JAKARTA – Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Agama secara resmi menetapkan awal bulan Zulhijah 1447 Hijriah jatuh pada Senin, 18 Mei 2026. Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan hasil hisab dan laporan rukyatul hilal dari berbagai titik pengamatan di seluruh tanah air. Dalam momentum krusial ini, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) turut memainkan peran strategis dengan mengerahkan 86 tim rukyatul hilal untuk menyediakan data verifikasi yang akurat demi mendukung kesatuan langkah umat Islam dalam beribadah.
Langkah penetapan ini bukan sekadar urusan penanggalan administratif. Perwakilan Pokja Rukyatul Hilal DPP LDII, Ismail Wahyu Kurnia, menekankan bahwa akurasi penetapan 1 Zulhijah memiliki bobot spiritual yang sama besarnya dengan penentuan Ramadan maupun Syawal. Hal ini berkaitan erat dengan sinkronisasi waktu pelaksanaan rangkaian ibadah haji di tanah suci serta penyembelihan hewan kurban bagi mereka yang tidak berangkat ke Baitullah.
“Penetapan 1 Zulhijah sangat krusial karena berkaitan langsung dengan pelaksanaan ibadah haji, mulai dari wukuf di Arafah, mabit, hingga lempar jumrah. Selain itu juga menentukan waktu pelaksanaan ibadah kurban,” ujar Ismail Wahyu Kurnia saat menghadiri acara “Live Sidang Isbat Penentuan 1 Zulhijah 1447 H & Puncak Haji 2026”.
Metode Hisab dan Tantangan Lapangan
Dalam menentukan awal bulan Hijriah, LDII mengombinasikan metode hisab (perhitungan astronomis) dengan rukyatul hilal (observasi visual). Meski secara perhitungan matematis posisi hilal sudah dapat diprediksi jauh-jauh hari, pembuktian secara visual di lapangan tetap menjadi standar keabsahan yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Namun, memburu visualisasi hilal di kaki langit Indonesia bukanlah tanpa hambatan. Selain faktor cuaca yang sering kali tidak menentu, fenomena unik terkadang mewarnai proses pengamatan. Ismail menceritakan betapa dinamika cuaca sering kali mengecoh tim di lapangan.
“Kadang saat berangkat hujan, tetapi di lokasi pengamatan justru cerah. Ada juga momen ketika hilal terlihat indah namun dilintasi pesawat,” kata Ismail.
Dinamika ini menuntut kemahiran tim pengamat. Data teknis dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai ketinggian hilal dan elongasi memang menjadi kompas utama, tetapi keterampilan mata telanjang dan alat optik tetap menjadi penentu. Ismail menegaskan bahwa tinggi hilal yang sudah memenuhi kriteria imkan rukyat secara teoritis belum tentu mudah tertangkap mata jika tim tidak terlatih menghadapi gangguan atmosfer.
Sinergi Ormas Islam dan Pemerintah
LDII secara konsisten menempatkan diri sebagai pendukung otoritas pemerintah dalam menjaga harmoni umat. Dengan menyebar 86 tim di seluruh pelosok Indonesia, LDII berupaya memperkaya data bagi pemerintah sebelum mengetok palu di Sidang Isbat. Ketua PKD LDII, Wilnan Fatahilah, memandang kontribusi ini sebagai bentuk tanggung jawab organisasi terhadap negara dan agama.
“Kami ingin berkontribusi memberikan data dan verifikasi kepada pemerintah. Sidang isbat menjadi penengah dan pemersatu bagi umat,” tegas Wilnan Fatahilah.
Kesiapan Jamaah Haji di Tengah Cuaca Ekstrem
Bergeser ke tanah suci, laporan dari Media Center Haji (MCH) di Arab Saudi mencatat lebih dari 170 ribu jamaah haji Indonesia telah memadati kota Makkah hingga pertengahan Mei 2026. Gelombang kedatangan akan terus berlanjut hingga penerbangan terakhir yang dijadwalkan pada 21 Mei mendatang.
Kondisi alam menjadi tantangan tersendiri bagi para tamu Allah. Suhu di Makkah dilaporkan menyentuh angka 40 derajat Celsius. Dalam situasi ini, Ismail Wahyu Kurnia mengingatkan para jamaah untuk bijak dalam mengelola energi. Fokus utama harus tetap pada puncak haji atau Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina).
“Banyak jamaah terlalu memaksimalkan tawaf dan ibadah sunnah lainnya, tetapi saat puncak Armuzna justru drop. Padahal inti haji ada di Arafah,” imbuh Ismail memperingatkan agar jamaah menjaga kondisi fisik agar tetap prima saat wukuf nanti.
Selain kesehatan, aspek legalitas juga menjadi perhatian serius. Otoritas Arab Saudi dilaporkan tengah memperketat pengawasan terhadap praktik haji ilegal. Setidaknya 19 WNI sempat diamankan karena diduga melanggar aturan izin haji dan menyalahgunakan atribut petugas. Hal ini menjadi pengingat bagi calon jamaah lainnya untuk selalu mengikuti prosedur resmi yang berlaku demi kelancaran ibadah.
Filosofi Kurban dan Kesalehan Sosial
Menutup diskursus mengenai Zulhijah, Ismail mengajak umat Islam untuk tidak hanya melihat ibadah kurban sebagai rutinitas tahunan secara vertikal (habluminallah), tetapi juga sebagai aksi nyata kepedulian sosial (habluminannas). Kurban adalah momentum untuk mengasah empati melalui pembagian daging kepada mereka yang membutuhkan.
“Jangan sampai berkurban sambil mengeluh atau menggerutu. Ibadah kurban adalah latihan keikhlasan dan kepedulian sosial,” pungkas Ismail sembari mengajak umat untuk meneladani keteguhan hati Nabi Ibrahim AS.
Glossary Istilah
- Hisab: Metode perhitungan astronomis untuk menentukan posisi bulan dan matahari.
- Rukyatul Hilal: Aktivitas mengamati visibilitas bulan sabit (hilal) untuk menentukan awal bulan Hijriah.
- Sidang Isbat: Pertemuan formal yang digelar pemerintah untuk menetapkan waktu ibadah secara nasional.
- Imkan Rukyat: Kriteria batas minimal posisi hilal yang memungkinkan untuk dapat dilihat secara visual.
- Armuzna: Singkatan dari Arafah, Muzdalifah, dan Mina, yaitu tiga lokasi utama puncak ibadah haji.
- Habluminallah & Habluminannas: Hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan sesama manusia.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.