LDII Jateng Ingatkan Pentingnya Peran Keluarga Sebagai Pendidik Utama

Semarang (28/12). DPW LDII Jawa Tengah melalui Biro Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Keluarga (PPKK) menggelar webinar nasional bertema ‘Pemberdayaan Keluarga dalam Mencetak Generasi Penerus yang Unggul’ pada Sabtu (24/12). Menurut, Ketua Umum Ketua Umum Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini (Himpaudi) Netti Herawati, peran orangtua dan keluarga sekitarnya sangat penting dalam 1.000 hari pertama kehidupan anak.

Menurutnya, keluarga berkualitas ialah yang memahami secara holistik pesan Allah dan menggunakannya dalam menumbuhkembangkan dan mendidik anak, “Artinya sebelum melihat konsep yang ada di dunia terkait bagaimana cara mengasuh dan mengembangkan anak-anak di 1.000 HPK bisa dipelajari terlebih dahulu dari bagaimana Rasullullah SAW mencontohkannya,” ujar Netti yang juga pengurus Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Keluarga (PPKK) DPP LDII.

Dari peraturan negara, Netti mengatakan bahwa sebenarnya LDII sudah sejalan dengan mengutamakan nilai agama dan moral sebagaimana, yang ada dalam target pembinaan Tri Sukses Generus yakni Alim Faqih, berakhlakul karimah dan mandiri.

“Tidak banyak negara di dunia ini yang meletakkan nilai moral dan agama sebagai tujuan pendidikan, karena mereka menganggap bahwa agama itu urusan domestik yang tidak boleh diatur oleh negara. Untuk itu, bagi keluarga LDII adalah belajarlah tentang pendidikan, jangan kepada negara yang tidak meletakkan nilai moral dan agama sebagai tujuan pendidikan,” paparnya.

Selanjutnya, Netti menjelaskan secara umum ada lima hal yang harus dipenuhi untuk menjadikan keluarga yang berkualitas dan bergenerasi unggul. Tak hanya orangtua namun keluarga sekitarnya juga harus memahami kebutuhan essensial ini. “Di antaranya adalah pendidikan, pengasuhan, gizi dan kesahatan, perlindungan dan kesejahteraan,” tambahnya.

Pendidikan, lanjutnya, menjadi yang utama karena janin mampu merekam sejak dalam kandungan. Untuk itu, ia mengajak agar para orang tua dan keluarga yang berada di dekat janin supaya menjadi guru yang baik, dan menyarankan membuatkan kurikulum trimester pertama kehamilan. “Terutama bagi ibu yang selama 9 bulan terus menempel dengan janinya, karena tidak ada pendidikan yang sehebat masa janin,” katanya.

Dalam memahami peran 1.000 hari perkembangan kehamilan perlu mengetahui tahapan perkembangan janin, di mulai sejak fase janin berusia 0-4 bulan, yang merupakan fase luar biasa di mana roh ditiupkan kepada janin, “Untuk itu, calon ibu supaya segera memeriksa kehamilan, sehingga ketika kehamilan sudah diketahui, bisa didoakan sebanyak mungkin agar saat ruh ditiupkan harapannya anak mendapatkan qodar yang baik,” ujarnya.

Bahkan secara ilmu neurosains, Netti menjelaskan, janin sudah menggunakan saraf pengecap dan penciuman, “Oleh karena itu ibu hamil perlu mengatur pola makan yang baik, karena pada saat pola makan baik itu akan membuat bayi memiliki pola yang sama dengan ibunya, begitu juga dengan kebersihan,” kata Netti.

Sama halnya dengan saraf pendengaran janin, sebuah riset menjelaskan bahwa suara ibu adalah bunyi yang paling dominan didengar janin sehingga ketika saat anak sudah lahir dan diperdengarkan sesuatu membuatnya langsung bereaksi, “Alangkah baiknya bagi ibu hamil bisa memiliki niat minimal sekali bisa menghatamkan Al-Quran sebagai pendengaran yang baik untuk janin,” tuturnya.

“Karena masa janin usia 0-4 bulan masa yang paling krusial dari 1000 HPK, maka penting bagi calon ibu dan keluarga sekitar untuk memastikan nutrisi dalam makanannya, kebahagiannya, melakukan kegiatan menstimulasi kehamilannya dan perilaku yang positif,” tambahnya.