Meneladani Nyi Ageng Serang dan Ki Hadjar Dewantara: Mewujudkan Pendidikan Berbasis Peradaban dan Keadaban
Hari Pendidikan Nasional sejatinya bukan sekadar agenda rutin di kalender tahunan, melainkan sebuah momentum krusial bagi bangsa Indonesia untuk merenungkan kembali esensi dasar dari proses belajar. Pendidikan yang ideal tidak hanya berfokus pada upaya mencerdaskan otak secara kognitif, tetapi juga mengemban misi vital dalam memahat karakter, memperkokoh akhlak, serta mencetak generasi yang mampu menjaga keluhuran peradaban sekaligus keadaban bangsa di tengah terjangan arus zaman.
Visi besar ini dipertegas oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Abdul Mu’ti, dalam pembekalan forum Munas X Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) pada Kamis, 9 April 2026. Beliau menekankan bahwa transformasi manusia seutuhnya harus menjadi kiblat utama dalam sistem pendidikan nasional saat ini.
"Pendidikan sejatinya membangun peradaban dan keadaban. Pendidikan bukan hanya soal transfer pengetahuan, melainkan pembentukan karakter," ujar Prof. Abdul Mu’ti.
Benang Merah Sejarah: Dari Nyi Ageng Serang ke Ki Hadjar Dewantara
Jika kita menilik lembaran sejarah, nilai-nilai pendidikan berbasis kasih sayang dan keteladanan bukanlah konsep baru. Indonesia memiliki kekayaan intelektual yang diwariskan oleh para pahlawan nasional. Menariknya, terdapat garis merah keturunan dan pemikiran antara Nyi Ageng Serang dengan Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hadjar Dewantara. Sebagai cicit dari Nyi Ageng Serang, Ki Hadjar Dewantara menyerap semangat perlawanan dan pendidikan yang kemudian dikristalisasikan dalam konsep sekolah Taman Siswa.
Trilogi Pendidikan Nyi Ageng Serang
Nyi Ageng Serang tidak hanya dikenal karena keberaniannya di medan tempur, tetapi juga karena pemikirannya yang visioner dalam mendidik pengikutnya. Terdapat tiga pilar utama (Trilogi) yang bisa dipetik dari warisan pemikirannya:
- Religius: Menanamkan kesadaran spiritual bahwa setiap tindakan adalah bentuk ibadah kepada Allah SWT, yang melahirkan integritas moral dan sifat jujur.
- Nasionalisme: Menumbuhkan cinta tanah air yang mendalam, bukan sekadar slogan, melainkan disiplin dan kerja keras demi kedaulatan bangsa.
- Kerakyatan: Pendidikan harus dekat dengan realitas sosial masyarakat, menumbuhkan empati, serta semangat gotong royong tanpa sikap egois.
Filosofi Kepemimpinan Ki Hadjar Dewantara
Warisan ini kemudian diperluas oleh Ki Hadjar Dewantara melalui ajaran yang kini menjadi fondasi pendidikan di Indonesia: Ing Ngarso Sung Tuladha (di depan memberi teladan), Ing Madya Mangun Karsa (di tengah membangun semangat), dan Tut Wuri Handayani (di belakang memberi dorongan). Ketiganya menegaskan bahwa pendidik adalah seorang mentor, bukan sekadar pengajar yang mendikte.
Metode Momong, Among, dan Ngemong
Dalam tradisi Nusantara, pendidikan dijalankan dengan pendekatan yang memanusiakan manusia melalui metode Momong, Among, dan Ngemong. Thonang Effendi, Ketua Departemen Pendidikan Umum dan Pelatihan DPP LDII, menjelaskan bahwa metode ini menggambarkan proses pendampingan yang penuh kasih sayang.
Momong berarti merawat dengan cinta untuk membangun stabilitas emosional anak. Among merupakan proses membimbing sesuai fitrah agar anak tidak kehilangan arah. Sementara Ngemong adalah mengasuh dengan kebijaksanaan, di mana ketegasan hadir sebagai bentuk perlindungan, bukan sebagai kekerasan yang merusak mentalitas peserta didik.
Menjawab Krisis Moral di Era Digital
Tantangan hari ini jauh lebih rumit dibandingkan masa penjajahan. Kemajuan teknologi membawa paradoks; kemudahan akses informasi dibarengi dengan ancaman degradasi moral, kecanduan gawai, hingga tingginya angka perundungan di sekolah. Menanggapi hal ini, pemerintah melalui Kemendikdasmen kini menggencarkan pendekatan deep learning yang berfokus pada pemahaman makna mendalam dan pemikiran kritis.
Sejalan dengan itu, kontribusi LDII melalui pembinaan generasi "Profesional Religius" menjadi jawaban nyata. Dengan membiasakan 29 karakter luhur, termasuk sifat alim-faqih dan berakhlakul karimah, LDII berupaya mencetak individu yang mampu menjadi solusi bagi lingkungan sekitarnya. Pendidikan bukan hanya soal membangun peradaban melalui sains, tetapi juga menjaga keadaban melalui adab.
FAQ Seputar Pendidikan Peradaban
- Apa itu pendidikan keadaban? Pendidikan yang memprioritaskan etika, moral, dan adab sebagai fondasi ilmu pengetahuan.
- Bagaimana relevansi pemikiran Nyi Ageng Serang saat ini? Nilai nasionalisme dan religiusitasnya sangat penting untuk membentengi generasi muda dari radikalisme dan krisis identitas.
- Apa peran LDII dalam pendidikan nasional? LDII fokus pada pendidikan karakter 29 karakter luhur untuk menciptakan generasi profesional yang tetap religius.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.