Cegah Radikalisme, Polres Nganjuk Perkuat Wawasan Kebangsaan Santri Ponpes Al Ubaidah Kertosono

Cegah Radikalisme, Polres Nganjuk Perkuat Wawasan Kebangsaan Santri Ponpes Al Ubaidah Kertosono

Waspadai Paham Radikal, Polres Nganjuk Beri Arahan Khusus di Ponpes Al Ubaidah

Satuan Intelijen dan Keamanan (Satintelkam) Polres Nganjuk mengambil langkah preventif guna membentengi generasi muda dari pengaruh paham radikalisme yang kian kompleks. Bertempat di Pondok Pesantren Al Ubaidah, Kertosono, Kabupaten Nganjuk, pihak kepolisian memberikan edukasi mendalam mengenai wawasan kebangsaan dan moderasi beragama pada Selasa, 21 April 2026.

Kepala Bidang Operasional (KBO) Satintelkam Polres Nganjuk, Ipda Hadi Prayitno, yang hadir sebagai narasumber utama, memaparkan bahwa ancaman radikalisme sering kali menyusup melalui celah intoleransi dan eksklusivitas pemikiran. Ia menegaskan bahwa para santri harus memiliki filter yang kuat dalam menyaring setiap informasi keagamaan yang mereka terima, terutama di tengah banjir informasi digital saat ini.

"Banyak konflik besar berawal dari intoleransi. Ketika masing-masing merasa paling benar dan tidak mau mengalah, maka perpecahan akan mudah terjadi," ujar Ipda Hadi Prayitno di hadapan ratusan santri yang menyimak dengan antusias.

Bahaya Belajar Agama Tanpa Sanad Guru yang Jelas

Dalam diskusinya, Ipda Hadi juga menyoroti tren generasi muda yang cenderung mengandalkan mesin pencari dan media sosial sebagai sumber utama belajar agama. Menurutnya, tanpa bimbingan guru yang kompeten (sanad yang jelas), teks keagamaan sangat rentan disalahpahami dan dipelintir untuk kepentingan kelompok radikal yang ingin memecah belah bangsa.

"Belajar agama yang benar sebaiknya melalui guru secara langsung, bukan hanya dari internet, karena bisa salah tafsir dan berpotensi mengarah pada paham radikal," tegas Ipda Hadi Prayitno.

Ia menambahkan bahwa benteng utama dalam menghadapi paham menyimpang adalah internalisasi nilai-nilai kerukunan dan jiwa mengalah untuk kepentingan yang lebih besar. Karakter ini dianggap krusial agar santri tidak mudah terpancing emosi atau terprovokasi oleh narasi-narasi kebencian.

Suara Generasi Z: Cerdas Saja Tidak Cukup

Kegiatan ini juga membuka ruang dialog bagi para santri untuk menyampaikan pandangan mereka terhadap tantangan zaman. Fivian Prameswari Azizah, salah satu santri putri, memberikan perspektif menarik mengenai dinamika Generasi Z (Gen-Z) yang kini mendominasi populasi pesantren.

"Gen-Z itu orangnya cerdas, namun kecerdasan itu kadang disalahgunakan untuk kepentingan yang menyimpang, makanya perlu dilandasi dengan akhlakul karimah," ungkap Fivian Prameswari Azizah secara lugas.

Melalui pembekalan ini, Pondok Pesantren Al Ubaidah Kertosono diharapkan terus konsisten mencetak lulusan yang tidak hanya mumpuni secara religius, tetapi juga nasionalis dan toleran. Sinergi antara kepolisian dan lembaga pendidikan agama seperti ini dipandang sebagai instrumen vital dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) di wilayah Jawa Timur.

Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.

Lebih baru Lebih lama