Wanita Tak Lagi Sekedar di Dapur, di Sumur, dan di Kasur

Wanita Tak Lagi Sekedar di Dapur, di Sumur, dan di Kasur | Kartini LDII
✦ Hari Kartini · Wanita & Islam ✦

Wanita Tak Lagi Sekedar di Dapur, Sumur, dan Kasur

Menapaki jejak perjuangan RA Kartini melalui lensa keimanan dan kemuliaan wanita muslimah

"Habis Gelap Terbitlah Terang"
— Raden Ajeng Kartini (1879–1904)

Perjuangan yang Melintasi Zaman

Raden Ajeng Kartini — seorang putri bangsawan Jawa dari Jepara — menorehkan namanya dalam sejarah bukan dengan pedang, melainkan dengan pena. Lahir pada 21 April 1879, ia tumbuh dalam era kolonialisme yang mengekang, di mana perempuan Jawa dari kalangan bangsawan diharuskan menjalani pingitan: dikurung di balik dinding rumah, jauh dari pendidikan dan pergaulan dunia luar.

Namun api semangat Kartini tak padam oleh tembok pingitan. Melalui surat-suratnya yang kemudian terkenal — dikumpulkan dalam buku "Door Duisternis tot Licht" (Habis Gelap Terbitlah Terang) — ia menggugat ketidakadilan dengan kata-kata yang menggetarkan hati. Perjuangan gigihnya dalam membuka akses pendidikan bagi perempuan Indonesia kini telah menuai hasil yang luar biasa.

"Di era modern, pintu yang dulu tertutup rapat kini terbuka lebar — perempuan memimpin perusahaan, mengorbit ilmu pengetahuan, dan mewarnai panggung kepemimpinan bangsa."

Kalimat "wanita hanya bisa di dapur, di sumur, dan di kasur" yang dulu lekat sebagai pembatas ruang gerak perempuan, kini telah kehilangan relevansinya. Banyak wanita Indonesia berkecimpung di ranah yang dulunya hanya ditempati kaum pria: dokter, hakim, pilot, ilmuwan, hingga kepala negara.

Wanita dalam Pandangan Al-Qur'an

Islam jauh mendahului Kartini dalam mengangkat derajat wanita. Ketika bangsa Arab jahiliyah menganggap kelahiran bayi perempuan sebagai aib, Al-Qur'an hadir menegaskan kesetaraan manusia di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Dalil Al-Qur'an
إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

"Innal muslimīna wal muslimāti wal mu'minīna wal mu'mināti wal qānitīna wal qānitāti was sādiqīna was sādiqāti was sābirīna was sābirāti wal khāsyi'īna wal khāsyi'āti wal mutasaddiqīna wal mutasaddiqāti was sā'imīna was sā'imāti wal hāfizīna furūjahum wal hāfizāti wadz dzākirīnallāha katsīran wadz dzākirāti a'addallāhu lahum maghfiratan wa ajran 'azīmā."

Artinya: "Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar."

QS. Al-Ahzab [33]: 35

Ayat di atas — yang turun sebagai respons atas pertanyaan istri-istri Nabi — dengan tegas menyebutkan wanita secara setara berdampingan dengan laki-laki dalam setiap sifat kebaikan: muslimah, mukminah, qanitah (taat), sadiqah (jujur), sabirah (sabar), khasy'iah (khusyuk), serta menjaga kehormatan. Ini adalah deklarasi agung tentang kemuliaan wanita.

Dalil Al-Qur'an
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً

"Yā ayyuhan nāsu ittaqū rabbakumulladzī khalaqakum min nafsin wāhidatin wa khalaqa minhā zawjahā wa batstsa minhumā rijālan katsīran wa nisā'ā..."

Artinya: "Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)-nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak..."

QS. An-Nisa' [4]: 1
Dalil Al-Qur'an
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

"Yā ayyuhan nāsu innā khalaqnākum min dzakarin wa untsā wa ja'alnākum syu'ūban wa qabā'ila lita'ārafū inna akramakum 'indallāhi atqākum..."

Artinya: "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa."

QS. Al-Hujurat [49]: 13

Wanita Mulia dalam Hadis Nabi ﷺ

Rasulullah ﷺ adalah sosok yang paling memuliakan wanita. Beliau mengangkat derajat ibu tiga tingkat di atas ayah, menyebut wanita shalihah sebagai sebaik-baik perhiasan dunia, dan melarang keras sikap meremehkan terhadap perempuan.

✦ Hadis Shahih
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أَبُوكَ

Artinya: Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ dan bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak mendapatkan perlakuan baikku?" Beliau menjawab, "Ibumu." Ia bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Beliau menjawab, "Ibumu." Ia bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Beliau menjawab, "Ibumu." Ia bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Beliau menjawab, "Ayahmu."

HR. Bukhari No. 5971 & Muslim No. 2548
✦ Hadis Shahih
الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ

Artinya: "Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah."

HR. Muslim No. 1467
✦ Hadis Shahih
اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا

Artinya: "Berwasiatlah untuk berbuat kebaikan kepada para wanita." (Rasulullah ﷺ menyampaikan pesan ini dalam khutbah haji wada' sebagai salah satu wasiat terpenting beliau.)

HR. Bukhari No. 5186 & Muslim No. 1468

Enam Mahkota Wanita Mulia

Di tengah gemuruh kemajuan zaman, wanita muslimah tetap berpijak pada enam sifat agung yang Allah sebutkan dalam Al-Qur'an (QS. At-Tahrim [66]: 5) sebagai landasan kemuliaan sejati:

🌸
مُسْلِمَاتٍ
Muslimatim
Berserah diri kepada Allah
💚
مُؤْمِنَاتٍ
Mukminatim
Teguh dalam keimanan
🌿
قَانِتَاتٍ
Qanitatim
Taat dan khusyuk
تَائِبَاتٍ
Taibatim
Senantiasa bertaubat
🕊️
سَائِحَاتٍ
Saihatim
Rajin berpuasa & ibadah
🛡️
حَافِظَاتٍ
Menjaga Kehormatan
Iffah & 'adalah
Dalil Al-Qur'an
عَسَىٰ رَبُّهُ إِن طَلَّقَكُنَّ أَن يُبْدِلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا مِّنكُنَّ مُسْلِمَاتٍ مُّؤْمِنَاتٍ قَانِتَاتٍ تَائِبَاتٍ عَابِدَاتٍ سَائِحَاتٍ ثَيِّبَاتٍ وَأَبْكَارًا

Artinya: "Jika dia (Nabi) menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik dari kamu: yang patuh, beriman, taat, bertobat, beribadah, berpuasa, janda, dan perawan."

QS. At-Tahrim [66]: 5

Kartini dan Muslimah: Dua Sayap Satu Elang

Perjuangan Kartini dan ajaran Islam bukanlah dua hal yang bertentangan. Keduanya berbicara tentang satu hal yang sama: memuliakan wanita. Kartini berjuang agar wanita mendapat akses pendidikan dan kebebasan berekspresi. Islam menetapkan bahwa kemuliaan sejati wanita ada pada ketakwaan, akhlak mulia, dan integritas iman.

Wanita modern yang ideal adalah ia yang mampu berdiri tegak di panggung dunia — berprestasi, berkarya, memimpin — namun tidak kehilangan jati dirinya sebagai seorang muslimah. Seperti batik yang menjadi identitas Kartini: indah di luar karena ditempa dengan sabar dan penuh makna di dalam.

"Wanita adalah tiang negara. Bila wanita itu baik, maka baiklah negara itu. Bila wanita itu rusak, maka rusaklah negara itu."
— Pepatah Arab (dikutip para ulama)

Meneruskan semangat Kartini dalam bingkai nilai-nilai Islam yang mulia

Lebih baru Lebih lama