Mengenal Perawatan Mandiri (Self-Care) sebagai Pilar Utama Kesehatan dan Kesejahteraan Menurut WHO

Mengenal Perawatan Mandiri (Self-Care) sebagai Pilar Utama Kesehatan dan Kesejahteraan Menurut WHO

Strategi WHO dalam Memberdayakan Masyarakat Melalui Perawatan Mandiri

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberikan penekanan baru pada konsep perawatan mandiri atau self-care sebagai langkah strategis untuk memperkuat sistem kesehatan global dan meningkatkan kesejahteraan individu. Dalam pembaharuan informasi resminya, WHO menggarisbawahi bahwa perawatan mandiri bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan kemampuan fundamental yang harus dimiliki oleh setiap orang untuk menjaga kualitas hidup mereka di tengah dinamika akses layanan kesehatan yang semakin kompleks.

"WHO mendefinisikan perawatan mandiri sebagai kemampuan individu, keluarga, dan masyarakat untuk mempromosikan kesehatan, mencegah penyakit, menjaga kesehatan, dan mengatasi penyakit – dengan atau tanpa dukungan dari petugas kesehatan atau tenaga perawatan," ujar pihak resmi WHO.

Apa Itu Intervensi dan Tindakan Perawatan Mandiri?

Langkah-langkah dalam self-care terbagi menjadi dua kategori besar: intervensi dan tindakan. Intervensi melibatkan penggunaan sarana medis yang nyata, seperti obat-obatan, perangkat kesehatan, alat diagnostik, hingga aplikasi kesehatan digital. Sementara itu, tindakan perawatan mandiri lebih merujuk pada praktik sehari-hari, kebiasaan positif, serta pilihan gaya hidup sehat yang diambil secara sadar oleh individu.

WHO telah menyusun panduan hidup (living guideline) yang mencakup rekomendasi intervensi yang aman dan efektif. Ruang lingkupnya sangat luas, mulai dari kesehatan seksual dan reproduksi hingga pengelolaan penyakit tidak menular (PTM). Beberapa contoh nyata yang direkomendasikan adalah:

  • Penggunaan alat kontrasepsi suntik mandiri.
  • Pengambilan sampel vagina secara mandiri untuk skrining HPV guna mendeteksi risiko kanker serviks.
  • Pemantauan kadar glukosa darah secara mandiri bagi penderita diabetes, termasuk diabetes gestasional pada masa kehamilan.
  • Pemantauan tekanan darah mandiri untuk penyakit jantung dan pengelolaan pre-eklampsia saat hamil.
  • Penggunaan alat tes mandiri untuk berbagai isu kesehatan seperti HIV, kehamilan, hingga COVID-19.

Pentingnya Ekosistem yang Mendukung

Keberhasilan intervensi perawatan mandiri tidak bisa berdiri sendiri. Dibutuhkan lingkungan yang mendukung (enabling environment) agar praktik ini dapat diimplementasikan dengan tepat. Kerangka kerja WHO menonjolkan pendekatan yang berpusat pada manusia dan sistem kesehatan yang inklusif, dengan tetap menjunjung tinggi hak asasi manusia, etika, dan kesetaraan gender.

Karena aktivitas self-care sebagian besar dilakukan di luar fasilitas kesehatan formal, sektor lain seperti pendidikan, keadilan, dan layanan sosial turut memegang peranan krusial. Tingkat literasi kesehatan, termasuk literasi digital, menjadi kunci utama agar masyarakat mampu memahami informasi medis dengan benar dan membuat pilihan yang tepat bagi kesehatan mereka sendiri.

Akses dan Keamanan di Tengah Situasi Darurat

Perawatan mandiri memiliki urgensi yang sangat tinggi dalam situasi darurat kesehatan atau krisis kemanusiaan. Ketika sistem kesehatan nasional terganggu dan akses ke rumah sakit menjadi terbatas, intervensi berbasis bukti ini menjadi jembatan bagi masyarakat untuk tetap mendapatkan perawatan yang diperlukan.

Menanggapi kekhawatiran mengenai keamanan, WHO memastikan bahwa setiap rekomendasi yang dikeluarkan telah melalui pengkajian bukti ilmiah yang sangat ketat. Penggunaan produk kesehatan yang tidak diatur atau berada di bawah standar tetap sangat dilarang. Tantangan utama yang perlu diatasi adalah distribusi informasi kesehatan yang akurat agar tidak terjadi kesalahpahaman saat masyarakat melakukan tindakan medis mandiri.

Selain itu, WHO menepis anggapan bahwa perawatan mandiri sengaja digalakkan untuk mengalihkan beban perawatan kepada masyarakat yang rentan. Sebaliknya, integrasi self-care ke dalam sistem kesehatan nasional justru bertujuan untuk menghemat biaya bagi pengguna—seperti mengurangi biaya transportasi dan potensi kehilangan pendapatan saat harus mengantre di fasilitas kesehatan—serta mengurangi beban kerja rumah sakit jika komplikasi dapat dicegah lebih awal.

"Intervensi perawatan mandiri dimaksudkan sebagai pelengkap perawatan berbasis fasilitas kesehatan dan mungkin memerlukan dukungan dari sistem kesehatan dalam beberapa kasus tertentu," tegas laporan WHO tersebut.

Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.

Lebih baru Lebih lama