Momen Kebersamaan dalam Penentuan 1 Syawal 1447 Hijriah
Suasana syahdu menyelimuti bibir Pantai Takisung, Tanah Laut, pada Kamis (19/3/2026) sore. Di bawah langit yang perlahan berubah jingga, sejumlah tokoh agama, pejabat pemerintah, serta perwakilan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam berkumpul bersama. Kehadiran mereka membawa satu misi penting: melakukan pengamatan hilal sebagai penanda masuknya bulan Syawal.
Kegiatan rukyatul hilal yang diinisiasi oleh Pemerintah Kabupaten Tanah Laut melalui Badan Hisab Rukyat (BHR) ini tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan. Lebih dari itu, agenda ini bertransformasi menjadi ruang dialog dan silaturahmi yang hangat bagi berbagai elemen umat Islam dan pemerintah daerah. Hadir dalam kesempatan tersebut Sekretaris Daerah, Kepala Kantor Kemenag Tanah Laut, Ketua Pengadilan Agama, serta utusan dari MUI, NU, Muhammadiyah, dan DPD LDII Tanah Laut.
Kontribusi Aktif LDII dalam Proses Pengamatan
Dewan Pimpinan Daerah (DPD) LDII Tanah Laut kembali menunjukkan partisipasi aktifnya dalam agenda penting ini. Ketua DPD LDII Tanah Laut, Anton Kuswoyo, bersama tim ahli yang terdiri dari H. Suseno, Moch Kharis Abdurrahman, dan Cucu Sulaiman, hadir dengan membawa perlengkapan pengamatan yang mumpuni.
“Sejak tahun 2024 kami selalu dilibatkan dalam kegiatan ini. Kami membawa peralatan sendiri dan juga tenaga ahli untuk membantu proses pengamatan,” ujar Ketua DPD LDII Tanah Laut, Anton Kuswoyo.
Anton bersama timnya terlihat serius mengarahkan teropong bintang ke arah cakrawala, memantau kemunculan lengkungan tipis bulan sabit di tengah cahaya matahari yang mulai meredup. Meskipun secara teknis hilal tidak berhasil terlihat pada sore itu, Anton menegaskan bahwa proses pencarian tetap memiliki nilai hukum yang krusial.
“Walaupun hilal tidak terlihat, proses ini tetap harus dilakukan secara langsung. Karena hasil pengamatan, termasuk ketika hilal tidak tampak, menjadi bagian dari penentuan yang sah,” jelas Anton Kuswoyo.
Mempererat Ukhuwah di Tengah Keberagaman
Di samping aspek ilmiah dan keagamaan, sisi kemanusiaan dan kebersamaan menjadi sorotan utama dalam kegiatan ini. Sambil menunggu hasil akhir pengamatan, para tokoh lintas ormas saling bertukar cerita dan bercengkerama, menciptakan suasana yang cair dan harmonis. Kebersamaan tersebut semakin terasa ketika waktu berbuka puasa tiba.
“Alhamdulillah, kegiatan ini bukan hanya tentang melihat hilal, tetapi juga menjadi momen untuk mempererat silaturrahim. Kita bisa berbuka puasa bersama di sini, dalam suasana yang penuh kebersamaan,” tambah Anton Kuswoyo.
Berdasarkan hasil pengamatan kolektif, dilaporkan bahwa hilal tidak terlihat di Pantai Takisung, senada dengan hasil dari berbagai titik pemantauan lainnya di Indonesia. Dengan demikian, pemerintah secara resmi menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada hari Sabtu, 21 Maret 2026. Meski pengamatan fisik tidak membuahkan hasil, semangat persatuan yang terjalin erat di tepi pantai menjadi penutup Ramadan yang indah bagi masyarakat Tanah Laut.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.