Webinar Kebangsaan LDII, Ketua PB NU: Budaya Indonesia itu Rukun dan hakikatnya Islam adalah Toleran

webinar kebangsaan ldii


Jakarta (24/8). Islam pada dasarnya toleran, moderat, dan menerima kemajemukan. Hal itu dikemukakan Ketua Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Fachrur Rozi pada webinar bertajuk “Beragama dalam Bingkai Kebangsaan untuk Merawat dan Menjaga Keutuhan Bangsa”, secara hybrid dengan studio utama di Aula Serbaguna Kantor DPP LDII, Jakarta, diikuti 2.600 peserta yang berkumpul di 265 titik studio mini.

Ia menyampaikan, budaya Indonesia itu rukun dan hakikatnya Islam adalah toleran. “Budaya kita itu rukun, baik, dan Islam pada dasarnya toleran. Kita bisa lihat di Indonesia kalau hari raya Paskah, Natal, atau apapun, simbol-simbol agama itu berkibar penuh. Sementara saya pernah hari raya di Amerika tidak ada sekalipun gambar ketupat, masjid bahkan salatnya pun di hari esoknya karena saat itu tidak libur,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, pria yang akrab disapa Gus Rozi itu juga bercerita di negara yang mayoritas Islam pun tetap bertoleransi. “Saya pernah ke Muscat, Oman, negara yang 100 persen muslim dan saya tinggal di sana dua hari. Pada saat itu hari raya Paskah dan terdapat banyak ornamen Paskah seperti telur, kelinci, rumah salju, dan saya bilang itu luar biasa toleran,” ungkapnya.

Kemudian Gus Rozi menegaskan, oknum-oknum yang membuat gesekan perbedaan penafsiran atau paham-paham tidak toleran supaya dimoderasi. “Islam itu pada dasarnya moderat, cuma sayangnya ada mungkin oknum yang membuat gesekan-gesekan perbedaan penafsiran, pemahaman ini harus kita moderasi. Saya bersyukur LDII sudah menerima kita, yang dulu masih ada sekat-sekat, sekarang ada paradigma baru,” ujarnya.

Tidak hanya itu, Gus Rozi juga mengatakan, memegang kebenaran itu sebuah keharusan, namun tetap tidak boleh merasa paling benar. “Kita tidak boleh merasa paling benar, paling suci, dan menjadi hakim kebenaran pada orang lain. Paham inilah yang harus kita waspadai jangan sampai berkembang di masyarakat,” ucapnya.

Ia menambahkan bahwa sesama ormas Islam supaya saling rukun dan menghargai. “Islam mengajarkan persaudaraan bahkan dengan agama lain. Kita ini negara yang majemuk keberagamaan bahasa, adat istiadat, harusnya kita mempunyai kesadaran yang lebih baik, saling menghargai satu sama lain,” ujarnya.

Gus Rozi mengajak seluruh ormas untuk berkoalisi bersama, tidak saling mencela sesama umat Islam. “Era pertandingan, kompetisi harus kita akhiri. Kita sudah masuk era koalisi, berjalan bareng, berteman bersama, dan kita bisa masuk surga bersama-sama,” pungkasnya. (Laily/FS LINES).

0 Komentar