Menghiasi Ilmu dengan Budi Pekerti

 

Menghiasi Ilmu dengan Budi Pekerti

Alquran turun kepada orang yang mulia ( Muhammad SAW), diturunkan melalui Malaikat yang mulia (Jibril AS), di bulan yang mulia (Ramadhan), di malam yang mulia ( Lailatul Qodr), karenanya bagi yang membaca, menghafal, memahami dan mengamalkannya selayaknya menjadi manusia yang mulia. 

Mereka, para 'alim hendaklah tidak hanya berkutat pada memperkaya diri dengan ilmu agama saja,  namun juga memperhatikan adab. Karena ilmu agama selalu bersanding dengan akhlak mulia. Bagi yang telah mengaji, syaithan lebih mengincar akhlak bukan aqidah.

طالب العلم : إذا لم يتحل بالأخلاق الفاضلة فإن طلبه للعلم لا فائدة فيه

“Seorang penuntut ilmu, jika tidak menghiasi diri dengan akhlak yang mulia, maka tidak ada faedah menuntut ilmunya.”  Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin

Demikian telah dikerjakan para ulama sholih sejak dulu. Mengedepankan adab dan akhlak dalam siar kepada umat. Dakwah mereka dihiasi dengan unggah-ungguh, tata krama, papan empan adhepan. Seperti padi, makin berisi makin merunduk.

Saat engkau sendiri, kuasai pikiran-pikiranmu. Saat engkau bersama manusia kuasai lisanmu dan saat engkau sukses kuasai keangkuhanmu.

Agar tak tergelincir pada kesombongan sebagai ulama melalui bujuk rayu syaithan, para ulama sholih menempatkan adab/budi pekerti pada prioritas teratas.

Abdullah ibn Mubarak berkata, “Saya mempelajari adab selama tiga puluh tahun dan saya mempelajari ilmu agama selama dua puluh tahun, dan mereka (para ulama sholih) memulai pelajaran mereka dengan mempelajari adab terlebih dahulu kemudian baru ilmu”.

Berperilaku baik - akhlakulkarimah - bagi muslim bukan hanya sekedar peran. Lebih dari itu, akhlakulkarimah wajib dimiliki tiap diri muslim yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat. 


Mendapat jaminan rumah di surga

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aku akan menjamin rumah di tepi surga bagi seseorang yang meninggalkan perdebatan meskipun benar. Aku juga menjamin rumah di tengah surga bagi seseorang yang meninggalkan kedustaan meskipun bershifat gurau, Dan aku juga menjamin rumah di syurga yang paling tinggi bagi seseorang yang berakhlak baik." HR Abu Dawud


Mendapat tempat duduk dekat Rasulullah di surga.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya di antara orang yang paling aku cintai dan yang tempat duduknya lebih dekat kepadaku pada hari kiamat ialah orang yang akhlaknya paling bagus. Dan sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh tempat duduknya dariku pada hari kiamat ialah orang yang paling banyak bicara (kata-kata tidak bermanfaat dan memperolok manusia)." Para shahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling banyak bicara itu?" Nabi menjawab: "Yaitu orang-orang yang sombong."  HR Tirmidzi


Berat dalam timbangan

"Tidak ada yang lebih berat dalam timbangan amal selain akhlak yang baik." HR Abu Dawud


Mengikuti sunah Rasullullah

Keberhasilan perjuangan Rosululloh dalam berdakwah pun tidak lepas dari hal tersebut. Keluhuran budi pekerti Rosulullah bergaung di seluruh penjuru jazirah arab, manakala orang - orang ditanya perihal beliau, tentulah mereka menyampaikan kekaguman atas mulianya kepribadian Rosululloh.

Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam, 

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَقِ

Innama buistu liutammima makarimal akhlak

Artinya: "Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Al-Baihaqi).

Sudah barang tentu makarimal akhlak mutlak menjadi bagian pribadi muslim. Perilaku baik yang dilakukan secara terus-menerus, konsisten, dan berkesinambungan akan membentuk tabiat, sikap dan jati diri. 

Pembentukan sikap yang paling efektif adalah melalui pengalaman sendiri. Para pakar berusaha mengetahui sampai seberapa jauh perilaku dapat mempengaruhi terbentuknya sikap. Sebagaimana sikap dapat berpengaruh pada perilaku, sebaliknya perilaku pun juga dapat membentuk sikap karena perilaku adalah pengalaman yang paling langsung pada diri seseorang.


1 Komentar