Hari Bumi 2026: LDII Tegaskan Pelestarian Lingkungan sebagai Amanah Keimanan dan Tanggung Jawab Kolektif

Ilustrasi Kelestarian Bumi

Refleksi Hari Bumi 2026: Menjaga Alam Sebagai Bagian dari Tauhid

Peringatan Hari Bumi atau Earth Day yang jatuh setiap 22 April kembali menjadi momentum krusial bagi masyarakat dunia untuk mengevaluasi hubungan manusia dengan planet yang ditinggalinya. Di Jakarta (23/4), Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPP LDII) memberikan catatan mendalam mengenai urgensi tanggung jawab individu maupun kolektif dalam memitigasi krisis lingkungan yang kian mengkhawatirkan. LDII memandang bahwa menjaga kelestarian bumi bukan sekadar aksi sosial semata, melainkan manifestasi amanah spiritual yang harus dipertanggungjawabkan secara berkelanjutan.

Siham Affata, Anggota Departemen Litbang, IPTEK, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup (LISDAL) DPP LDII, memaparkan fakta bahwa ancaman degradasi alam kini telah menyentuh sendi-sendi kehidupan masyarakat paling dasar. Fenomena ini tidak lagi menjadi narasi teoritis di forum global, melainkan ancaman nyata yang tercermin dari statistik kebencanaan nasional yang terus meningkat tajam.

"Bercermin ke tahun 2025 lalu, BNPB mencatat ada lebih dari 3.100 bencana yang terjadi pada tahun itu. Akar masalahnya adalah luas hutan menyusut, daya serap air berkurang, dan alih fungsi lahan tidak terkendali, diperburuk dengan perubahan iklim global," ujar Siham Afatta.

Dimensi Spiritual dalam Dakwah Ekologis

Menghadapi realitas tersebut, LDII mengintegrasikan nilai-nilai ekologis ke dalam dimensi spiritual. Konsep "Ekoteologi" menjadi landasan bahwa manusia, dalam kapasitasnya sebagai khalifah di muka bumi, memikul beban moral untuk menjaga keseimbangan alam. Tindakan merusak lingkungan dipandang sebagai bentuk pengabaian terhadap nilai-nilai ketauhidan yang diajarkan dalam agama.

"Sejauh apa kesadaran dan upaya manusia dalam menjaga dan melestarikan lingkungan menjadi tolok ukur perwujudan tauhid. Kita dituntut menjaga hubungan vertikal dengan Allah, sekaligus harmonis secara horisontal dengan alam dan sesama makhluk, termasuk bumi ini," jelas Siham Affata.

LDII mendorong agar dakwah tidak hanya berhenti pada retorika di mimbar, tetapi harus bertransformasi menjadi tindakan konkret yang meresap dalam kebiasaan sehari-hari. Kesadaran untuk tidak berbuat kerusakan (fasad), menjaga keseimbangan (mizan), dan menjauhi pola konsumsi berlebihan (isrof) adalah prinsip-prinsip Islam yang relevan dalam menjawab tantangan global saat ini.

Menghadapi 'Triple Planetary Crisis'

Dunia saat ini tengah dikepung oleh apa yang disebut sebagai triple planetary crisis, yakni perubahan iklim yang ekstrem, polusi yang masif, serta hilangnya keanekaragaman hayati secara sistematis. Siham menegaskan bahwa krisis ini merupakan persoalan lintas generasi yang akan berdampak panjang jika tidak segera ditangani dengan langkah-langkah luar biasa.

"Tiga krisis planet utama ini sedang terjadi secara bersamaan, dan dampaknya semakin nyata. Pertanyaannya: apakah kita ingin ini terus berlanjut? Ini adalah krisis lintas generasi," ungkap Siham Affata.

Dalam pandangan Siham, tantangan terbesar saat ini bukanlah minimnya aksi, melainkan belum kuatnya akar kesadaran ekologis dalam struktur perilaku, budaya, hingga kebijakan ekonomi. Tanpa kesadaran yang fundamental, pembangunan yang dijalankan hanya akan bersifat jangka pendek dan justru mempercepat kerusakan alam yang seharusnya diwariskan kepada anak cucu.

"Hari Bumi menjadi ajakan untuk bermuhasabah, apakah tindakan kita saat ini mendorong bumi pulih atau justru memperburuknya?" tambah Siham Affata.

Peran Strategis Generasi Muda dan Kolaborasi Multisektoral

Sebagai langkah strategis pasca-Musyawarah Nasional (Munas) X LDII, organisasi ini menempatkan generasi muda sebagai ujung tombak perubahan lingkungan. Melalui kader Generasi Muda Indonesia Bela Lingkungan (Gemilang), LDII berupaya mencetak penggerak-penggerak lokal yang mampu menginspirasi masyarakat luas melalui inovasi dan aksi nyata di lapangan.

"InsyaAllah, upaya pelestarian lingkungan akan terus diperkuat dari sisi aktor, motivasi, kapasitas, dan konteks. Kader Generasi Muda Indonesia Bela Lingkungan (Gemilang) LDII akan terus dikembangkan melalui jejaring dan kolaborasi lintas pihak," kata Siham Affata.

Namun, LDII menyadari bahwa upaya menyelamatkan bumi tidak bisa dilakukan secara parsial. Sinergi antara pemerintah, lembaga dakwah, dan elemen masyarakat sipil menjadi kunci agar gerakan lingkungan lebih terorganisir dan memiliki dampak yang masif. Program-program seperti manajemen sampah, pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK), penggunaan energi terbarukan, hingga konservasi keanekaragaman hayati akan terus dioptimalkan secara inklusif.

"LDII tidak bisa berjalan sendiri dalam membangun keteladanan lingkungan pada warganya. Sehingga, insyaAllah, kolaborasi dengan pihak pemerintah dan masyarakat sipil akan terus kami rajut, jalin dan perkuat sehingga geliat warga LDII lebih terkelola dan sistematis," lanjut Siham Affata.

Melalui penguatan dakwah ekologis yang berkelanjutan, LDII berharap Hari Bumi 2026 menjadi titik balik bagi munculnya budaya hidup hijau yang lebih kuat di tengah masyarakat Indonesia. Fokus ke depan akan mencakup pembersihan polusi, aksi emisi rendah karbon, dan perlindungan ekosistem alami demi masa depan bumi yang lebih sehat.

"InsyaAllah, dalam dakwah ekologis LDII, konteks perubahan di tapak ke depannya masih akan terpusat pada isu pengelolaan sampah dan polusi, aksi pengurangan emisi GRK dan penerapan energi terbarukan, konservasi alam dan keanekaragaman hayati, dan insyaAllah semakin baik lagi pelaksanaannya berdampingan dengan masyarakat dan semakin inklusif," pungkas Siham Affata.
Lebih baru Lebih lama