Menjelang akhir tahun 2025, Indonesia kembali memasuki musim hujan. Langit yang beberapa bulan terakhir tampak cerah tanpa awan kini mulai diselimuti mendung lembut. Udara berubah, angin semakin sejuk, dan aroma khas tanah yang terkena air hujan—geosmin yang menenangkan jiwa—mengisi udara dengan kehangatan emosional yang sulit dijelaskan. Bagi sebagian orang, musim hujan adalah nostalgia. Bagi sebagian lainnya, ia adalah tanda perubahan, penanda siklus kehidupan yang terus berputar sesuai kehendak Allah SWT.
Bagi para petani, hujan adalah jawaban atas penantian panjang. Sawah yang menguning bukan karena panen, tetapi karena kemarau, kini kembali basah. Tanah yang sebelumnya keras dan retak mulai melunak, siap menerima benih baru. Inilah rahmat yang nyata—air, kehidupan, dan harapan.
Namun, hujan juga memiliki sisi lain. Terkadang ia turun dengan intensitas yang tinggi, membawa debit air melimpah yang melebihi daya tampung sungai, selokan, dan tanah. Rumah-rumah di dataran rendah mulai tergenang. Jalan-jalan berubah menjadi aliran air. Inilah ujian. Dan antara rahmat serta ujian itulah, manusia kembali diingatkan untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT.
Hujan: Tanda Kekuasaan Allah SWT
Hujan bukan sekadar fenomena alam. Ia adalah ayat kauniyah—tanda kekuasaan Allah di alam semesta. Setiap tetesnya turun bukan tanpa perhitungan. Ada kadar, ada takaran, ada hikmah yang melingkupi proses itu semua.
“Dan Yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan), lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati; seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).”
— QS. Az-Zukhruf: 11
Ayat ini menegaskan bagaimana hujan memiliki hubungan erat dengan kehidupan. Tanah yang mati menjadi hidup kembali hanya dengan curahan air. Dan begitulah pula kelak manusia dibangkitkan dari tanah. Hujan adalah pengingat hari kebangkitan, pengingat bahwa Allah Maha Mampu menghidupkan yang telah mati.
Doa-Doa Ketika Hujan Turun
Rasulullah SAW mengajarkan kepada umatnya doa-doa khusus ketika hujan turun. Ini menunjukkan bahwa hujan adalah momen spiritual, bukan sekadar fenomena cuaca.
1. Doa Meminta Hujan yang Menyejukkan
“Ya Allah, jadikanlah curahan hujan ini menyejukkan.”
— HR. Ibnu Majah
2. Doa Meminta Hujan yang Bermanfaat
“Ya Allah, jadikanlah hujan ini sebagai hujan yang bermanfaat.”
— HR. An-Nasa’i
Renungan: Hujan sebagai Rahmat dan Ujian
Setiap musim hujan membawa pelajaran tersendiri bagi manusia. Ia mengajarkan kesabaran, syukur, dan kewaspadaan. Hujan mengingatkan manusia bahwa tidak ada satu pun yang terjadi tanpa izin Allah. Bahkan air yang turun dari langit pun sepenuhnya berada dalam kendali-Nya.
Ketika hujan turun dengan lembut, manusia tenang. Ketika hujan turun terlalu deras, manusia gelisah. Namun, dalam keduanya terdapat pelajaran yang sama: kita adalah makhluk yang lemah dan bergantung kepada Allah.
Pada musim hujan pula banyak doa yang mustajab. Inilah kesempatan untuk memperbanyak permohonan—meminta rahmat, keselamatan, ketenangan, rezeki, dan perlindungan dari segala bencana.
Musim hujan bukan hanya perubahan cuaca. Ia adalah bagian dari siklus kehidupan yang Allah tetapkan. Setiap tetes hujan membawa pesan: rahmat, pengingat, ujian, dan peluang untuk mendekat kepada Allah. Seorang mukmin memandang hujan dengan dua sikap utama: syukur ketika membawa kebaikan, dan doa ketika berpotensi membawa musibah.
Semoga hujan yang turun pada akhir tahun 2025 ini menjadi hujan yang penuh berkah, menyejukkan, bermanfaat, dan memberikan kehidupan bagi seluruh makhluk di bumi.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
