Mengelola Waktu di 'Ladang' Dunia: Persiapan Menuju Akhirat dalam Tinjauan Spiritual

Mengelola Waktu di 'Ladang' Dunia: Persiapan Menuju Akhirat dalam Tinjauan Spiritual

Filosofi Dunia Sebagai Ladang Akhirat: Waktunya Menanam Benih Kebaikan

Dalam menjalani kehidupan di dunia, manusia seringkali lupa bahwa setiap detik yang terlewati adalah kesempatan yang terbatas. Allah SWT telah menetapkan batasan waktu bagi setiap individu untuk berkiprah di muka bumi. Ustaz Mochammad Irsyaddudin Nashrulloh, dalam sebuah tayangan di LDII TV baru-baru ini, mengingatkan kembali filosofi mendalam mengenai kehidupan yang diibaratkan sebagai sebuah ladang pertanian.

Beliau merujuk pada ungkapan para ulama bahwa dunia adalah tempat untuk menanam, sedangkan akhirat adalah waktu untuk memanen hasilnya. Kesempatan menanam ini bersifat dinamis; ada yang diberikan waktu hingga 50 tahun, 20 tahun, bahkan ada yang hanya satu tahun. Oleh karena itu, pemilihan benih yang akan ditanam menjadi krusial.

“Kita bebas memilih jenis tanaman apa pun, tanaman yang baik, yang harum, yang pahit, bahkan yang berduri sekalipun. Namun, ingatlah bahwa apa yang kita tanam akan menentukan apa yang kita tuai. Jika kita menanam benih yang unggul, kita akan menikmati hasil yang manis, buah yang tidak hanya lezat untuk dinikmati sendiri, tetapi juga layak menjadi hidangan di tempat yang mulia. Sebaliknya, jika we menanam sesuatu yang buruk, maka hasil buruk pulalah yang akan kita terima,” tegas Ustaz Moch. Irsyad.

Menghadapi Rintangan dan Ujian dalam Beramal

Layaknya seorang petani yang menghadapi hama atau cuaca buruk, perjalanan mengumpulkan amal di dunia juga tidak lepas dari cobaan. Ustaz Moch. Irsyad menekankan bahwa setiap umat memiliki ajal yang tidak dapat dimajukan maupun diakhirkan, sebagaimana termaktub dalam QS. Ali Imron Ayat 185 bahwa setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.

“Ketika kita ingin memanfaatkan lahan itu dengan baik, ada beberapa hal yang harus dilakukan, pertama kita harus menanam sesuai dengan petunjuk atau ilmu kita kita pelajari. Kedua kita supaya giat dalam menanam, tanaman harus dirawat, dipupuk, dan diperhatikan setiap hari pertumbuhannya. Ketiga kita harus menjaga tanaman agar tetap berkembang, walau ada berbagai macam cobaan, rintangan, tanaman tetap bisa berkembang terus, berbuah dan berhasil,” terangnya.

Beliau juga menambahkan bahwa dalam memanfaatkan umur yang terbatas ini, setiap manusia harus bijak dalam mempertimbangkan setiap perbuatannya.

”Maka dalam memanfaatkan umur yang telah Allah berikan kepada kita harus benar-benar mempertimbangkan tanaman apa yang akan kita tanam di dalam lahan tersebut. Amal apa yang akan kita kerjakan, amal apa yang akan kita perbuat. Karena nanti amal kita berpengaruh kepada hasilnya,” ungkapnya.

Tiga Kunci Sukses dalam Beribadah dan Beramal

Agar tidak gagal dalam proses 'menanam' di dunia, Ustaz Moch. Irsyad memberikan tiga kiat utama bagi umat Islam. Pertama adalah beramal berdasarkan petunjuk Alquran dan Hadis. Kedua adalah bersungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah, bukan sekadar menggugurkan kewajiban atau sekadar formalitas semata.

“Apabila mengerjakan salat harus sungguh-sungguh, jika mengerjakan puasa, puasanya harus sungguh-sungguh, apabila mengerjakan zakat, haji, semua harus dikerjakan dengan baik dan benar. Sama halnya dengan tanaman, sama-sama dirawat, satunya dirawat dengan sungguh-sungguh satunya dengan biasa makan hasilnya akan berbeda. Ketika kita beramal, yang penting solat, STMJ (Solat Terus Maksiat Jalan). Yang satunya bener-bener salat, kekhusyukannya dijaga, tumakninah dijaga maka hasilnya akan beda,” tegasnya.

Namun, beliau juga memperingatkan adanya gangguan psikologis dan spiritual saat beramal, seperti rasa malas, bosan, hingga perasaan sombong atau 'merasa paling baik'.

“Tentunya dalam proses kita melaksanakan amal kebaikan kita pasti menjumpai cobaan-cobaan, ada kalanya kita mendapatkan rasa malas, bosan, bahkan baper. Menjadi si-paling , merasa paling hebat, paling alim, paling faham sendiri karena yang lain tidak mengerjakan sedangkan kita mengerjakan sendiri,” tuturnya.

Kiat ketiga yang tidak kalah penting adalah menjaga kesucian amal dari hal-hal yang dapat merusaknya, seperti salah niat, iri, dan dengki. Sebagai penutup, beliau mengajak seluruh umat untuk berlomba-lomba dalam kebaikan sebelum waktu yang diberikan Allah habis.

“Apabila kita bisa melaksanakan ini semua insyallah kita akan bisa menui hasilnya di akhirat nanti. Barang siapa yang beramal kebaikan maka akan mendapatkan kebaikan dan barang siapa yang beramal kejelekan maka akan mendapatkan kejelekan,” pungkasnya.

Melalui kesadaran akan keterbatasan waktu, diharapkan setiap muslim dapat lebih fokus dalam menghimpun bekal terbaik. Mari jadikan dunia sebagai ladang yang subur bagi benih-benih kebajikan, sehingga kelak di akhirat kita dapat memanen kebahagiaan yang abadi sesuai dengan janji Allah dalam QS. Fussilat ayat 46.

Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.

Lebih baru Lebih lama