Menggugah Empati Anak Lewat Layar Perak
Guna membentengi moral generasi muda dari fenomena perundungan yang kian marak, Bidang Bimbingan Konseling (BK) Pokja Penggerak Pembina Generus (PPG) di bawah naungan LDII Kota Padang mengambil langkah inovatif. Bertempat di Gedung Serba Guna (GSG) Pondok Pesantren Miftahul Huda, Padang, pada Sabtu, 19 April 2026, mereka menggelar Festival Generus Mini yang menonjolkan pemutaran film animasi berjudul "Jumbo" karya sutradara Ryan Adriandhy.
Agenda ini bukan sekadar hiburan akhir pekan biasa. Penayangan film melalui platform Netflix tersebut dirancang sebagai instrumen edukasi karakter bagi puluhan anak usia PAUD hingga Sekolah Dasar. Melalui visualisasi yang menarik, anak-anak diajak untuk menyelami nilai-nilai persahabatan serta memahami dampak psikologis dari tindakan perundungan atau bullying yang sering terjadi di lingkungan sekolah.
Pendekatan Media yang Relevan bagi Anak Zaman Sekarang
Ketua PPG LDII Kota Padang, Hery Handayana, mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program rutin bulanan yang terus dikembangkan formatnya. Jika biasanya festival diisi dengan perlombaan formal, kali ini panitia memilih pendekatan yang lebih santai namun sarat makna melalui praktik kemandirian dan literasi digital.
"Kegiatan ini biasanya diisi dengan berbagai rangkaian seperti perlombaan, praktik BCM, munaqosah, murajaah, dan lainnya, namun kali ini kami hadirkan pendekatan berbeda melalui praktik kemandirian berupa melipat kain dan mukenah serta kampanye antibullying melalui film Jumbo," ujar Hery Handayana.
Langkah ini diambil karena menyadari bahwa anak-anak era sekarang lebih mudah menyerap pesan melalui media audiovisual. Fenomena perundungan, menurut Hery, sudah mulai terlihat bahkan di level pendidikan dasar, sehingga intervensi sejak dini menjadi hal yang mutlak dilakukan.
"Kami dari PPG bersama bidang BK melihat fenomena bullying sudah lazim terjadi bahkan pada anak usia sekolah dasar, sehingga perlu metode pembelajaran berbasis media agar pesan lebih cepat dipahami," jelas Hery Handayana.
Menanamkan Ketahanan Mental dan Peran Orang Tua
Di balik kemeriahan festival, terselip pesan mendalam bagi para orang tua yang turut mendampingi. Hery menekankan betapa krusialnya pengawasan orang tua terhadap arus informasi digital yang dikonsumsi anak-anak pra-remaja. Rasa ingin tahu yang tinggi tanpa bimbingan yang tepat berisiko menjerumuskan anak pada konten kekerasan, pornografi, hingga hoaks.
"Anak pra remaja memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, sehingga mulai mengakses konten yang tidak sesuai usia, seperti kekerasan, bullying, pornografi, atau hoaks. Orang tua perlu lebih detail memperhatikan tumbuh kembang dan dengan apa anak-anak bertumbuh," tegas Hery Handayana.
Viona Putri Amalia, selaku penanggung jawab kegiatan, menambahkan bahwa film "Jumbo" dipilih karena narasinya yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari anak Indonesia. Film produksi Visinema Pictures ini menceritakan tentang Don, seorang anak bertubuh besar yang bangkit dari perundungan berkat dukungan sahabat-sahabatnya.
"Banyak hal positif yang bisa diambil, terutama bagaimana anak memahami sebab dan akibat dari setiap perbuatan serta belajar bertanggung jawab atas kesalahan," kata Viona Putri Amalia.
Filosofi di Balik Kisah Don dan Sahabat-sahabatnya
Film "Jumbo" sendiri telah mencatat prestasi gemilang di kancah nasional dengan meraup lebih dari 7 juta penonton dalam waktu singkat sejak dirilis Maret 2025. Alurnya yang kuat dalam menggambarkan nilai keberanian, ketulusan, dan empati menjadi alasan utama panitia menggunakannya sebagai bahan ajar non-formal.
Anak-anak diajarkan untuk tidak memandang rendah teman berdasarkan fisik dan didorong untuk saling membantu saat menghadapi kesulitan. Viona menegaskan bahwa membangun empati adalah fondasi utama agar anak-anak tidak menjadi pelaku maupun korban bullying di masa depan.
"Anak-anak diajak untuk tidak merendahkan teman, saling membantu, serta berani menghadapi masalah tanpa kekerasan," ujar Viona Putri Amalia.
Hery Handayana juga menyoroti poin penting bagi para orang tua dalam menghadapi dinamika emosi anak. Menurutnya, keluarga harus menjadi dermaga yang paling aman bagi anak untuk bersandar. Orang tua diharapkan tidak hanya pandai memberi nasihat, tetapi juga harus menjadi pendengar yang aktif bagi keluh kesah buah hati mereka.
"Orang tua harus hadir dalam setiap perjalanan anak, membekali ketahanan mental sejak dini, serta menjadi pendengar yang baik, bukan hanya memberi nasihat," tutur Hery Handayana.
Dengan berakhirnya festival ini, LDII Kota Padang berharap bibit-bibit karakter luhur telah tertanam dalam diri para generus. Generasi yang cerdas secara intelektual namun tetap memiliki kelembutan hati dan integritas sosial adalah target jangka panjang dari pembinaan ini. Sinergi antara hiburan yang mendidik dan pendampingan orang tua diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang sehat bagi tumbuh kembang anak-anak di Sumatera Barat.