LDII Bali Gelar Salat Idulfitri 1447 H, Tekankan Etika Digital dan Reset Akhlak
Suasana khidmat menyelimuti halaman Gedung Serbaguna LDII Provinsi Bali di Denpasar pada Sabtu, 21 Maret 2026. Meski rintik hujan sempat turun di tengah prosesi, ribuan jamaah tetap teguh berada di barisannya untuk melaksanakan salat Idulfitri 1447 Hijriah sekaligus menyimak pesan keagamaan dalam momen kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa.
Dalam nasihatnya, Wakil Ketua DPW LDII Bali, H. Hardilan, menyoroti tantangan besar di era teknologi komunikasi saat ini. Ia mengingatkan warga untuk menjaga lisan dan jari di ruang digital agar pahala ibadah tidak tergerus oleh perilaku buruk, seperti mencaci maki atau menyebarkan informasi hoaks di media sosial.
"Idul Fitri dipandang sebagai momentum yang tepat untuk meruntuhkan tembok permusuhan yang mungkin muncul akibat perbedaan pandangan atau pilihan yang sempat merenggangkan hubungan," ujar H. Hardilan.
Lebih lanjut, H. Hardilan mengimbau agar masyarakat tidak menggunakan media sosial sebagai ajang pamer kemewahan atau flexing. Esensi Idulfitri adalah kembali kepada kesucian dan kesederhanaan. Ia mengajak jamaah untuk melakukan "Reset Akhlak", yakni sebuah upaya sungguh-sungguh untuk mengembalikan karakter diri menjadi pribadi yang lebih pemaaf, rendah hati, dan santun dalam berinteraksi sosial sehari-hari.
Selain perbaikan akhlak secara individu, penguatan hubungan antarmanusia atau hablumminannas juga menjadi poin krusial. Silaturahim di era modern diharapkan tidak sekadar dilakukan melalui pesan otomatis atau copy-paste, melainkan dilakukan dengan menghadirkan hati dan ketulusan untuk mempererat ikatan persaudaraan.
"Silaturahim langsung yang dilakukan hari ini adalah kunci untuk mempererat kembali tali persaudaraan di hari yang fitri. Kebersamaan warga diharapkan dapat menjadi modal sosial dalam menciptakan harmoni di lingkungan masyarakat," tukas H. Agus Purmadi, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua DPW LDII Bali.
Rangkaian kegiatan Idulfitri ini ditutup dengan sesi ramah tamah dan saling bermaaf-maafan antarwarga. Semangat kebersamaan yang terpancar dalam acara tersebut diharapkan menjadi pondasi kuat bagi warga dalam menjaga harmoni dan persatuan di tengah kemajemukan masyarakat Bali.
Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.