Menjaga Marwah Keilmuan: Memahami Fenomena Terkikisnya Karakter Alim di Era Modern

Menjaga Marwah Keilmuan: Memahami Fenomena Terkikisnya Karakter Alim di Era Modern

Esensi Menjadi Alim dalam Tradisi Pesantren

Di lingkungan pesantren, terminologi 'alim' memegang kedudukan yang sangat fundamental dan sakral. Gelar ini bukan sekadar atribut bagi individu yang memiliki hafalan kitab yang melimpah atau kepiawaian dalam beretorika menggunakan bahasa Arab. Sebaliknya, seorang alim adalah manifestasi dari ilmu yang hidup, di mana setiap pengetahuan yang dimiliki terintegrasi secara harmonis ke dalam adab, perilaku, dan integritas pribadi.

"Alim adalah sosok yang ilmunya hidup—tercermin dalam adab, laku, dan kesanggupan menjaga diri dari hal-hal yang merusak nilai ilmu itu sendiri," ujar Daud Sobri, Ketua LDII Musi Banyuasin (Muba) sekaligus Pengurus Pondok Pesantren Taufiqurrohman Sungai Lilin.

Dalam kacamata tradisi pesantren, seorang alim dituntut tidak hanya untuk mengetahui hukum dan teori, tetapi juga harus memiliki ketundukan total terhadap ilmu yang ia kuasai. Namun, tantangan zaman membawa ironi tersendiri. Kealiman seseorang sering kali tidak runtuh karena hantaman badai besar, melainkan terkikis secara perlahan oleh hal-hal kecil yang kerap luput dari kewaspadaan.

Empat Faktor Utama Pengikis Kealiman

Daud Sobri menyoroti empat aspek krusial yang dapat menjadi 'rayap' bagi kualitas kealiman seseorang jika tidak diantisipasi dengan bijak:

  • Dominasi Kesibukan Duniawi: Meskipun keterlibatan dalam urusan dunia tidak dilarang, namun porsi yang berlebihan dapat mematikan ruh keilmuan. Ketika seorang alim terlalu terlarut dalam mengejar jabatan, popularitas, atau urusan bisnis, ruang untuk merawat ilmu akan semakin menyempit. Akibatnya, ilmu yang seharusnya diasah setiap hari hanya menjadi pajangan yang sesekali disapa.
  • Beban Psikologis Akibat Utang: Dalam kultur pesantren, utang bukan sekadar persoalan finansial, melainkan beban batin yang berat. Pikiran yang terbelenggu oleh tagihan dan cicilan akan sulit mencapai titik kekhusyukan dalam proses belajar-mengajar. Ketenangan adalah syarat mutlak bagi ilmu untuk bersemi, sementara utang sering kali menghadirkan kegelisahan yang merusak fokus.
  • Kehilangan Fokus Bidang Keahlian: Adanya kecenderungan untuk ingin mengomentari segala hal di luar kapasitasnya membuat energi seorang alim menjadi terfragmentasi. Fokus yang tercerai-berai mengakibatkan pendalaman ilmu menjadi dangkal karena energi habis terkuras untuk isu-isu yang bukan ranah kepakarannya.
  • Kesombongan Halus (Merasa Cukup): Ini merupakan ancaman yang paling berbahaya. Perasaan telah mencapai puncak keilmuan dan enggan untuk terus belajar menjadi awal dari sebuah kemunduran.
    "Di pesantren, senioritas dihormati, tetapi bukan alasan untuk berhenti menuntut ilmu. Ketika seseorang merasa 'sudah alim', di situlah awal kemundurannya," tegas Daud Sobri.

Muthola’ah: Kunci Menjaga Keawetan Ilmu

Untuk menangkal pengikisan tersebut, dunia pesantren menawarkan solusi klasik yang tetap relevan hingga saat ini, yaitu muthola’ah. Istilah ini merujuk pada aktivitas mengulang, membaca kembali, dan menghidupkan pelajaran di setiap kesempatan yang ada. Ilmu dipandang bukan sebagai benda mati yang statis, melainkan sesuatu yang dinamis dan harus terus disentuh agar tidak pudar dari ingatan dan hati.

Ulama-ulama besar terdahulu dikenal tidak pernah meninggalkan tradisi muthola’ah. Meski sudah mencapai derajat keilmuan yang tinggi, mereka tetap memposisikan diri sebagai pembelajar yang baru memulai perjalanannya. Hal ini menunjukkan bahwa konsistensi dalam hal-hal sederhana jauh lebih efektif daripada tindakan spektakuler namun sesaat.

Penutup: Menjaga Amanah Keilmuan di Tengah Distraksi

Di tengah dinamika dunia yang serba cepat dan penuh dengan distraksi digital, menjaga kualitas kealiman memang menjadi ujian yang berat. Seorang alim dituntut untuk mampu membedakan apakah ilmunya hanya sekadar identitas sosial atau benar-benar dijaga sebagai amanah suci dari Tuhan.

"Yang menjaga ilmu tetap hidup, sering kali juga bukan sesuatu yang spektakuler—cukup kesetiaan pada hal-hal sederhana yang dilakukan tanpa henti," tutur Daud Sobri menutup pemaparannya.

Pada akhirnya, integritas seorang alim akan terus diuji oleh konsistensinya dalam menjauhi perkara-perkara kecil yang merusak dan keteguhannya dalam merawat ilmu melalui adab dan pengulangan yang tiada henti. Dengan menjaga hal-hal sederhana tersebut, marwah keilmuan akan tetap terjaga di tengah arus zaman yang kian menantang.

Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.

Lebih baru Lebih lama