur pada 29 Oktober mendatang. Karena itu para peserta perlu diberi pembekalan agar dapat berkontribusi dalam perencanaan strategis Muswil. “Terkait pembahasan diskusi tak dipungkiri karena keadaan ekonomi Indonesia masih tertinggal dari negara tetangga di sekitarnya, karena itu perlu upaya bersama,” katanya.

Ketua DPP LDII Bidang Ekonomi dan Pemberdayaan Umat, Ardito Bhinadi yang menjadi narasumber acara tersebut, mengatakan bahwa pemberdayaan ekonomi umat berkaitan dengan lingkungan strategis global dan nasional, serta peran ormas Islam membangkitkan ekonomi masyarakat agar bangkit dan pulih lebih kuat.

“Contoh saat ini yang terjadi yakni perubahan ekonomi tradisional, industri, dan digital. Seperti adanya penggunaan uang digital untuk pembayaran sehari-hari. Meskipun perubahan tersebut banyak kekurangannya, namun masyarakat masa kini perlu menyikapi perubahan sebagai langkah antisipasi,” ujar Ardito.

Ancaman resesi dunia akibat perang dan sejarah yang berulang perlu dipelajari bersama. Isu global tersebut, menurut Ardito akan menimbulkan krisis pangan, terlebih Dana Moneter Internasional (IMF) baru saja menyampaikan sepertiga keuangan dunia akan masuk tahap resesi. Meski demikian pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Utara meningkat saat ini, karena persentase kemiskinan yang lebih rendah dari persentase secara nasional.

Terlepas dari data tersebut, Ardito melanjutkan, yang diperlukan adalah kolaborasi dan gotong royong ekonomi masyarakat dalam hal ini ekonomi umat melalui ormas Islam. Tentunya perlu kerja sama dengan pelaku industri lain, pemerintah serta masyarakat lainnya. Selama ini kompetisi meningkatkan daya saing, kini dengan gotong royong dan kolaborasi, ekonomi lebih kuat dan efisien.

Penguatan sistem ekonomi syariah menjadi salah satu dari delapan bidang pengabdian LDII sebagai program prioritas. Sejak tahun 1998, LDII mendorong warganya untuk mengembangkan ekonomi syariah, salah satunya melalui pembentukan koperasi atau Usaha Bersama (UB), “Di LDII itu ada UB, koperasi, BMT, digital marketing, dan lembaga keuangan syariah. Ini yang coba kita kembangkan potensinya bersama,” ujarnya.

Termasuk mengembangkan perilaku tabiat luhur personal salah satunya pola hidup kerja cerdas dan hemat. “Mengatur ulang komposisi berbelanja, buat pengeluaran yang menghasilkan, bukan menghabiskan,” ujarnya.

Sebagai kontribusi lanjutan, LDII melakukan kerja sama dengan Bank Syariah Indonesia (BSI) sebagai penguatan sistem ekonomi syariah. Branch Manager BSI KC Mega Mas Manado, Irwanto Azis yang saat FGD itu hadir mengatakan, sebagai langkah kolaborasi, pihaknya siap membantu pembiayaan Usaha Bersama (UB), Baitul Mal Wa Tamwil (BMT) dan pembuatan rekening masjid-masjid yang berada di bawah naungan LDII.

“Kami memiliki beberapa fitur produk yang mampu digunakan oleh warga LDII dan masyarakat umum lainnya untuk mengembangkan sistem ekonomi syariah,” ujarnya.Ia berharap, BSI dapat menjadi mitra strategis LDII untuk menguatkan sistem ekonomi syariah di Indonesia, “Terutama di kalangan
warga LDII,” pungkasnya.

Seorang pelaku bisnis yang juga narasumber acara, H. Sultan Ginanjar juga menyetujui kerja sama BSI dan LDII untuk memperluas layanan pembiayaan ekonomi syariah, hingga dapat menjangkau para pelaku bisnis sub-mikro agar berkembang.

“Kelembagaan bank syariah sudah teruji dengan baik, maka dari itu perlu bermitra dengan ormas atau masjid yang bisa mendistribusikan kepada umat, menjangkau hingga ke pelaku usaha sub-mikro,” katanya.

0 Komentar