
TANGERANG SELATAN. Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern yang serba terukur, sebuah dzikir sederhana namun mendalam hadir sebagai penawar dahaga spiritual, mengajarkan cara "menghitung" tanpa terpaku pada angka, melainkan pada makna yang tak terhingga.
Dzikir Juwairiyah: Lautan Makna dalam Untaian Kata
Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan kepada istrinya, Juwairiyah binti al-Ḥārith, sebuah dzikir yang melampaui perhitungan matematis:
“Subḥānallāhi wa biḥamdihi, ʿadada khalqihi, wa riḍā nafsihi, wa zinata ʿarsyihi, wa midāda kalimātihi.”
Dzikir ini, yang berarti "Mahasuci Allah, aku memuji-Nya sebanyak jumlah makhluk-Nya, sesuai keridhaan-Nya, seberat timbangan Arasy-Nya, dan sebanyak tinta yang menulis kalimat-kalimat-Nya," mengandung pelajaran mendalam tentang bagaimana manusia menempatkan diri di hadapan kebesaran Tuhan.
Kisah di Balik Dzikir yang Agung
Kisah tentang dzikir ini diriwayatkan dalam hadits Muslim:
Dari Juwairiyah sesungguhnya Nabi ﷺ keluar dari sisinya pada pagi hari ketika beliau selesai shalat Subuh, sedangkan Juwairiyah sedang duduk di tempat shalatnya. Ketika Nabi ﷺ kembali setelah waktu dhuha, beliau mendapati Juwairiyah masih duduk di tempat yang sama. Maka beliau bertanya: “Masihkah engkau duduk (berdzikir) di tempatmu seperti ketika aku meninggalkanmu tadi?” Ia menjawab: “Ya.” Maka Nabi ﷺ bersabda: “Sungguh aku telah mengucapkan setelahmu empat kalimat sebanyak tiga kali; seandainya ditimbang dengan apa yang engkau ucapkan sejak pagi, niscaya akan sebanding dengan semuanya.” Yaitu: “Subḥānallāhi wa biḥamdihi, ʿadada khalqihi, wa riḍā nafsihi, wa zinata ʿarsyihi, wa midāda kalimātihi.” (HR Muslim)
Makna Mendalam di Setiap Untaian Kata
Dzikir ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang membawa kita pada kesadaran mendalam:
* Subḥānallāhi wa biḥamdihi — Ketika Puji Menjadi Kesadaran: Mengakui kefakiran diri dan mengagumi kebesaran Allah, menyucikan-Nya dari segala kekurangan dan memuji-Nya atas segala kesempurnaan.
* Adada khalqihi — Mengingat Sebanyak Ciptaan-Nya: Melepaskan diri dari batas angka, menyadari bahwa ciptaan Allah tak terhingga, dari bintang terjauh hingga debu di jari.
* Wa riḍā nafsihi — Ridha yang Menenangkan: Menerima aliran kehidupan dengan kesadaran penuh bahwa segala sesuatu berjalan dalam rancangan kasih sayang Allah.
* Wa zinata ʿarsyihi — Seberat Timbangan Arasy-Nya: Mengakui bahwa sekalipun kita memuji Allah dengan seluruh berat semesta, itu tidak akan pernah cukup.
* Wa midāda kalimātihi — Sebanyak Tinta Kalimat-Nya: Menyadari keterbatasan bahasa manusia dalam memahami keagungan Allah, sehingga yang tersisa hanyalah rasa kagum dan tunduk.
Menemukan Ketenangan di Tengah Keresahan
Di tengah zaman yang penuh keluh kesah, dzikir ini hadir sebagai oase penyejuk jiwa. Ia mengajak kita untuk berhitung dengan rasa, bukan dengan angka, karena pujian sejati tidak diukur oleh jumlah, melainkan oleh kedalaman makna.
Semoga hati kita yang resah perlahan menemukan ketenangan dalam ridha-Nya, seperti laut yang berhenti berdebur ketika seluruh tinta telah menjadi dzikir.