Ken Sudarti Guru Besar yang Baru Dilantik itu Ternyata Warga LDII Semarang

Semarang (20/12). Rektor Universitas Sultan Agung (Unissula) Semarang Prof Gunarto secara resmi mengukuhkan dua guru besar baru di Fakultas Ekonomi (FE), pada Selasa (20/12). Satu diantaranya adalah Ken Sudarti ke-10 Fakultas Ekonomi serta guru besar ke-ke-27 di Unissula Semarang secara keseluruhan.

Surat Keputusan (SK) Ken Sudarti sebagai guru besar bidang ilmu manajemen ditandatangani Mendikbud, dan diserahkan pada 9 November 2022 oleh Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) wilayah VI Bhimo Widyo Andoko. Saat pengukuhan, Ken Sudarti menyampaikan Kuliah Ilmiah bertajuk “Co-creation of Religius Value: Metode Memanfaatkan Peran “People” untuk Mencapai Kinerja Pemasaran Layanan Unggul”.

Ken Sudarti yang juga warga LDII Semarang itu mengatakan, untuk mencapai kinerja unggul, organisasi harus memiliki keunggulan bersaing berkelanjutan. Pernyataan ini sesuai dengan pandangan Resource Based View Theory yang dikemukakan oleh (Barney & Wright, 1998). 

Penelitiannya terkait peran “people” atau frontliners dalam proses delivering value di industri jasa berbasis religi, bermula dari keprihatinannya terhadap perkembangan salah satu industri jasa yaitu asuransi syariah yang belum optimal.

“Hal ini sangat disayangkan mengingat mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim. Bagi seorang muslim, mengkonsumsi layanan halal wajib hukumnya. Memprioritaskan kebahagiaan dunia dengan ukuran materiil ketika memilih jasa asuransi dan mengabaikan kebahagiaan akhirat seharusnya tidak terjadi,” ujarnya.

Namun, lanjutnya, data menunjukkan, bahwa asuransi konvensional masih menjadi pertimbangan ketika memilih produk asuransi. “Gap ini terjadi diduga karena asuransi syariah belum optimal dalam memberikan service value. Dan bagian dari organisasi yang paling dekat terkait delivering value adalah salesman,” tambahnya.

Oleh karena itu, studi tentang bagaimana meningkatkan kapabilitas salesman dalam proses delivering value masih menarik untuk dilakukan. Religious values yang melekat pada produk syariah seharusnya melekat dan tercermin pada diri salesman di setiap tahapan input, proses dan output terkait delivering value. 

“Jika hal ini dapat diwujudkan, maka keunikan yang melekat pada salesman akan menjadi basis diferensiasi yang unik dan tidak mudah ditiru untuk menciptakan kinerja pemasaran jasa unggul,” ungkapnya.

 

https://www.ldiisampit.or.id/2021/10/ldii-artinya-lembaga-dakwah-islam.html

Teori ini, lanjutnya, mendalilkan bahwa organisasi dikatakan memiliki keunggulan kompetitif berkelanjutan, ketika memiliki sumberdaya bernilai, unik, langka  dan tidak mudah ditiru. Keunggulan bersaing berkelanjutan dapat    dan harus dimiliki oleh semua jenis perusahaan termasuk perusahaan jasa. 

“Akan tetapi keunikan nilai sumberdaya yang dikemukakan Barney masih berujung pada keunggulan duniawi, dan belum mempertimbangkan nilai agama sebagai sumberdaya terbaik menuju keselamatan dunia akhirat,” paparnya.

Menurutnya, Value co-creation yang bernilai religius adalah penciptaan nilai yang berkaitan dengan nilai-nilai agama. Religious Value co-Creation (RVCC) adalah kreasi nilai yang holistik. Nilai yang diperoleh dari agama berkaitan dengan komitmen keagamaannya. Komitmen religius menunjukkan sejauh mana seseorang meyakini nilai-nilai agamanya dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Nilai-nilai agama dijadikan pisau analisis dalam konsep RVCC berdasarkan pemikiran bahwa agama menentukan cara manusia dalam memahami tujuan hidup dan tanggungjawab terhadap diri sendiri, orang lain dan Tuhan,” ungkapnya.

Untuk organisasi yang menawarkan produk dengan basis religi, diferensiasi ini mendesak untuk diciptakan. “Jika tidak, maka kata-kata “syariah” yang seharusnya menjadi nilai diri dan nilai organisasi, hanya selesai pada tataran labeling saja,” ungkap Ken Sudarti.

Di akhir pidatonya, wanita kelahiran Semarang itu menyampaikan rasa syukurnya kepada orang tua yaitu Masrum Wiryoputranto dan Sularti (alm) serta Sri Suhartiti yang telah berjuang, mendidik dan mendoakannya, “Sehingga saya menjadi manusia yang berguna bagi umat,” urainya.

Sebelumnya warga LDII Singgih Tri Sulistiyono lebih dahulu menjadi guru besar pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro Semarang. Selain aktif sebagai akademisi, Singgih termasuk salah satu Ketua DPP Lembaga Dakwah Islam Indonesia periode saat ini. (Lines)