PC LDII Kartasura Bekali Dai Strategi Dakwah Digital Berbasis Karakter dan Budaya

PC LDII Kartasura Bekali Dai Strategi Dakwah Digital Berbasis Karakter dan Budaya

Memperkuat Fondasi Dakwah: Sinergi Profesionalisme dan Adab di Era Digital

Menghadapi tantangan arus informasi yang kian deras, Pimpinan Cabang (PC) LDII Kartasura mengambil langkah proaktif dengan menggelar pembekalan intensif bagi para dai dan pengajar TPQ/TPA. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu (11/4) di Masjid Baitul Makmur, Pabelan, Kartasura, Sukoharjo ini bertujuan mencetak kader dakwah yang tidak hanya mumpuni secara religius, tetapi juga cakap dalam menavigasi dinamika teknologi komunikasi modern.

Urgensi pelatihan ini berakar pada kebutuhan akan figur teladan yang mampu menjembatani pesan-pesan langit dengan realitas masyarakat kontemporer. Di tengah disrupsi digital, seorang dai dituntut lebih dari sekadar penyampai teks keagamaan; mereka harus menjadi komunikator yang empatik dan adaptif tanpa menanggalkan identitas moral yang kokoh.

Dakwah Bil Hal: Melampaui Retorika Menuju Keteladanan Nyata

Membuka sesi materi, KH Khusnan Hidayat membedah filosofi dasar dakwah yang sering terlupakan dalam praktik sehari-hari. Beliau menekankan bahwa efektivitas pesan sangat bergantung pada metode penyampaian yang mengedepankan kelembutan dan kebijaksanaan. Pendekatan ini dipercaya mampu meruntuhkan dinding resistensi di tengah masyarakat yang heterogen.

"Menyampaikan dakwah dengan cara yang baik dan lembut sangat penting agar pesan tersebut dapat diterima dengan hati terbuka oleh masyarakat," ujar KH Khusnan Hidayat.

Lebih lanjut, KH Khusnan menyoroti konsep dakwah bil hal, yakni manifestasi ajaran agama melalui perilaku nyata dan integritas pribadi. Menurutnya, penguasaan materi dan pemilihan tema yang relevan dengan dinamika sosial adalah kunci, namun keteladanan adalah instrumen paling ampuh yang menentukan keberhasilan seorang dai dalam membawa perubahan positif.

Melestarikan Bahasa Jawa sebagai Instrumen Etika dan Jati Diri

Menariknya, pembekalan ini juga menyentuh aspek kultural yang mendalam. Ketua PC LDII Kartasura, H. Edi Sanusi, membekali para peserta dengan keterampilan berdakwah menggunakan bahasa Jawa. Hal ini dipandang krusial agar generasi muda tetap memiliki keterikatan batin dengan akar budayanya sendiri, sekaligus mengasah kepekaan etika dalam berinteraksi.

H. Edi Sanusi menjelaskan bahwa bahasa Jawa bukan sekadar alat komunikasi verbal, melainkan cerminan tata krama dan kepribadian seseorang. Penguasaan bahasa daerah ini dipercaya mampu meningkatkan kualitas komunikasi, sehingga pesan dakwah terasa lebih dekat dan personal bagi audiens lokal.

"Pembelajaran bahasa Jawa akan membantu dai dalam membedakan penggunaan bahasa baku dan tidak baku. Selain itu, penguasaan bahasa daerah juga dapat memperkuat komunikasi dengan masyarakat, sehingga pesan dakwah lebih mudah diterima," tegas H. Edi Sanusi.

Secara teknis, penguasaan struktur bahasa Jawa yang kompleks ternyata juga berdampak positif pada kelancaran berbahasa Indonesia. Hal ini dikarenakan proses pembelajaran tersebut melatih ketajaman berpikir dan sensitivitas terhadap tata bahasa yang baik dan benar.

Harapan Besar untuk Transformasi Dakwah yang Lebih Inklusif

Rangkaian kegiatan ini ditutup dengan khidmat melalui doa yang dipimpin oleh KH. Mulato Budi Santoso. Atmosfer penuh harapan menyelimuti penutupan acara, dengan visi agar ilmu yang didapatkan dapat segera diimplementasikan di lapangan dengan penuh tanggung jawab.

PC LDII Kartasura memproyeksikan bahwa melalui pelatihan berkelanjutan seperti ini, akan lahir agen-agen perubahan yang memiliki karakter religius kuat, unggul secara keilmuan, dan lincah dalam memanfaatkan teknologi. Langkah ini menjadi bukti konkret bahwa dakwah di era modern memerlukan kombinasi antara kreativitas, komunikatif, dan penghormatan setinggi-tingginya terhadap nilai-nilai etika serta budaya lokal.

Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.

Lebih baru Lebih lama