LDII dan TNI AD Sepakat Jalin Kerjasama Terkait Ketahanan Pangan dan Bela Negara

 

LDII dan TNI AD Sepakat Jalin Kerjasama Terkait Ketahanan Pangan dan Bela Negara


Jakarta (15/10). DPP LDII melakukan silaturrahim dengan Asisten Teritorial Kepala Staf Angkatan Darat (Aster Kasad) Mayor Jenderal TNI Karmin Suharna. Pada pertemuan itu, DPP LDII dan TNI AD menemukan titik temu dalam kerja sama ketahanan pangan dan bela negara.

Acara itu berlangsung di Markas Besar TNI AD, Gambir, Jakarta, pada Kamis, 13 Oktober 2022. Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso, didampingi oleh Ketua DPP LDII Prof. Singgih Tri Sulistyono, Ketua DPP LDII Prof. Rubiyo, Ketua Departemen PKD KH. Aceng Karimullah, serta Sekretaris Rioberto Sidauruk. 

Pada pertemuan itu, DPP LDII menayangkan video 8 (Delapan) Bidang Pengabdian DPP LDII untuk Bangsa. Ulasan video terkait kontribusi LDII di Bidang Kebangsaan, Keagamaan, Pendidikan, Kesehatan Alami, Teknologi Digital, Ekonomi Syariah, Ketahanan Pangan dan Lingkungan Hidup dan Energi Baru Terbarukan.


LDII dan TNI AD Sepakat Jalin Kerjasama Terkait Ketahanan Pangan dan Bela Negara


Mayjen TNI Karmin Suharna menyampaikan apresiasi atas pencapaian LDII. Menurutnya, LDII sangat peduli dengan NKRI - Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ia bercerita, ketika Reformasi 1998 terjadi. Ada sendi-sendi utama demokrasi yang harus dipertahankan, justru malah disingkirkan. Demokrasi seharusnya tidak boleh lepas dari nilai-nilai Pancasila dan bertanggungjawab.  

“Tapi pada kenyataannya kita bisa melihat sendiri. Saya kaget ketika tahun 2014 dimana ada kelompok transnasional. Yang (mereka, red) bebas mendeklarasikan Khilafah. Pengalaman hidup membawa saya besar di daerah konflik. Saya mengerti kenapa mereka berpecah belah. Saya pernah di Timtim, Sudan, Kongo, Lebanon, Yugoslavia,” ujarnya. 

Mayjen TNI Karmin Suharna juga menceritakan, Yugoslavia yang multietnik pecah menjadi beberapa negara akibat kehilangan sosok pemersatu yang kuat. Yaitu Josip Broz Tito. Terdapat juga dorongan kekuatan eksternal membuat negeri itu pecah. 


LDII dan TNI AD Sepakat Jalin Kerjasama Terkait Ketahanan Pangan dan Bela Negara


Lalu di Sudan Tengah yang beretnis Arab keturunan Afrika dan Afrika asli. Keduanya etnis yang menganut agama Islam. Hanya saja rezim keturunan arab lebih mengutamakan golongannya dan memarginalkan etnis lain. Akibatnya, terjadilah konflik. Indonesia patut bersyukur karena punya Pancasila yang menyatukan rakyat. 

“Saya merasa misi LDII sangat mulia karena kita memiliki tujuan yang sama. Bagi TNI, NKRI harus dipertahankan. Soal kita kembali kepada Allah, sesuai dengan akidah dan keyakinan masing-masing. Kalau kita berbuat baik sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing,” ujarnya. 

Terkait ketahanan pangan, Mayjen TNI Karmin Suharna menjelaskan , sesuai dengan arahan Presiden Jokowi. TNI AD telah mengantisipasi ketahanan pangan dengan penyediaan lahan, seluas 7.000 hektar untuk jagung dan 1.000 hektar untuk padi. 

“Saya akan mapping di beberapa wilayah yang mungkin ada jaringan LDII, akan kita hubungkan dengan Pangdam, Danrem, Dandim, sampai ke tingkat Babinsa. Apa saja bisa kita kerjasamakan terkait ketahanan pangan,” ujarnya.  


LDII dan TNI AD Sepakat Jalin Kerjasama Terkait Ketahanan Pangan dan Bela Negara


Sementara terkait bela negara, TNI AD siap memberikan asistensi sesuai kebutuhan. Namun Mayjen TNI Karmin Suharna menegaskan, doktrin tersebut merupakan tanggung jawab bersama untuk keutuhan negara, bukan hanya TNI. “TNI siap memberikan apa saja agar NKRI bisa tetap eksis. Saya sangat berterimakasih dengan LDII. Melihat dari program dan visi misi, LDII sangat berkesinambungan dengan TNI AD. Terutama soal ketahanan pangan dan bela negara. Nota kesepahaman ke depan, saya meyakini bisa ditindaklanjuti dan akan lebih luas kerjasamanya,” ujarnya. 

Menanggapi antusiasnya Mayjen TNI Karmin Suharna, KH. Chriswanto Santoso menyampaikan LDII sangat berkepentingan meletakan bidang Kebangsaan sebagai prioritas utama. “Kebangsaan menjadi yang utama karena kami lahir, besar, hidup, dan mati di Indonesia. Goncangnya Indonesia akan menjadi goncang kami. Ibarat sebuah kapal besar, jika Indonesia goncang. Kami akan mabuk, toh kami akan kesulitan untuk beribadah dan berdakwah,” ujarnya.  

DPP LDII menyadari, pendidikan wawasan kebangsaan tidak cukup dengan kurikulum. Santri-santri di ponpes-ponpes binaan LDII silih berganti tiap tahun. Pendidikan wawasan kebangsaan dan bela negara tidak boleh berhenti dan harus berkelanjutan.


LDII dan TNI AD Sepakat Jalin Kerjasama Terkait Ketahanan Pangan dan Bela Negara


“Itulah alasan kami ingin membangun kembali kegiatan bela negara. Sejatinya untuk memperkuat 8 bidang prioritas pengabdian LDII, salah satunya kebangsaan. Dulu kami memulai kegiatan bela negara di Markas Kopassus Cijantung yang diinisiasi Komandan Kopasus, Mayjen Herindra, lalu dengan Kodam Siliwangi, Kodam Diponegoro, Kodam Brawijaya, dan Kodam Hasanudin. Kegiatan ini terus dilakukan untuk mengingatkan santri jika kita bangsa Indoneisa, lahir di Indonesia, dan hidup di Indonesia,” ujarnya. 

Menurut KH. Chriswanto Santoso, apa artinya LDII, jika tidak mengkolaborasikan seluruh kegiatan pengabdiannya dengan potensi-potensi lainnya di Indonesia. Ia menginginkan, baik itu LDII maupun pihak lain, bisa hidup dengan bersanding bukan bersaing. Harapannya negara Indonesia bisa menjadi negara maju.

0 Komentar