Mati, Bahkan Jika Kamu Bersembunyi dalam Benteng atau Lari ke Ujung Dunia — Jika Ajal Tiba, Tak Ada yang Mampu Menghindar

Mati, Bahkan Jika Kamu Bersembunyi dalam Benteng atau Lari ke Ujung Dunia — Jika Ajal Tiba, Tak Ada yang Mampu Menghindar

Ada satu hal yang menyatukan seluruh manusia tanpa kecuali: ajal. Tidak peduli sekuat apa seseorang, setinggi apa ilmunya, sehebat apa perlindungan yang ia punya, atau sejauh apa ia berlari—ketika waktu yang ditetapkan Allah tiba, tak ada satu jiwa pun yang mampu menundanya walau sesaat. Begitulah kehidupan, dan begitulah ketetapan Allah.

Pernahkah kamu mendengar kisah seseorang yang mencoba lari dari kematian? Kisah yang sering diceritakan ulama ini berulang dalam banyak versi, namun intinya sama. Ada seorang laki-laki yang melihat tanda-tanda kematian akan menjemputnya di suatu tempat. Karena takut, ia melarikan diri sejauh mungkin, hingga ke tempat yang ia anggap tak mungkin dijangkau malaikat. Tapi justru di sanalah ia menemui Izrail yang sejak awal telah diperintahkan untuk mencabut nyawanya di titik itu.

Betapa kuat pesan ini. Kamu bisa berlari ke ujung dunia, namun takdir tidak pernah mengejar—ia hanya menunggu waktu yang telah ditentukan.

Kisah yang Sering Terjadi di Sekitar Kita

Di masyarakat kita, kejadian seperti ini terasa begitu nyata, meski kita menyadarinya setelah semuanya berlalu. Misalnya suatu hari seorang ayah melarang anaknya pergi mendaki gunung. Padahal biasanya ia tidak pernah melarang. Larangan itu terasa aneh, tiba-tiba saja muncul dari hati yang gelisah. Namun si anak bersikeras pergi.

Baru beberapa langkah meninggalkan rumah, sebelum sempat jauh, sebuah kecelakaan terjadi. Ia meninggal di tempat. Berat, pedih, dan menggetarkan batin. Tapi dari kejadian itu kita mengerti satu hal: ia tidak sedang berangkat menuju gunung. Ia sedang berangkat mendatangi ajalnya.

Begitulah hidup. Kita tidak pernah tahu di mana dan kapan Tuhan memanggil. Namun setiap detik yang kita habiskan adalah bagian dari perjalanan menuju titik yang sudah dicatat sejak lama.

Firman Allah: Setiap Jiwa Pasti Mati

Surat Ali-Imran (3) Ayat 185

كُلُّ نَفْسٍۢ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَـٰمَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدْخِلَ ٱلْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَـٰعُ ٱلْغُرُورِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati…”

Dengan ayat ini, Allah menegaskan bahwa kehidupan bukan tentang seberapa lama kita hidup, tapi bagaimana kita menjalani waktu yang sebentar ini. Keberuntungan sejati bukan panjangnya umur, melainkan selamat dari neraka dan masuk surga.

Ajal Tak Dapat Dimajukan atau Ditunda

Surat Al-A'raf (7) Ayat 34

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌۭ ۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةًۭ ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

“Apabila ajal telah datang, mereka tidak dapat mengundurkannya sesaat pun dan tidak dapat memajukannya.”

Itu artinya, hidup bukan perlombaan untuk menunda kematian. Ia datang dengan tenang, tepat waktu, tanpa tergesa, tanpa terlambat.

Benteng Sekokoh Apa pun Tak Akan Menyelamatkan

Surat An-Nisa (4) Ayat 78

أَيْنَمَا تَكُونُوا۟ يُدْرِككُّمُ ٱلْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِى بُرُوجٍۢ مُّشَيَّدَةٍۢ...

“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, meski kamu berada dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.”

Ayat ini adalah penegasan paling kuat bahwa manusia tidak pernah mampu menciptakan perlindungan absolut. Bahkan jika kita bersembunyi di balik teknologi, keamanan canggih, atau benteng setinggi langit—ajal tetap akan menemukan kita.

Pelajaran untuk Jiwa yang Ingin Selamat

Dari semua kisah dan ayat ini, ada beberapa renungan penting:

  • Takut mati bukan solusi. Yang penting adalah menyiapkan diri menghadapi kepastian itu.
  • Kehidupan dunia hanyalah persinggahan. Kita sedang dalam perjalanan pulang.
  • Berbakti, berbuat baik, dan memperbaiki diri adalah bekal terbaik.
  • Ajal tidak melihat usia. Banyak yang muda pergi duluan.
  • Yang menentukan bukan panjangnya hidup, tetapi kualitasnya.

Pada akhirnya, manusia tidak diminta untuk mengetahui kapan ia akan mati. Ia hanya diminta untuk hidup dengan benar, memaknai setiap detik sebagai kesempatan memperbaiki diri, dan membawa pulang amal terbaik yang bisa ia persembahkan kepada Tuhannya.

Semoga kita termasuk hamba yang siap, ikhlas, dan istiqamah mempersiapkan diri untuk perjalanan panjang menuju keabadian.

Lebih baru Lebih lama