Benteng Moral di Tengah Arus Digitalisasi
Sebanyak 600 pemuda-pemudi yang tergabung dalam Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) se-Kota Batam berkumpul di Masjid Abdul Dhohir, Sekupang, pada Minggu (19/04/2026). Pertemuan besar ini bukan sekadar silaturahmi biasa, melainkan langkah strategis DPD LDII Kota Batam dalam membekali generasi muda melalui pengajian pra-nikah sebagai respons atas derasnya arus digitalisasi yang kerap memicu degradasi moral.
Peserta yang memadati ruang utama masjid berasal dari delapan Pimpinan Cabang (PC) LDII di seluruh penjuru Batam, termasuk para santri dari Pondok Pesantren Abdul Dhohir. Sinergi antara PC LDII Sekupang, Tim Penggerak Pembina Generus (TPPG) LDII Batam, serta partisipasi aktif warga Patam Asri menciptakan atmosfer pembinaan yang khidmat namun penuh semangat kebersamaan.
Menghidupkan Sensitivitas Spiritual
Dalam sesi utama, Ketua TPPG LDII Batam, H. Irvan Sumaga, memberikan wejangan mendalam mengenai pentingnya memiliki kesadaran spiritual yang hidup. Menurutnya, keberhasilan seorang hamba tidak hanya diukur dari rutinitas ibadah semata, melainkan bagaimana hati merespons setiap tindakan dan keadaan hidupnya.
“Ketika berbuat baik, hadirkan syukur. Ketika lalai, hadirkan penyesalan dan tekad memperbaiki diri,” ujar H. Irvan Sumaga.
Pesan ini menekankan bahwa pembentukan karakter harus dimulai dari internalisasi nilai-nilai keimanan yang jujur. Di tengah godaan gaya hidup modern yang serba instan, kepekaan hati menjadi navigasi utama agar pemuda tidak kehilangan arah moralnya.
Al-Qur'an Sebagai Solusi Jiwa
Aspek teologis diperkuat oleh Ustaz Didi Supriyadi yang membedah makna Al-Qur’an Surat Yunus ayat 56–58. Ia memaparkan bahwa kitab suci bukan sekadar teks yang dibaca dalam ritual, namun merupakan solusi konkret atas kegelisahan eksistensial yang sering dialami generasi Z dan milenial saat ini.
“Al-Qur’an adalah syifa’, obat bagi penyakit hati. Di dalamnya ada arah hidup dan alasan untuk tetap optimis di tengah tantangan zaman,” jelas Ustaz Didi Supriyadi.
Selain penguatan mental, fondasi ibadah fisik juga menjadi sorotan. KH. Zainendra hadir mengulas dalil-dalil shahih mengenai shalat secara komprehensif, mulai dari ketepatan waktu hingga kedudukannya sebagai tiang agama. Ia memberikan peringatan keras bahwa integritas karakter seseorang sering kali tercermin dari bagaimana ia menjaga kualitas shalatnya.
Target 29 Karakter Luhur
Menanggapi kegiatan masif ini, Ketua DPW LDII Provinsi Kepulauan Riau, H. Rulifa Syahroel, menyatakan bahwa pembinaan generasi penerus (generus) merupakan investasi jangka panjang yang harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. LDII berkomitmen tidak hanya mencetak kader yang mumpuni secara intelektual, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual.
“LDII tidak hanya mencetak generasi yang paham agama, tetapi juga generasi profesional religius yang memiliki 29 karakter luhur,” tutur H. Rulifa Syahroel.
Konsep 29 karakter luhur ini mencakup aspek kemandirian, kejujuran, amanah, hingga kemampuan bekerja sama. Dengan pembekalan yang intensif seperti ini, LDII berharap para pemuda di Kepulauan Riau dapat menjadi motor penggerak bagi moderasi beragama dan kemajuan bangsa di masa depan.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.