Khotbah Idul Fitri 1447 H: Ketua LDII DIY Tekankan Pentingnya Iman, Islam, dan Ihsan di Tengah Tantangan Global

Khotbah Idul Fitri 1447 H: Ketua LDII DIY Tekankan Pentingnya Iman, Islam, dan Ihsan di Tengah Tantangan Global

Pesan Idul Fitri dari Lapangan Sanata Dharma: Memperkuat Karakter di Era Dinamis

Ratusan jemaah memadati Lapangan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta untuk menunaikan Sholat Idul Fitri 1447 H pada Jumat (21/3). Dalam kesempatan sakral tersebut, Ketua DPW LDII DIY, Ustadz Atus Syahbudin, yang bertindak sebagai khatib, menyampaikan pesan mendalam mengenai penguatan spiritualitas melalui tiga pilar utama: Iman, Islam, dan Ihsan.

"Alhamdulillah, kita masih diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk menyempurnakan ibadah Ramadan dan melaksanakan Sholat Idul Fitri dalam keadaan sehat dan penuh kebarokahan," ujar Ustadz Atus Syahbudin.

Ustadz Atus menekankan bahwa ketiga pilar tersebut bukan sekadar teori keagamaan, melainkan fondasi bagi kepribadian Muslim yang utuh. Menurutnya, ketiga unsur ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain dalam membentuk karakter yang tangguh.

"Iman, Islam, dan ihsan adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam membentuk pribadi Muslim yang sempurna," tegas Ustadz Atus Syahbudin.

Ia menjabarkan lebih lanjut mengenai makna operasional dari masing-masing pilar tersebut sebagai panduan bagi jemaah:

  • Iman:
    "Iman adalah meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan membuktikannya dengan amal perbuatan," jelas Ustadz Atus Syahbudin.
  • Islam:
    "Islam adalah kepasrahan total kepada Allah dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya," lanjut Ustadz Atus Syahbudin.
  • Ihsan:
    "Ihsan adalah beribadah seolah-olah kita melihat Allah, dan jika tidak mampu, maka yakinlah bahwa Allah senantiasa melihat kita," ungkap Ustadz Atus Syahbudin.

Menghadapi Tantangan Global dan Kepedulian Sosial

Sebagai akademisi yang juga merupakan Dosen Fakultas Kehutanan UGM, Ustadz Atus mengingatkan jemaah agar nilai-nilai spiritualitas tersebut menjadi benteng dalam menghadapi dinamika dunia yang kian kompleks, mulai dari isu sosial hingga geopolitik global.

"Nilai-nilai ini harus menjadi benteng kita dalam menghadapi dinamika kehidupan, baik dari sisi sosial, ekonomi, maupun global," ujar Ustadz Atus Syahbudin.

Beliau secara khusus menyoroti potensi krisis energi dan gejolak dunia yang membutuhkan kewaspadaan kolektif masyarakat agar tetap stabil dalam menjalani kehidupan beragama dan berbangsa.

"Kita harus waspada terhadap berbagai dinamika global yang dapat berdampak pada kehidupan, termasuk potensi krisis energi yang memengaruhi masyarakat luas," katanya.

Selain kewaspadaan, ia pun mendorong jemaah untuk memperkuat filantropi Islam dengan membantu sesama yang sedang mengalami kesulitan.

"Mari kita tingkatkan kepedulian sosial, membantu saudara-saudara kita yang terkena musibah, melalui saluran yang resmi dan terpercaya," pesannya.

Titik Awal Menuju Kualitas Ibadah yang Lebih Baik

Sebagai penutup, Ustadz Atus mengajak seluruh umat untuk tidak menganggap Idul Fitri sebagai akhir dari perjuangan spiritual selama Ramadan, melainkan sebuah permulaan untuk peningkatan kualitas diri yang berkelanjutan.

"Mari kita jadikan Idul Fitri ini sebagai titik awal untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas ibadah kita ke depan," ajaknya.

Sembari menutup khotbahnya dengan suasana yang khidmat dan penuh persaudaraan, beliau menyampaikan salam kemenangan dan permohonan maaf kepada seluruh jemaah yang hadir.

"Taqabbalallahu minna wa minkum, selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H, mohon maaf lahir dan batin," tutur Ustadz Atus Syahbudin.

Pelaksanaan Sholat Idul Fitri tersebut berlangsung dengan tertib dan khusyuk di bawah langit Yogyakarta. Suasana penuh kebersamaan ini diharapkan menjadi momentum bagi umat Islam untuk terus berkontribusi positif bagi lingkungan sekitar di tengah berbagai tantangan zaman.

Baca juga artikel menarik lainnya di situs kami.

Lebih baru Lebih lama