Jembatan Pemahaman: Mengikis Prasangka Melalui Kajian Akademis
Ketidaktahuan sering kali menjadi akar dari prasangka. Prinsip inilah yang menggerakkan Ahmad Ali, seorang cendekiawan Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus akademisi Universitas PTIQ Jakarta, untuk melakukan riset mendalam selama bertahun-tahun terhadap internal Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Hasil kajian objektif tersebut kini dituangkan dalam buku berjudul “Sistem, Model, dan Corak Pendidikan LDII dalam Platform Profesional Religius, dari Sabang sampai Merauke” yang diluncurkan di Jakarta Selatan pada Selasa (10/3).
Dalam acara peluncuran yang berlangsung di Sinabung Eight tersebut, Ahmad Ali mengungkapkan bahwa ketertarikannya meneliti LDII bermula dari dinamika kontroversial yang ia amati sejak tahun 2001. Alih-alih terjebak dalam opini publik, ia memilih jalur akademis untuk menemukan kebenaran di balik sistem organisasi tersebut.
“Manusia cenderung memusuhi apa yang tidak mereka ketahui. Sebagai orang NU yang awalnya tidak mengenal LDII, saya tidak ingin menjadi musuh bagi siapapun. Saya ingin menjadi kawan dengan cara memahami sistem mereka secara objektif,”
Rahasia di Balik Karakter Luhur dan Standardisasi Pendidikan
Buku ini mengungkap struktur internal pendidikan LDII yang ternyata memiliki standar karakter yang masif dan seragam di seluruh pelosok Indonesia. Ahmad Ali menemukan bahwa internalisasi 29 Karakter Luhur dan pemahaman aspek mendasar seperti tata cara bersuci (thoharoh) dilakukan secara terstruktur dari tingkat pusat hingga ke daerah-daerah terpencil.
Apresiasi datang dari Guru Besar PAI UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. KH Dede Rosyada. Ia menilai model pendidikan LDII sebenarnya telah lebih dulu mengimplementasikan semangat "Merdeka Belajar" yang kini digalakkan pemerintah.
“Dalam buku ini dijelaskan bahwa pendidikan formal yang mereka kembangkan memiliki orientasi keterampilan lokal. Lulusannya tidak hanya pegang ijazah, tapi punya keahlian nyata. Lebih dari itu, agama di LDII bukan sekadar teori, tapi sudah menjadi kultur melalui pembiasaan,”
Membangun Sinergi Antar-Elemen Bangsa
Platform "Profesional Religius" yang diusung LDII terbukti bukan sekadar slogan, melainkan sebuah sistem nyata yang diimplementasikan di lapangan. Hal ini diamini oleh Ketua DPD LDII Kabupaten Jember, Akhmad Malik Afandi, yang melihat penelitian Ahmad Ali sebagai sebuah validasi jujur dari pihak eksternal yang memiliki bobot ilmiah tinggi.
Sinergi antara tradisi kuat pesantren NU dan manajemen karakter profesional religius LDII diharapkan mampu menjadi kekuatan baru bagi umat Islam di Indonesia. Dengan hadirnya buku ini, ruang dialog antar-elemen bangsa kini memiliki referensi ilmiah yang kuat untuk meminimalisir kesalahpahaman.
Sebagai penutup, karya ini diharapkan tidak hanya menjadi koleksi perpustakaan, tetapi menjadi panduan bagi praktisi pendidikan dalam membangun budaya karakter yang kuat. Kehadiran buku ini menjadi bukti nyata bahwa kejujuran intelektual dapat menjadi jembatan ukhuwah Islamiyah yang kokoh demi kemajuan bangsa Indonesia di masa depan.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.