Inovasi Pendidikan Terpadu di Wonogiri
Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPD LDII) Kabupaten Wonogiri kini tengah melakukan langkah strategis dalam dunia pendidikan. Mereka mengembangkan sistem pendidikan terpadu yang menyatukan kurikulum keagamaan pesantren dengan kurikulum pendidikan formal nasional. Terobosan ini bertujuan untuk mencetak generasi yang tidak hanya memahami ilmu agama secara mendalam, tetapi juga memiliki bekal akademik yang kuat guna bersaing di masa depan.
Ketua DPD LDII Kabupaten Wonogiri, Sutoyo, mengungkapkan hal tersebut di hadapan awak media dalam acara media gathering yang diselenggarakan di Resto Jawi, Ngadirojo, Wonogiri, pada Jumat (13/3/2026). Ia menekankan pentingnya penguasaan ilmu agama (tafaqquh fidden) yang dibarengi dengan kepemilikan ijazah resmi dari negara.
“Kami ingin mengombinasikan pendidikan keagamaan dengan pendidikan formal. Sehingga ilmu agama dan ijazah sekolah formal sama-sama dapat,” ujar Sutoyo.
Daftar Pesantren dan Fasilitas Pendidikan
Hingga saat ini, pengurus LDII setempat telah mengelola empat pondok pesantren besar di wilayah Wonogiri yang masing-masing telah dilengkapi dengan fasilitas sekolah formal di berbagai tingkatan. Keempat pesantren tersebut menjadi percontohan bagi penerapan sistem pendidikan satu atap.
- Ponpes Al Barru Bulusulur: Menyediakan jenjang pendidikan menengah pertama melalui SMP dan jenjang menengah atas melalui SMA Bina Insani.
- Ponpes Bairuha Jatipurno: Melengkapi fasilitasnya dengan unit pendidikan dasar dan menengah melalui SD dan SMP Budi Utomo.
- Ponpes Citra Suhada Jatisrono: Fokus pada pengembangan karakter santri melalui integrasi kurikulum mandiri.
- Ponpes Baitul Izzah Jatipurno: Memfokuskan diri pada layanan pendidikan tingkat dasar guna membangun pondasi karakter sejak dini.
“Ponpes Al Barru Bulusulur memiliki SMP dan SMA Bina Insani. Ponpes Bairuha Jatipurno dilengkapi SD dan SMP Budi Utomo, sedangkan Ponpes Baitul Izzah memiliki unit pendidikan tingkat dasar,” ujar Sutoyo merincikan fasilitas yang ada.
Sistem Boarding School dan Jangkauan Luas
Dalam pengelolaannya, LDII menerapkan sistem boarding school atau sekolah berasrama. Sistem ini memungkinkan santri untuk menetap di lingkungan pesantren selama masa pendidikan mereka. Keunggulan dari model asrama ini adalah lingkungan belajar yang lebih terkontrol dan intensif, di mana pembentukan karakter dapat dilakukan selama 24 jam penuh.
Sutoyo menjelaskan bahwa sistem asrama ini tidak hanya diperuntukkan bagi warga lokal Wonogiri saja, namun juga terbuka lebar bagi peserta didik dari luar daerah. Hal ini memberikan kesempatan bagi siswa dari luar kota untuk mendapatkan pendidikan agama yang kuat sekaligus menempuh sekolah umum di satu lokasi yang sama tanpa perlu berpindah-pindah tempat.
Rencana Ekspansi dan Semangat Gotong Royong
Pesatnya minat masyarakat terhadap model pendidikan ini membuat LDII Wonogiri mulai merencanakan langkah ekspansi. Hal ini didasari oleh meningkatnya jumlah lulusan dari SMP Budi Utomo yang membutuhkan sekolah lanjutan di wilayah terdekat, khususnya di wilayah Jatipurno.
“Kami kewalahan menerima murid di SMA Bina Insani. Sampai saat ini, lebih dari 200 murid,” kata Sutoyo menjelaskan tingginya antusiasme masyarakat.
Guna merespon lonjakan peminat tersebut, pihak pengurus saat ini tengah aktif mencari lahan strategis untuk membangun SMA atau SMK baru di wilayah Jatipurno. Pembangunan ini diproyeksikan untuk menampung lulusan SMP agar mereka tetap berada dalam naungan pendidikan yang seimbang antara ilmu duniawi dan ukhrawi. Sutoyo menegaskan bahwa seluruh proses pembangunan dan pengembangan ini didasari oleh semangat kebersamaan para anggota.
“Pendanaannya kita gotong royong bersama,” ujar Sutoyo menutup pembicaraan.
Upaya LDII Wonogiri ini menjadi angin segar bagi dunia pendidikan di Kabupaten Wonogiri, membuktikan bahwa pesantren bisa bertransformasi menjadi institusi yang modern dan relevan dengan tuntutan zaman tanpa kehilangan jati diri religiusnya.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.