Dialog Kebangsaan Surabaya: LDII Dorong Toleransi dan Moderasi untuk Harmoni Global

Surabaya. Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kota Surabaya menggelar Dialog Kebangsaan untuk memperkuat toleransi dan moderasi beragama, sebagai fondasi mewujudkan harmoni global. Acara ini berlangsung di Gedung Serba Guna (GSG) Sabilurrosyidin, Surabaya.

MUI Surabaya Tekankan Pentingnya Iman, Ilmu, dan Akhlak

Sekretaris MUI Kota Surabaya, Muhaimin Ali, menyoroti pentingnya iman sebagai landasan utama dalam kehidupan seorang muslim.

“Iman itu pondasi utama dalam hidup seorang muslim. Kalau imannya kokoh, dia nggak mudah terjerumus dalam hal-hal yang salah saat diberi kesuksesan, dan juga nggak gampang putus asa ketika menghadapi ujian,” ujar Muhaimin Ali.

Muhaimin menambahkan, LDII telah membuktikan ketangguhannya dalam menghadapi berbagai tantangan zaman. Selain iman, ia juga menekankan pentingnya ilmu dan akhlak.

“Kesuksesan itu tidak datang begitu saja. Semua butuh ilmu. Mau bahagia di dunia atau akhirat, ya kuncinya tetap ilmu. Ilmu dan akhlak berjalan beriringan. Akhlak yang baik menjadi cerminan moral dan budaya masyarakat. Apalagi kita tinggal di Surabaya, kota yang majemuk dan multikultural. Jadi budi pekerti dan akhlak yang mulia sangat dibutuhkan agar kita bisa hidup berdampingan dengan damai,” tambahnya.

Persatuan adalah Rahmat, Perpecahan adalah Azab

Muhaimin juga mengingatkan tentang pentingnya persatuan (ittihad) dalam kehidupan berbangsa, mengutip ajaran Islam yang menekankan kebersamaan.

“Islam itu mengajarkan umatnya untuk bersatu, bukan berpecah belah. Bersatu itu rahmat, berpecah itu azab. Di kota besar seperti Surabaya, yang penduduknya beragam, kita harus saling menghormati dan tolong-menolong supaya tetap hidup harmonis,” jelasnya.

Bakesbangpol Surabaya: Moderasi Beragama Bukan Memoderasi Agama

Kepala Bakesbangpol Kota Surabaya, Tundjung Iswandaru, menegaskan pentingnya toleransi dan moderasi di tengah konflik sosial dan keagamaan global.

“Indonesia ini negara yang majemuk. Justru karena itu, kita punya tanggung jawab besar untuk menebarkan harmoni dan perdamaian,” ujarnya.

Tundjung menjelaskan bahwa negara menjamin kebebasan beragama, namun masyarakat diharapkan menghormati konstitusi. Ia meluruskan kesalahpahaman tentang moderasi beragama.

“Yang perlu dimoderasi itu bukan agamanya, tapi cara umat menjalankan ajarannya. Agama itu sendiri sudah mengajarkan keseimbangan dan keadilan. Moderasi berarti bersikap tengah-tengah, tidak ekstrem kanan atau kiri,” jelasnya.

Ia menyebut empat indikator moderasi beragama: komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan, dan sikap akomodatif terhadap budaya lokal.

LDII Surabaya Tegaskan Komitmen Kebangsaan Sejak 1972

Wakil Ketua DPD LDII Surabaya, Khamim Tohari, menegaskan komitmen kuat LDII terhadap nilai-nilai kebangsaan sejak awal berdirinya.

“Komitmen terhadap Pancasila dan UUD masih kami pegang teguh sampai sekarang. Itu terlihat dari semangat kebangsaan LDII ysng benar-benar diwujudkan lewat berbagai kegiatan di seluruh daerah. Konsep tentang Pancasila kami turunkan ke seluruh jajaran LDII. Kami ingin nilai-nilai Pancasila hidup dan terasa dalam setiap kegiatan serta kontribusi kami untuk bangsa,” katanya.

Ia menambahkan, Pancasila adalah fondasi persatuan bangsa.

“Kalau tidak punya pondasi yang kuat, kita bisa tercerai-berai. Kalau bingkainya nggak jelas, kita bakal kehilangan arah. Dan kalau semangat kemanusiaan hilang, ya kita bisa kehilangan keadaban juga,” tutupnya.

Lebih baru Lebih lama