Wujudkan Keluarga Harmonis, LDII Kota Kediri Gelar Edukasi Pola Asuh Digital
Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPD LDII) Kota Kediri mengambil langkah proaktif dalam merespons dinamika sosial di era digital dengan menggelar seminar parenting berskala besar pada Minggu (19/4/2026). Bertempat di Aula Pondok Pesantren Nurul Huda Al Manshurin, agenda ini secara khusus membedah ancaman paparan informasi negatif terhadap anak serta meningkatnya risiko kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang kian mencemaskan publik belakangan ini.
Acara ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan upaya strategis untuk memperkuat ketahanan keluarga. Fokus utamanya adalah membekali para orang tua dengan keterampilan komunikasi dan pemahaman psikologis yang mendalam, mengingat tantangan membesarkan anak di tengah arus informasi yang nyaris tak terbendung.
Tantangan Karakter Generasi Z di Mata Pakar
Hadir sebagai narasumber utama, pakar sekaligus praktisi parenting dr. Heris Setiawan Kusumaningrat menguraikan fenomena psikologis Generasi Z yang memiliki kecepatan luar biasa dalam menyerap data mentah dari internet. Namun, kecepatan ini sayangnya tidak selalu dibarengi dengan kemampuan filter yang memadai, sehingga anak-anak rentan menarik konklusi yang menyesatkan.
"Anak sekarang sangat cepat dalam mengakses dan menyimpulkan informasi. Kalau tidak diarahkan, mereka bisa terjebak pada hal-hal yang berdampak buruk bagi perkembangan mental dan karakter," ujar dr. Heris Setiawan Kusumaningrat.
Dokter Heris menekankan bahwa peran orang tua di masa kini harus berevolusi. Mengawasi saja tidak lagi cukup; orang tua dituntut untuk hadir sebagai fasilitator yang mampu memberikan penjelasan utuh dan logis. Tanpa dialog yang berkualitas, anak akan mencari jawaban di ruang digital yang sering kali beracun bagi pertumbuhan moral mereka.
Luka Psikologis Akibat Konflik Terbuka
Selain persoalan teknologi, seminar ini juga menyentuh sisi emosional dalam lingkup domestik. Konflik antara suami dan istri yang ditunjukkan secara terang-terangan di depan anak dinilai sebagai pemicu utama trauma jangka panjang. Rekaman memori tentang pertengkaran orang tua dapat menjelma menjadi luka psikologis yang memengaruhi kepribadian anak hingga mereka dewasa kelak.
"Konflik itu wajar, tetapi jika terus diperlihatkan kepada anak, itu akan terekam dan bisa menjadi luka psikologis," kata dr. Heris Setiawan Kusumaningrat menambahkan.
Beliau juga memperingatkan bahaya laten dari pola asuh yang toksik, seperti kebiasaan menghakimi, memberikan label negatif (labeling), hingga tindakan membanding-bandingkan anak dengan pencapaian orang lain. Praktik-praktik semacam ini secara sistematis dapat meruntuhkan rasa percaya diri anak dan menciptakan jarak emosional yang lebar antara orang tua dan buah hati.
Respons LDII Terhadap Isu Kekerasan Anak
Sejalan dengan kekhawatiran tersebut, Sekretaris DPD LDII Kota Kediri, Asyhari Eko Prayitno, menyatakan bahwa edukasi parenting ini merupakan jawaban atas meningkatnya laporan kasus kekerasan terhadap anak di berbagai daerah. Bagi LDII, keluarga seharusnya menjadi tempat yang paling aman (safe haven) bagi anak, bukan justru menjadi sumber ancaman.
"Kasus kekerasan anak yang terjadi beberapa waktu lalu harus menjadi pelajaran. Anak harus dilindungi, dan keluarga tidak boleh menjadi tempat yang tidak aman," ujar Asyhari Eko Prayitno.
Minimnya literasi emosi dan hambatan komunikasi dalam rumah tangga sering kali menjadi sumbu pendek yang memicu ledakan kekerasan. Oleh karena itu, penguasaan keterampilan mengelola emosi menjadi modul penting yang ditekankan dalam seminar ini.
29 Karakter Luhur Sebagai Benteng Keluarga
Sebagai solusi konkret, Asyhari mendorong setiap keluarga besar LDII untuk mengimplementasikan konsep '29 Karakter Luhur'. Konsep ini dirancang sebagai kompas moral bagi anak sekaligus perekat hubungan keluarga agar lebih solid dan harmonis.
"Jika diterapkan secara konsisten, 29 karakter luhur ini bisa menjadi benteng bagi anak dari pengaruh negatif sekaligus mencegah potensi konflik dalam keluarga," tegas Asyhari Eko Prayitno.
Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya diharapkan mampu membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki pengendalian diri yang kuat dan akhlakul karimah.
Garda Terdepan Pembentukan Karakter
Menutup rangkaian acara, Ketua DPD LDII Kota Kediri, Agung Riyanto, mengingatkan bahwa tanggung jawab pendidikan karakter tidak bisa sepenuhnya dilemparkan kepada lembaga sekolah. Sekolah mungkin memberikan ilmu pengetahuan, namun keluarga tetaplah institusi pendidikan pertama dan utama.
"Orang tua harus hadir secara utuh dalam kehidupan anak. Tanpa itu, berbagai risiko sosial yang dihadapi anak di era sekarang akan sulit dikendalikan," ujar Agung Riyanto.
Melalui inisiatif ini, LDII berharap muncul kesadaran kolektif di kalangan masyarakat Kediri mengenai pentingnya pola asuh yang suportif dan penuh kasih sayang, guna memutus rantai kekerasan dan melindungi masa depan generasi penerus bangsa.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.