Perkuat Ketahanan Nasional, Kemenbud dan LDII Jalin Kerja Sama Strategis Pemajuan Budaya dan Pembangunan Museum

Perkuat Ketahanan Nasional, Kemenbud dan LDII Jalin Kerja Sama Strategis Pemajuan Budaya dan Pembangunan Museum

Sinergi Strategis Kemenbud dan LDII dalam Menghadapi Dinamika Geopolitik Global

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, secara resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPP LDII) untuk memperkuat pemajuan kebudayaan nasional berbasis nilai keagamaan. Langkah ini dilakukan di sela-sela perhelatan Musyawarah Nasional (Munas) X DPP LDII yang berlangsung di Jakarta pada Kamis, 9 April 2026.

Penandatanganan kerja sama ini menjadi tonggak penting dalam upaya pemerintah merangkul organisasi kemasyarakatan berbasis agama untuk menjadikan budaya sebagai pilar ketahanan nasional. Menteri Fadli Zon memberikan apresiasi tinggi terhadap visi LDII yang mengangkat isu geopolitik dan ketahanan nasional sebagai tema sentral Munas kali ini.

"Tema geopolitik dan ketahanan nasional sangat tepat dibahas sekarang. Apa yang terjadi di Timur Tengah memengaruhi kita semua, mulai dari harga energi hingga ekonomi sehari-hari," ujar Fadli Zon.

Budaya sebagai Soft Power dan Identitas Bangsa

Dalam pemaparannya, Menteri Kebudayaan menekankan bahwa dinamika global yang penuh tantangan menuntut Indonesia untuk memiliki fondasi identitas yang kuat. Budaya tidak lagi sekadar dipandang sebagai pelestarian warisan masa lalu, melainkan sebagai soft power strategis yang mampu menjaga harmoni sosial serta mendorong perdamaian di tingkat dunia.

Kemenbud menilai LDII merupakan mitra strategis mengingat jaringan organisasinya yang masif, tersebar di 38 provinsi dan ratusan kabupaten/kota, serta memiliki basis pendidikan yang kuat melalui ribuan pondok pesantren.

"Melalui budaya, kita tidak hanya memperkuat identitas bangsa, tapi juga menyiapkan generasi yang tangguh, beradab, dan mampu berkontribusi pada perdamaian global. Sinergi antara pemerintah dan organisasi keagamaan seperti LDII menjadi kunci dalam membangun peradaban yang inklusif dan berkelanjutan," jelas Fadli Zon.

Rencana Pembangunan Museum dan Pengembangan Prestasi Pencak Silat

Salah satu poin krusial dalam Nota Kesepahaman tersebut adalah rencana pembangunan museum yang akan dikelola langsung oleh LDII. Museum ini diharapkan menjadi pusat literasi sejarah dan kebudayaan yang mampu merefleksikan nilai-nilai luhur bangsa dalam bingkai keagamaan. Fadli Zon menyambut baik usulan ini sebagai bentuk partisipasi aktif masyarakat dalam manajemen kebudayaan.

Selain museum, perhatian juga diberikan pada aspek seni bela diri tradisional. Menbud memuji konsistensi LDII dalam membina generasi muda melalui Pencak Silat, yang terbukti telah menorehkan prestasi gemilang di berbagai ajang internasional dan nasional.

"Saya yakin tadi karena jaringan LDII banyak, kita bisa bersama-sama, ada usulan termasuk museum, dan saya juga apresiasi generus LDII yang pencak silatnya banyak prestasinya kita lihat tadi, diumumkan mulai dari Seagames, PON, dan lain-lain. Jadi kita sangat senang sekali bahwa LDII juga memperhatikan dan memajukan kebudayaan. Terima kasih," tutur Fadli Zon menambahkan.

Respons LDII: Tanggung Jawab Memperkuat Kedaulatan Bangsa

Ketua Umum DPP LDII, KH Chriswanto Santoso, menyatakan bahwa kerja sama ini merupakan fondasi kokoh untuk meluncurkan berbagai program strategis di masa depan. Menurutnya, penguatan budaya adalah bagian yang tidak terpisahkan dari misi dakwah LDII dalam mencetak generasi profesional religius.

KH Chriswanto menegaskan bahwa LDII berkomitmen penuh untuk membantu Kementerian Kebudayaan dalam memperkuat ketahanan nasional melalui jalur diplomasi budaya dan pemberdayaan masyarakat.

"Nah, kita harus memperkuat ini. Ini tanggung jawab bukan hanya negara, tapi tanggung jawab seluruh bangsa Indonesia termasuk LDII. Maka kita di sini semakin terbuka, semakin melihat, kita siap membantu Pak Menbud dalam rangka memperkuat ketahanan nasional yang berdaulat melalui sisi budaya," pungkas KH Chriswanto Santoso.

MoU ini diharapkan segera diimplementasikan melalui berbagai program nyata, termasuk integrasi nilai-nilai budaya dalam kurikulum pesantren serta percepatan pembangunan Museum LDII sebagai pusat edukasi kebudayaan baru di Indonesia.

Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.

Lebih baru Lebih lama