Puisi Hari Ibu 22 Desember 2025 Pengorbanan Ibu Tiada Pernah Habis

Pengorbanan Ibu Tiada Pernah Habis — Puisi & Lagu Hari Ibu (22 Desember 2025)

Ibu adalah kisah yang tak berhenti dituturkan. Dalam setiap helaan napasnya ada doa, dalam setiap lelahnya ada cinta yang tak bersyarat. Di bawah ini tersaji puisi yang mengalir seperti lagu — bisa dibaca, dinyanyikan, atau dibagikan untuk bunda tersayang pada peringatan Hari Ibu, 22 Desember 2025.

لِأُمِّكَ حَقٌّ لَوْ عَلِمْتَ كَبِيْرُ كَثِيْرُكَ يَا هَذَا لَدَيْهَا يَسِيْرُ فَكَمْ لَيْلَةٍ بَاتَتْ بِثَقْلِكَ تَشْتَكِى لَهَا مِنْ جُوَاهَا أَنَّةٌ وَزَفِيْرُ وَفِى الْوَضْعِ لَوْ تَدْرِى عَلَيْهَا مَشَقَّةٌ فَمِنْ غَصَصٍ مِنْهَا الْفُؤَادُ يَطِيْرُ وَكَمْ غَسَلَتْ عَنْكَ الْأَذَى بِيَمِيْنِهَا وَمَا حِجْرُهَا إلَّا لَدَيْكَ سَرِيْرُ وَتُفْدِيْكَ مِمَّا تَشْتَكِيْهِ بِنَفْسِهَا وَمِنْ ثَدْيِهَا شَرْبٌ لَدَيْكَ نَمِيْرُ وَكَمْ مَرَّةٍ جَاعَتْ وَأَعْطَتْكَ قُوْتَهَا حُنُوًّا وَإِشْفَاقًا وَأَنْتَ صَغِيْرُ فَأَهًا لِذِى عَقْلٍ وَيَتَّبِعِ الْهَوَى وَأَهًا لِأَعْمَى الْقَلْبِ وَهُوَ بَصِيْرُ فَدُوْنَكَ فَارْغَبْ فِى عَمِيْمِ دُعَاِئِهَا فَأَنْتَ لِمَا تَدْعُوْ إِلَيْهِ فَقِيْرُ
Terjemahan (Indonesia):
Hak ibumu sangat besar kalau kau tahu — Yang (menurut)mu banyak, sangat remeh di sisi ibumu. Berapa malam ia terganggu tidurnya karena merawatmu, merintih dan mengaduh karena susahnya menjaga. Saat melahirkan, ia rasa sakit yang tak terperi; berapa kali ia menyingkirkan kotoranmu dengan tangan kanannya, pangkuannya adalah tahta untukmu. Ia menebus deritamu dengan dirinya; dari dadanya kau minum, dari darahnya tercipta kekuatan untukmu. Berapa kali ia kelaparan, namun tetap memberi makan padamu, dengan kasih, dengan sayang, sedangkan kau masih kecil. Sayangilah ia dengan akal sehat, bukan hawa nafsu; jangan buta padahal mata terbuka. Rendahlah diri di hadapan doa-doanya; karena padanya kau fakir dari apa yang ia pinta.

Cerita di Balik Setiap Nafas

Ketika kita menyebut kata "ibu", kita merujuk pada sebuah proses: menanggung, merawat, menetaskan harapan. Ibu bukan hanya gelar; ia adalah rutinitas yang tak pernah dipajang di penghargaan, namanya jarang disebut di slide presentasi, tapi namanya selalu hidup dalam kenangan paling lembut.

Ingat saat kecil, ketika peluhnya mengering pada dahi karena membersihkan mainan, atau ketika ia menahan lapar agar kita kenyang? Ingat saat hujan deras menghalangi langkah dan ibu tetap menjemput dengan payung satu yang sobek? Semua itu bukan kebetulan — itu pengorbanan yang berulang sampai napas terakhir.

Di Hari Ibu ini, bukan saja ucapan yang perlu; tetapi pengakuan dan doa. Perbuatan kecil — menelpon, membawakan makanan, membersihkan rumah, mengembalikan pesan singkat yang lama tak dijawab — adalah gema syukur yang membuat doa ibu terasa ringan.

Lirik Lagu — "Doa untuk Bunda"

Sunyi pagi, secangkir doa untukmu.

Verse 1
Kau bawa pagi dalam pelukan h Langkahmu ringan walau tubuhmu lelah. Setiap senyummu menyulam keberanian, Menjadi pelita di lorong hidupku.

Chorus
Bunda, titipkan doamu di telingaku, Agar aku tahu arah pulangku. Bunda, setiap luka kau sembunyikan, Demi aku kau belajar menahan.

Verse 2
Tanganmu lelah, namun tetap memberi, Makanan, cinta, dan harap tanpa syarat. Bila aku tersesat pada malam yang pekat, Namamu jadi kompas, namamu jadi doa.

Bridge (melodi naik)
Jangan biarkan air matamu jatuh sia-sia, Aku akan pulang membawa cerita yang baik. Bila nanti waktuku singkat, kuharap kau tahu, Segala kebaikanmu menuntunku pulang.

Chorus (ulang, piano melambat)
Bunda, titipkan doamu di telingaku... (ulang dan fade)
Lebih baru Lebih lama