Menikah bukan sekadar bertemunya dua hati. Dalam Islam, pernikahan adalah ibadah yang mengandung harapan besar: terbentuknya keluarga yang kuat, teratur, penuh keberkahan, dan mengantarkan seseorang menuju kebahagiaan dunia hingga berjumpa kembali di surga kelak.
Ketika seseorang menikah dengan sesama orang beriman, di situlah muncul peluang besar untuk menata kehidupan rumah tangga sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Anak-anak yang lahir pun tumbuh dalam suasana agama, mendapatkan pendidikan akhlak, adab, serta ilmu yang menjaga mereka hingga dewasa. Inilah tujuan dari keluarga sakinah mawaddah warahmah yang selalu menjadi dambaan setiap muslim.
Dalil: Allah Menciptakan Jodoh untuk Ketenangan
Allah berfirman:
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kamu rasa kasih dan sayang." (QS. Ar-Rum: 21)
Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan menikah bukan hanya kebersamaan, tetapi ketenangan jiwa, saling menguatkan, dan tumbuhnya kasih sayang yang diridhai Allah.
Hadits: Menikah adalah Sunnah Rasulullah
"Apabila telah mampu, maka menikahlah." (HR. Bukhari dan Muslim)
Islam mendorong umatnya untuk menikah karena pernikahan menjaga kehormatan, menuntun hati, serta membuka jalan kebaikan dunia–akhirat.
Dan ketika seseorang menikah dengan pasangan yang kuat agamanya, ia telah meletakkan pondasi kokoh untuk masa depan dirinya, anak-anaknya, hingga cucunya. Semua terbina dalam agama, berada dalam lindungan Allah, dan di akhirat pun masih saling berkumpul.
Hadits: Keluarga Kumpul Kembali di Surga
إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ الْجَنَّةَ سَأَلَ عَنْ أَبَوَيْهِ وَزَوْجَتِهِ وَوَلَدِهِ، فَيُقَالُ إِنَّهُمْ لَمْ يَبْلُغُوْا دَرَجَتَكَ،
فَيَقُولُ : يَا رَبِّ قَدْ عَمِلْتُ لِي وَلَهُمْ، فَيُؤْمَرُ بِالْحَاقِهِمْ بِهِ.
— رواه الطبراني
Artinya: “Ketika seorang laki-laki masuk surga, ia bertanya tentang kedua orang tuanya, istrinya, dan anaknya. Lalu dikatakan kepadanya: ‘Mereka tidak berada pada derajatmu.’ Maka ia berkata: ‘Wahai Tuhanku, aku telah beramal untuk diriku dan keluarga-ku.’ Lalu diperintahkan agar keluarga itu menyusulnya.”
Hadits ini adalah harapan besar bagi setiap keluarga beriman: jika taat bersama, maka surga pun bisa diraih bersama.
Upaya Generasi Usia Nikah: Sebelum Menikah
Untuk mewujudkan rumah tangga yang sejahtera dunia dan akhirat, generasi usia nikah – baik laki-laki maupun perempuan – perlu melakukan usaha lahir dan batin.
1. Memilih Pasangan yang Baik
Usaha Lahiriyah
- Meneliti dan mencari tahu keadaan calon pasangan, terutama dalam sisi agama dan akhlak.
- Mengutamakan calon yang paham agama tanpa mengabaikan sisi lain.
- Menyesuaikan keadaan diri dan keluarga (kufu').
- Mendapatkan restu dari orang tua demi kemudahan dan keberkahan.
Usaha Batin
- Memperbanyak ibadah dan amalan baik agar Allah memberi jodoh terbaik.
- Sholat istikharah dan sholat hajat secara rutin.
- Berdoa sungguh-sungguh pada waktu mustajab.
- Memohon doa kepada orang tua dan orang-orang shaleh.
2. Mempersiapkan Diri
Persiapan fisik, mental, dan agama sangat penting. Mental harus kuat, tidak mudah patah semangat, tidak gampang mengeluh. Bekal agama dan pemahaman jamaah akan menjadi pegangan dalam mendidik anak sampai mereka dewasa dan tetap berada di jalan yang benar.
3. Menjaga Kehormatan Sebelum Menikah
Jangan menodai pernikahan dengan pelanggaran apa pun sebelum akad. Jagalah diri agar pernikahan menjadi bersih, sakral, dan penuh keberkahan.
4. Menikah Sesuai Proses Syari
Mengikuti tata cara pernikahan Islam akan membawa ketenangan dan keberkahan.
5. Niat yang Lurus
Niatkan menikah untuk beribadah, mengikuti sunnah Nabi, menghindari maksiat, dan mencetak generasi terbaik.
Upaya Setelah Menikah
1. Bersyukur
- Menerima takdir pernikahan dan kondisinya.
- Positive thinking terhadap semua ketentuan Allah.
- Yakin semua qadar Allah adalah yang terbaik.
2. Membangun Komitmen Bersama
Inilah fondasi rumah tangga yang kokoh dan langgeng:
- Saling mencintai dan menyayangi.
- Saling memahami perbedaan karakter.
- Saling menerima kekurangan dan kelebihan.
- Saling membutuhkan dan melengkapi.
- Saling menasihati dan mengingatkan.
- Saling menghormati dan menghargai.
- Saling menolong dalam kesibukan.
- Saling memaklumi ketidaksengajaan.
- Saling mengalah ketika muncul perselisihan.
- Saling memaafkan dan melupakan kesalahan.
- Saling menjaga kepercayaan.
- Saling menjaga kewajiban agama.
- Saling menjaga rahasia rumah tangga.
- Saling peduli dan tidak egois.
- Saling terbuka, membangun komunikasi intens.
- Saling introspeksi diri.
- Saling menggandeng tangan dalam suka dan duka.
Menikah adalah perjalanan panjang yang penuh perjuangan, tapi dengan iman, ilmu, kesabaran, dan saling mendukung, pernikahan dapat menjadi sumber kebahagiaan yang tak putus dari dunia hingga akhirat.
Semoga Allah memberi kita keluarga yang sakinah, penuh cinta, dan membawa kita berkumpul kembali di surga-Nya. Aamiin.
