Ponpes Wali Barokah Kediri Siap Cetak 'Generasi Kuat' Lewat Pendidikan Karakter Berbasis Adab dan Teknologi

Ponpes Wali Barokah Kediri Siap Cetak 'Generasi Kuat' Lewat Pendidikan Karakter Berbasis Adab dan Teknologi

Menjawab Tantangan Krisis Karakter di Era Digital

Pondok Pesantren (Ponpes) Wali Barokah Kediri secara resmi menyatakan kesiapan penuh dalam mengimplementasikan kebijakan nasional untuk mencetak "Generasi Kuat" atau Aziz Generation. Komitmen ini selaras dengan arah kebijakan yang dipaparkan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI, Abdul Mu’ti, dalam forum Musyawarah Nasional (Munas) X LDII di Jakarta baru-baru ini. Langkah strategis ini diambil sebagai respons atas meningkatnya kompleksitas tantangan global yang membayangi generasi muda Indonesia saat ini.

Transformasi Pendidikan: Dari Tarbiyah Menuju Ta'dib

Dalam paparannya yang bertajuk “Kebijakan Pendidikan Nasional untuk Mengantisipasi Dinamika Global dan Nasional”, Mendikdasmen Abdul Mu’ti menyoroti munculnya fenomena anxious generation (generasi cemas) serta strawberry generation—generasi yang tampak indah di luar namun rapuh di bawah tekanan mental serta mudah terdisrupsi oleh arus digital yang tidak terkendali. Ia menekankan bahwa pendidikan masa depan harus mampu menyeimbangkan aspek lahiriah dan batiniah secara proporsional.

"Pentingnya penguatan karakter melalui 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat serta revitalisasi pendidikan yang menyeimbangkan antara aspek lahiriah (sarana digital) dan batiniah (karakter). Pendidikan bukan sekadar memelihara (tarbiyah), tetapi membangun peradaban (ta’dib). Kita tidak boleh meninggalkan keturunan yang lemah. Seorang mukmin yang kuat baik aqidah, ilmu, maupun ekonominya lebih dicintai Allah," tegas Abdul Mu’ti.

Lebih lanjut, pemerintah tengah mendorong berbagai kebijakan strategis yang mencakup revitalisasi sarana pendidikan, digitalisasi sistem pembelajaran, hingga penguatan karakter melalui program konkret. Menurutnya, tujuan akhir pendidikan bukan sekadar mencerdaskan otak secara akademik, melainkan membentuk individu yang tangguh secara akidah dan berkarakter mulia.

Sinergi Nilai Pesantren dan Kebijakan Nasional

Menanggapi visi besar tersebut, Wakil Ketua Ponpes Wali Barokah, Agung Riyanto, mengungkapkan bahwa arah kebijakan pendidikan nasional saat ini sangat relevan dengan nilai-nilai fundamental yang telah lama diinternalisasi di lingkungan pesantren. Pesantren dipandang sebagai institusi strategis yang mampu memberikan ketenangan spiritual sekaligus ketangguhan mental bagi para santri.

"Kami di Ponpes Wali Barokah sangat mengapresiasi visi Mendikdasmen mengenai pembentukan generasi yang kuat. Bagi kami, pendidikan adalah proses pembangunan karakter dan peradaban secara utuh. Tantangan global yang menciptakan kecemasan pada anak muda harus dijawab dengan penguatan kemandirian dan integritas," ujar Agung Riyanto.

Agung menambahkan bahwa pesantren berkomitmen menjadi garda terdepan dalam mendampingi santri agar memiliki fondasi yang kokoh menghadapi dinamika global menuju visi Indonesia Emas 2045. Penguatan akidah, akhlak, dan kemandirian menjadi pilar utama yang terus diperkuat di lingkungan Wali Barokah.

Menghadapi Dampak Over-Exposure Media Digital

Di sisi lain, Sekretaris Ponpes Wali Barokah, Daud Soleh, memberikan perhatian khusus pada isu literasi digital dan adab. Ia mencermati bahwa ketergantungan yang berlebihan pada media sosial berpotensi merusak mentalitas pemuda jika tidak dibarengi dengan filter moral yang kuat. Di Ponpes Wali Barokah, solusi ini diterapkan melalui apa yang ia sebut sebagai 'kurikulum tersembunyi'.

"Apa yang disampaikan Bapak Menteri mengenai bahaya over-exposure media digital bagi mental generasi Z adalah peringatan nyata. Di Ponpes Wali Barokah, kami menerapkan 'kurikulum tersembunyi' melalui keteladanan guru dan pembiasaan ibadah yang disiplin. Kami ingin memastikan santri kami melek teknologi namun tidak diperbudak olehnya. Dengan memadukan ilmu agama, akhlak mulia, dan penguasaan sains, kita sedang membangun pondasi peradaban yang kokoh sebagaimana yang diharapkan dalam kebijakan pendidikan nasional," tutur Daud Soleh.

Daud juga menggarisbawahi bahwa kesuksesan pembangunan generasi unggul memerlukan kolaborasi erat antara institusi pendidikan formal, keluarga, dan masyarakat. Sinergi ini menjadi kunci utama untuk melahirkan profil santri yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berintegritas dan memiliki kematangan spiritual dalam menghadapi perubahan zaman yang kian tak terduga.

Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.

Lebih baru Lebih lama