Menjadikan Kebudayaan Sebagai Soft Power Strategis Indonesia
Pondok Pesantren (Ponpes) Wali Barokah Kota Kediri secara resmi menegaskan komitmennya untuk menjaga aset budaya serta sejarah peradaban Islam di Indonesia sebagai instrumen perdamaian global. Langkah strategis ini mencuat dalam perhelatan Munas X LDII yang berlangsung di Jakarta pada Kamis (9/4), di mana Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, memberikan pembekalan mendalam bertajuk “Kebudayaan sebagai Soft Power Indonesia dalam Membangun Perdamaian Dunia”.
Rekonstruksi Sejarah dan Kekuatan Mega Diversity
Dalam orasinya di hadapan para delegasi, Menteri Kebudayaan Fadli Zon memaparkan temuan arkeologis signifikan yang mengubah narasi sejarah Islam di tanah air. Beliau mengungkapkan bahwa Islam telah masuk ke Nusantara jauh lebih awal dari yang selama ini dipahami secara umum, yakni sejak abad ke-7 masehi.
“Temuan arkeologis penting mengenai masuknya Islam ke Nusantara yang jauh lebih awal, yakni pada abad ke-7 masehi. Kebudayaan, termasuk pencak silat dan tradisi pesantren, merupakan soft power yang mampu menempatkan Indonesia sebagai episentrum peradaban dunia,” ujar Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon.
Indonesia, menurut Fadli, adalah bangsa dengan status Mega Diversity yang memiliki kekayaan budaya tak benda yang nyaris tak tertandingi. Keberagaman dari 1.300 lebih suku dan ratusan bahasa daerah bukan sekadar warisan masa lalu yang statis, melainkan kekuatan pendorong (driving force) yang sangat krusial untuk menavigasi masa depan bangsa.
“Kami mengapresiasi peran organisasi keagamaan seperti Lembaga Dakwah Islam Indonesia dalam menjaga nilai-nilai budaya sekaligus membangun karakter bangsa. Kebudayaan bukan hanya warisan masa lalu, melainkan fondasi untuk membentuk masa depan Indonesia,” jelas Fadli Zon saat menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan organisasi kemasyarakatan.
Pesantren Sebagai Penjaga Gawang Karakter Bangsa
Visi besar yang disampaikan oleh Menteri Kebudayaan tersebut disambut antusias oleh jajaran pimpinan Ponpes Wali Barokah. Wakil Ketua Ponpes Wali Barokah, Agung Riyanto, menilai bahwa lembaga pendidikan pesantren merupakan institusi yang paling konsisten dalam merawat tradisi adiluhung bangsa yang berkelindan harmonis dengan nilai-nilai Islam.
“Kami di Ponpes Wali Barokah sangat mengapresiasi komitmen Kementerian Kebudayaan. Bagi kami, pesantren adalah penjaga gawang kebudayaan nusantara. Nilai-nilai rukun, kompak, dan kerja sama yang kami tanamkan kepada santri adalah bagian dari jati diri bangsa yang disebut Menteri Fadli Zon sebagai kekayaan nasional. Kami berkomitmen untuk terus merawat warisan ini, agar santri tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga bangga akan identitas budayanya sebagai bangsa Indonesia,” ungkap Agung Riyanto.
Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Ponpes Wali Barokah, Daud Soleh, menyoroti pentingnya bukti sejarah abad ke-7 sebagai bahan bakar motivasi bagi generasi muda pesantren. Menurutnya, pemahaman sejarah yang kuat akan melahirkan dakwah yang santun dan menyejukkan, yang pada gilirannya memperkuat posisi Indonesia di kancah internasional.
“Penjelasan Pak Menteri mengenai bukti arkeologis Islam di abad ke-7 memperkuat narasi bahwa Islam dan Nusantara memiliki ikatan sejarah yang sangat panjang dan harmonis. Di Ponpes Wali Barokah, kebudayaan seperti pencak silat telah menjadi bagian dari pendidikan karakter santri. Kami ingin dunia melihat bahwa Islam di Indonesia adalah Islam yang berbudaya, toleran, dan damai. Inilah soft power nyata yang lahir dari rahim pesantren untuk dunia,” tegas Daud Soleh.
Digitalisasi Budaya dan 29 Karakter Luhur
Menghadapi tantangan arus globalisasi yang masif, Ponpes Wali Barokah mendorong pemerintah untuk melakukan langkah konkret dalam pelestarian budaya melalui medium digital. Daud Soleh mengusulkan agar 29 Karakter Luhur yang menjadi identitas alumni pesantren dan warga LDII dapat diangkat sebagai salah satu budaya unggulan Islam Nusantara oleh Kementerian Kebudayaan.
Pengembangan literasi budaya ini diharapkan tidak berhenti pada tataran teori semata. Daud menyarankan pembuatan film edukatif atau konten digital berkualitas tinggi agar nilai-nilai lokal tersebut dapat diakses oleh audiens global dan tersimpan secara permanen dalam koleksi digital media maupun museum nasional.
“Di tengah serbuan budaya asing, kalau ditanya mana budaya timur, 29 karakter luhur inilah yang bisa diangkat. Perlu sosialisasi yang masif, termasuk diantaranya melalui pembuatan film edukatif sebagaimana Jumbo. Kami sangat berharap Kemenbud berkenan membuatnya, dan dijadikan koleksi digital di platform media dan museum,” pungkas Daud Soleh.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.