Sinergi Lintas Ormas: Membangun Adab dan Persatuan di Tana Toraja
Kabupaten Tana Toraja menunjukkan wajah harmonis melalui kolaborasi antarorganisasi kemasyarakatan (ormas) Islam yang kian erat. Dalam suasana penuh khidmat di bulan suci Ramadan, DPD LDII Kabupaten Tana Toraja kembali menggelar pengajian rutin. Pada momentum kali ini, pengajian yang berlokasi di Masjid Al-Musafir tersebut menghadirkan Ketua MUI Tana Toraja, KH A. Zainal Muttaqin, sebagai pemateri utama pada Sabtu (21/2/2026).
Pentingnya Adab dalam Kehidupan Bermasyarakat
Dalam tausiyahnya, KH A. Zainal Muttaqin menitikberatkan pada penguatan nilai-nilai adab dan akhlak sebagai fondasi interaksi sosial. Beliau mengingatkan bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa membalas penghormatan dengan cara yang lebih mulia atau setidaknya setimpal.
“Jika tidak mampu, maka balaslah dengan yang setara,”
ujar KH A. Zainal Muttaqin di hadapan para jamaah. Pesan ini, menurutnya, sangat relevan untuk menjaga stabilitas hubungan baik antarumat beragama, antarormas, maupun antara masyarakat dengan pemerintah.
“Sikap saling menghargai dan membalas kebaikan dengan kebaikan adalah fondasi utama terciptanya persatuan,”
tambahnya menekankan pentingnya harmoni di tengah keberagaman.
Kolaborasi Strategis untuk Pembinaan Umat
Acara tersebut turut dihadiri oleh jajaran pengurus MUI Tana Toraja serta jajaran pengurus DPD LDII Tana Toraja, termasuk Ketua Marjono dan Wakil Ketua Agus Marsyahada. Marjono menyampaikan bahwa kehadiran tokoh sentral seperti Ketua MUI memberikan dampak psikologis yang positif bagi soliditas umat Islam di daerah tersebut.
“Kehadiran Ketua MUI menjadi simbol kuat kolaborasi dan soliditas antarormas Islam di daerah yang dikenal dengan keragaman budaya serta kearifan lokalnya,”
ungkap Marjono. Ia menegaskan bahwa LDII berkomitmen penuh untuk terus menjalin komunikasi yang intens dengan seluruh elemen keumatan.
“LDII memandang sinergi dengan MUI sebagai langkah strategis dalam memperkuat pembinaan umat di tengah dinamika sosial yang terus berkembang,”
jelasnya lagi.
Visi Dakwah yang Inklusif dan Berwawasan Kebangsaan
Lebih lanjut, Marjono menjelaskan bahwa forum-forum pengajian yang diselenggarakan LDII dirancang sedemikian rupa untuk melahirkan warga negara yang religius sekaligus nasionalis. Fokusnya bukan sekadar pada rutinitas ibadah, melainkan pada pembentukan karakter sosial yang kuat.
“Melalui forum pengajian, LDII tidak hanya menekankan aspek ritual ibadah, tetapi juga wawasan kebangsaan, toleransi, serta tanggung jawab sosial sebagai warga negara,”
tutur Marjono.
Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa dakwah yang dijalankan LDII bersifat terbuka dan inklusif. Dengan sinergi yang terus terjaga, diharapkan tercipta umat yang berilmu, berakhlak mulia, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi pembangunan daerah maupun bangsa secara umum.
Sebagai penutup, semangat kolaborasi ini diharapkan mampu mewujudkan dakwah yang solutif dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat modern. Upaya bersama ini menjadi kunci utama dalam menghadirkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin, sekaligus menjaga kelestarian kedamaian di Bumi Lakipadada yang sarat akan nilai budaya.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.
